Ada seorang pemuda Arab yang baru selesai pengajiannya di Amerika. Pemuda ini adalah salah seorang yang diberi nikmat oleh Allah berupapendidikan agama Islam bahkan dia mampu mendalaminya. Selain belajar, dia juga
seorang jurudakwah Islam.
Ketika berada di Amerika, dia berkenalan dengan salah seorang Nasrani. Hubungan mereka semakin akrab, dengan harapan semoga Allah s.w.t. memberinya hidayah masuk Islam
Pada suatu hari mereka berdua berjalan-jalan di sebuah perkampungan di Amerika dan melintas dekat sebuah gereja yang terdapat di kampung tersebut. Temannya itu meminta agar dia turut masuk ke dalam gereja. Mula-mula dia keberatan, namun kerana desakan akhirnya pemuda itu pun memenuhi permintaannya lalu ikut masuk ke dalam gereja dan duduk di salah satu bangku dengan hening, sebagaimana kebiasaan mereka.
Ketika paderi masuk, mereka serentak berdiri untuk memberikan penghormatan lantas kembali duduk. Di saat itu, si paderi agak terkejut ketika melihat kepada para hadirin dan berkata, "Di tengah kita ada seorang Muslim. Aku harap dia keluar dari sini."
Pemuda Arab itu tidak bergerak dari tempatnya. Paderi tersebut mengucapkan perkataan itu berkali-kali, namun dia tetap tidak bergerak dari tempatnya. Hingga akhirnya paderi itu berkata, "Aku minta dia keluar dari sini dan
aku menjamin keselamatannya. " Barulah pemuda ini beranjak keluar.
Di ambang pintu, pemuda bertanya kepada sang paderi,"Bagaimana anda tahu bahawa saya seorang Muslim?" Paderi itu menjawab, "Dari tanda yang terdapat diwajahmu."
Kemudian dia beranjak hendak keluar. Namun, paderi ingin memanfaatkan kehadiran pemuda ini dengan mengajukan beberapa pertanyaan, tujuannya untuk memalukan pemuda tersebut dan sekaligus mengukuhkan agamanya. Pemuda
Muslim itupun menerima pelawaan debat tersebut.
Paderi berkata, "Aku akan mengajukan kepada anda 22 pertanyaan dan anda harus menjawabnya dengan tepat."
Si pemuda tersenyum dan berkata, "Silakan!"
Si Paderi pun mulai bertanya,
"Sebutkan satu yang tiada duanya,
dua yang tiada tiganya,
tiga yang tiada empatnya,
empat yang tiada limanya,
lima yang tiada enamnya,
enam yang tiada tujuhnya,
tujuh yang tiada lapannya,
lapan yang tiada sembilannya,
sembilan yang tiada sepuluhnya,
sesuatu yang tidak lebih dari sepuluh,
sebelas yang tiada dua belasnya,
dua belas yang tiada tiga belasnya,
tiga belas yang tiada empat belasnya.."
"Sebutkan sesuatu yang dapat bernafas namun tidak mempunyai ruh!
Apa yang dimaksud dengan kubur berjalan membawa isinya?
Siapakah yang berdusta namun masuk ke dalam syurga?
Sebutkan sesuatu yang diciptakan Allah namun Dia tidak menyukainya?
Sebutkan sesuatu yang diciptakan Allah dengan tanpa ayah dan ibu!"
"Siapakah yang tercipta dari api, siapakah yang diazab dengan api dan
siapakah yang terpelihara dari api?
Siapakah yang tercipta dari batu, siapakah yang diazab dengan batu dan siapakah yang terpelihara dari batu?"
"Sebutkan sesuatu yang diciptakan Allah dan dianggap besar!
Pohon apakah yang mempunyai 12 ranting, setiap ranting mempunyai 30 daun, setiap daun
mempunyai 5 buah, 3 di bawah naungan dan dua di bawah sinaran matahari?"
Mendengar pertanyaan tersebut, pemuda itu tersenyum dengan keyakinan
kepada Allah. Setelah membaca "Bismillah.. ." dia berkata,
#Satu yang tiada duanya ialah Allah s.w.t...
#Dua yang tiada tiganya ialah Malam dan Siang. Allah s.w.t. berfirman,
"Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda (kebesaran kami)."
(Al-Isra': 12).
#Tiga yang tiada empatnya adalah kesilapan yang dilakukan Nabi Musa ketika
Nabi Khidir menenggelamkan sampan, membunuh seorang anak kecil dan ketika
menegakkan kembali dinding yang hampir roboh.
#Empat yang tiada limanya adalah Taurat, Injil, Zabur dan al-Qur'an.
#Lima yang tiada enamnya ialah Solat lima waktu.
#Enam yang tiada tujuhnya ialah jumlah Hari ketika Allah s.w.t.
menciptakan makhluk.
#Tujuh yang tiada lapannya ialah Langit yang tujuh lapis. Allah s.w.t.
berfirman, "Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu
sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Rabb Yang Maha Pemurah sesuatu yang
tidak seimbang." (Al-Mulk: 3).
#Lapan yang tiada sembilannya ialah Malaikat pemikul Arsy ar-Rahman. Allah
s.w..t. berfirman, "Dan malaikat-malaikat berada di penjuru-penjuru langit.
Dan pada hari itu lapan orang malaikat menjunjung 'Arsy Rabbmu di atas
(kepala) mereka." (Al-Haqah: 17).
#Sembilan yang tiada sepuluhnya adalah mukjizat yang diberikan kepada Nabi
Musa iaitu: tongkat, tangan yang bercahaya, angin taufan, katak, darah,
kutu dan belalang.
-Sesuatu yang tidak lebih dari sepuluh ialah Kebaikan. Allah s.w.t.
berfirman, "Barang siapa yang berbuat kebaikan maka untuknya sepuluh kali
ganda." (Al-An'am: 160).
#Sebelas yang tiada dua belasnya ialah jumlah Saudara-SaudaraNabi Yusuf.
#Dua belas yang tiada tiga belasnya ialah Mukjizat Nabi Musa yang terdapat
dalam firman Allah, "Dan (ingatlah) ketika Musa memohon air untuk kaumnya,
lalu Kami berfirman, "Pukullah batu itu dengan tongkatmu." Lalu
memancarlah daripadanya dua belas mata air." (Al-Baqarah: 60).
#Tiga belas yang tiada empat belasnya ialah jumlah SaudaraNabi Yusuf
ditambah dengan ayah dan ibunya.
-Adapun sesuatu yang bernafas namun tidak mempunyai ruh adalah waktu
Subuh. Allah s.w.t. berfirman, "Dan waktu subuh apabila fajarnya mulai
menyingsing. " (At-Takwir: 18).
-Kubur yang membawa isinya adalah Ikan yang menelan Nabi Yunus AS.
-Mereka yang berdusta namun masuk ke dalam syurga adalah saudara-saudara
Nabi Yusuf, yakni ketika mereka berkata kepada ayahnya, "Wahai ayah kami,
sesungguhnya kami pergi berlumba-lumba dan kami tinggalkan Yusuf di dekat
barang-barang kami, lalu dia dimakan serigala.." Setelah kedustaan
terungkap, Yusuf berkata kepada mereka, "Tak ada cercaan terhadap kamu
semua." Dan ayah mereka Ya'qub berkata, "Aku akan memohonkan ampun bagimu
kepada Rabbku. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang." (Yusuf:98)
-Sesuatu yang diciptakan Allah namun tidak Dia sukai adalah suara Keldai.
Allah s.w.t. berfirman, "Sesungguhnya sejelek-jelek suara adalah suara
keldai." (Luqman: 19).
-Makhluk yang diciptakan Allah tanpa bapa dan ibu adalah Nabi Adam,
Malaikat, Unta Nabi Soleh dan Kambing Nabi Ibrahim.
-Makhluk yang diciptakan dari api adalah Iblis, yang diazab dengan api
ialah Abu Jahal dan yang terpelihara dari api adalah Nabi Ibrahim.. Allah
s.w.t. berfirman, "Wahai api dinginlah dan selamatkan Ibrahim."
(Al-Anbiya': 69).
-Makhluk yang terbuat dari batu adalah Unta Nabi Soleh, yang diazab dengan
batu adalah tentara bergajah dan yang terpelihara dari batu adalah Ashabul
Kahfi (penghuni gua).
-Sesuatu yang diciptakan Allah dan dianggap perkara besar adalah Tipu Daya
Wanita, sebagaimana firman Allah s.w.t. "Sesungguhnya tipu daya kaum
wanita itu sangatlah besar." (Yusuf: 28).
-Adapun pohon yang memiliki 12 ranting setiap ranting mempunyai 30 daun,
setiap daun mempunyai 5 buah, 3 di bawah teduhan dan dua di bawah sinaran
matahari maknanya: Pohon adalah Tahun, Ranting adalah Bulan, Daun adalah
Hari dan Buahnya adalah Solat yang lima waktu, Tiga dikerjakan di malam
hari dan Dua di siang hari.
Paderi dan para hadirin merasa takjub mendengar jawapan pemuda Muslim
tersebut. Kemudian dia pun mula hendak pergi. Namun dia menghentikan
niatnya dan meminta kepada paderi agar menjawab satu pertanyaan saja.
Permintaan ini disetujui oleh paderi.
Pemuda ini berkata, "Apakah kunci syurga itu?"
Mendengar pertanyaan itu lidah paderi menjadi kelu, hatinya diselimuti
keraguan dan rupa wajahnya pun berubah. Dia berusaha menyembunyikan
kekuatirannya, namun tidak berhasil. Orang-orang yang hadir di gereja itu
terus mendesaknya agar menjawab pertanyaan tersebut, namun dia cuba
mengelak.
Mereka berkata, "Anda telah memberikan 22 pertanyaan kepadanya dan
semuanya dia jawab, sementara dia hanya memberi cuma satu pertanyaan namun
anda tidak mampu menjawabnya! "
Paderi tersebut berkata, "Sesungguh aku tahu jawapannya, namun aku takut
kamu marah."
Mereka menjawab, "Kami akan jamin keselamatan anda. "
Paderi pun berkata, "Jawapannya ialah: Asyhadu An La Ilaha Illallah, Wa
Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullah."
Lantas paderi dan orang-orang yang hadir di gereja itu terus memeluk agama
Islam.. Sungguh Allah telah menganugerahkan kebaikan dan menjaga mereka
dengan Islam melalui tangan seorang pemuda Muslim yang bertakwa.
Rabu, Mei 12, 2010
Isnin, Mei 10, 2010
Iblis Datang Menganggu Manusia Ketika Saat Kematian
Syaitan dan Iblis akan sentiasa mengganggu manusia, bermula dengan memperdayakan manusia dari terjadinya dengan setitik mani hinggalah ke akhir hayat mereka, dan yang paling dahsyat ialah sewaktu akhir hayat iaitu ketika sakaratul maut. Iblis mengganggu manusia sewaktu sakaratul maut disusun menjadi 7 golongan dan rombongan.
Rombongan 1
Akan datang Iblis dengan banyaknya dengan berbagai rupa yang pelik dan aneh seperti emas, perak dan lain lain, serta sebagai makanan dan minuman yang lazat lazat. Maka disebabkan orang yang di dalam sakaratul maut itu di masa hidupnya sangat tamak dan loba kepada barang barang tersebut, maka diraba dan disentuhnya barangan Iblis itu, di waktu itu nyawanya putus dari tubuh. Inilah yang dikatakan mati yang lalai dan lupa kepada Allah SWT inilah jenis mati fasik dan munafik, ke nerakalah tempatnya.
Akan datang Iblis dengan banyaknya dengan berbagai rupa yang pelik dan aneh seperti emas, perak dan lain lain, serta sebagai makanan dan minuman yang lazat lazat. Maka disebabkan orang yang di dalam sakaratul maut itu di masa hidupnya sangat tamak dan loba kepada barang barang tersebut, maka diraba dan disentuhnya barangan Iblis itu, di waktu itu nyawanya putus dari tubuh. Inilah yang dikatakan mati yang lalai dan lupa kepada Allah SWT inilah jenis mati fasik dan munafik, ke nerakalah tempatnya.
Rombongan 2
Akan datang Iblis kepada orang yang didalam sakaratul maut itu merupakan diri sebagai rupa binatang yang di takuti seperti, Harimau, Singa, Ular dan Kala yang berbisa. Maka Apabila yang sedang didalam sakaratul maut itu memandangnya saja kepada binatang itu, maka dia pun meraung dan melompat sekuat hati. Maka seketika itu juga akan putuslah nyawa itu dari badannya, maka matinya itu disebut sebagai mati lalai dan mati dalam keadaan lupa kepada Allah SWT, matinya itu sebagai Fasik dan Munafik dan ke nerakalah tempatnya.
Akan datang Iblis kepada orang yang didalam sakaratul maut itu merupakan diri sebagai rupa binatang yang di takuti seperti, Harimau, Singa, Ular dan Kala yang berbisa. Maka Apabila yang sedang didalam sakaratul maut itu memandangnya saja kepada binatang itu, maka dia pun meraung dan melompat sekuat hati. Maka seketika itu juga akan putuslah nyawa itu dari badannya, maka matinya itu disebut sebagai mati lalai dan mati dalam keadaan lupa kepada Allah SWT, matinya itu sebagai Fasik dan Munafik dan ke nerakalah tempatnya.
Rombongan 3
Akan datang Iblis mengacau dan memperdayakan orang yang di dalam sakaratul maut itu dengan merupakan dirinya kepada binatang yang menjadi minat kepada orang yang hendak mati itu, kalau orang yang hendak mati itu berminat kepada burung, maka dirupai dengan burung, dan jika dia minat dengan kuda lumba untuk berjudi, maka dirupakan dengan kuda lumba (judi). Jika dia minat dengan dengan ayam sabung, maka dirupakan dengan ayam sabung yang cantik. Apabila tangan orang yang hendak mati itu meraba raba kepada binatang kesayangan itu dan waktu tengah meraba raba itu dia pun mati, maka matinya itu di dalam golongan yang lalai dan lupa kepada Allah SWT. Matinya itu mati Fasik dan Munafik, maka nerakalah tempatnya.
Akan datang Iblis mengacau dan memperdayakan orang yang di dalam sakaratul maut itu dengan merupakan dirinya kepada binatang yang menjadi minat kepada orang yang hendak mati itu, kalau orang yang hendak mati itu berminat kepada burung, maka dirupai dengan burung, dan jika dia minat dengan kuda lumba untuk berjudi, maka dirupakan dengan kuda lumba (judi). Jika dia minat dengan dengan ayam sabung, maka dirupakan dengan ayam sabung yang cantik. Apabila tangan orang yang hendak mati itu meraba raba kepada binatang kesayangan itu dan waktu tengah meraba raba itu dia pun mati, maka matinya itu di dalam golongan yang lalai dan lupa kepada Allah SWT. Matinya itu mati Fasik dan Munafik, maka nerakalah tempatnya.
Rombongan 4
Akan datang Iblis merupakan dirinya sebagai rupa yang paling dibenci oleh orang yang akan mati, seperti musuhnya ketika hidupnya dahulu maka orang yang di dalam sakaratul maut itu akan menggerakkan dirinya untuk melakukan sesuatu kepada musuh yang dibencinya itu. Maka sewaktu itulah maut pun datang dan matilah ia sebagai mati Fasik dan Munafik, dan nerakalah tempatnya
Akan datang Iblis merupakan dirinya sebagai rupa yang paling dibenci oleh orang yang akan mati, seperti musuhnya ketika hidupnya dahulu maka orang yang di dalam sakaratul maut itu akan menggerakkan dirinya untuk melakukan sesuatu kepada musuh yang dibencinya itu. Maka sewaktu itulah maut pun datang dan matilah ia sebagai mati Fasik dan Munafik, dan nerakalah tempatnya
Rombongan 5
Akan datang Iblis merupakan dirinya dengan rupa sanak saudara yang hendak mati itu, seperi ayah ibunya dengan membawa makanan dan minuman, sedangkan orang yang di dalam sakaratul maut itu sangat mengharapkan minuman dan makanan lalu dia pun menghulurkan tangannya untuk mengambil makanan dan minuman yang dibawa oleh si ayah dan si ibu yang dirupai oleh Iblis, berkata dengan rayu merayu Wahai anakku inilah sahaja makanan dan bekalan yang kami bawakan untukmu dan berjanjilah bahawa engkau akan menurut kami dan menyembah Tuhan yang kami sembah, supaya kita tidak lagi bercerai dan marilah bersama kami masuk ke dalam syurga.�
Akan datang Iblis merupakan dirinya dengan rupa sanak saudara yang hendak mati itu, seperi ayah ibunya dengan membawa makanan dan minuman, sedangkan orang yang di dalam sakaratul maut itu sangat mengharapkan minuman dan makanan lalu dia pun menghulurkan tangannya untuk mengambil makanan dan minuman yang dibawa oleh si ayah dan si ibu yang dirupai oleh Iblis, berkata dengan rayu merayu Wahai anakku inilah sahaja makanan dan bekalan yang kami bawakan untukmu dan berjanjilah bahawa engkau akan menurut kami dan menyembah Tuhan yang kami sembah, supaya kita tidak lagi bercerai dan marilah bersama kami masuk ke dalam syurga.�
Maka dia pun sudi mengikut pelawaan itu dengan tanpa berfikir lagi, ketika itu waktu matinya pun sampai maka matilah dia di dalam keadaan kafir, kekal ia di dalam neraka dan terhapuslah semua amal kebajikan semasa hidupnya..
Rombongan 6
Akan datanglah Iblis merupakan dirinya sebagai ulamak ulamak yang membawa banyak kitab kitab, lalu berkata ia: "Wahai muridku, lamalah sudah kami menunggu akan dikau, berbagai ceruk telah kami pergi, rupanya kamu sedang sakit di sini, oleh itu kami bawakan kepada kamu doktor dan bomoh bersama dengan ubat untukmu."� Lalu diminumnya ubat, itu maka hilanglah rasa penyakit itu, kemudian penyakit itu datang kembali. Lalu datanglah pula Iblis yang menyerupai ulamak dengan berkata: "Kali ini kami datang kepadamu untuk memberi nasihat agar kamu mati didalam keadaan baik, tahukah kamu bagaimana hakikat Allah?"
Akan datanglah Iblis merupakan dirinya sebagai ulamak ulamak yang membawa banyak kitab kitab, lalu berkata ia: "Wahai muridku, lamalah sudah kami menunggu akan dikau, berbagai ceruk telah kami pergi, rupanya kamu sedang sakit di sini, oleh itu kami bawakan kepada kamu doktor dan bomoh bersama dengan ubat untukmu."� Lalu diminumnya ubat, itu maka hilanglah rasa penyakit itu, kemudian penyakit itu datang kembali. Lalu datanglah pula Iblis yang menyerupai ulamak dengan berkata: "Kali ini kami datang kepadamu untuk memberi nasihat agar kamu mati didalam keadaan baik, tahukah kamu bagaimana hakikat Allah?"
Berkata orang yang sedang dalam sakaratul maut: "Aku tidak tahu."
Berkata ulamak Iblis: "Ketahuilah, aku ini adalah seorang ulamak yang tinggi dan hebat, baru sahaja kembali dari alam ghaib dan telah mendapat syurga yang tinggi. Cubalah kamu lihat syurga yang telah disediakan untukmu, kalau kamu hendak mengetahui Zat Allah SWT hendaklah kamu patuh kepada kami."�
Ketika itu orang yang dalam sakaratul maut itu pun memandang ke kanan dan ke kiri, dan dilihatnya sanak saudaranya semuanya berada di dalam kesenangan syurga, (syurga palsu yang dibentangkan oleh Iblis bagi tujuan mengacau orang yang sedang dalam sakaratul maut). Kemudian orang yang sedang dalam sakaratul maut itu bertanya kepada ulamak palsu: "Bagaimanakah Zat Allah?" Iblis merasa gembira apabila jeratnya mengena.
Lalu berkata ulamak palsu: "Tunggu, sebentar lagi dinding dan tirai akan dibuka kepadamu."
Apabila tirai dibuka selapis demi selapis tirai yang berwarna warni itu, maka orang yang dalam sakaratul maut itu pun dapat melihat satu benda yang sangat besar, seolah olah lebih besar dari langit dan bumi.
Berkata Iblis: "Itulah dia Zat Allah yang patut kita sembah.."
Berkata orang yang dalam sakaratul maut: "Wahai guruku, bukankah ini benda yang benar benar besar, tetapi benda ini mempunyai jihat enam, iaitu benda besar ini ada di kirinya dan kanannya, mempunyai atas dan bawahnya, mempunyai depan dan belakangnya. . Sedangkan Zat Allah tidak menyerupai makhluk, sempurna Maha Suci Dia dari sebarang sifat kekurangan. Tapi sekarang ini lain pula keadaannya dari yang di ketahui dahulu. Tapi sekarang yang patut aku sembah ialah benda yang besar ini."
Dalam keraguan itu maka Malaikat Maut pun datang dan terus mencabut nyawanya, maka matilah orang itu di dalam keadaan dikatakan kafir dan kekal di dalam neraka dan terhapuslah segala amalan baik selama hidupnya di dunia ini.
Rombongan 7
Rombongan Iblis yang ketujuh ini Iblis terdiri dari 72 barisan sebab menjadi 72 barisan ialah kerana dia menepati Iktikad Muhammad SAW bahawa umat Muhammad akan terbahagi kepada 73 puak (barisan). Satu puak sahaja yang benar (ahli sunnah waljamaah) 72 lagi masuk ke neraka kerana sesat.
Rombongan Iblis yang ketujuh ini Iblis terdiri dari 72 barisan sebab menjadi 72 barisan ialah kerana dia menepati Iktikad Muhammad SAW bahawa umat Muhammad akan terbahagi kepada 73 puak (barisan). Satu puak sahaja yang benar (ahli sunnah waljamaah) 72 lagi masuk ke neraka kerana sesat.
Ketahuilah bahawa Iblis itu akan mengacau dan mengganggu anak Adam dengan 72 macam yang setiap satu berlain di dalam waktu manusia sakaratul maut. Oleh itu hendaklah kita mengajarkan kepada orang yang hampir meninggal dunia akan talkin Laa Ilaaha Illallah untuk menyelamatkan dirinya dari gangguan Iblis dan syaitan yang akan berusaha bersungguh-sungguh mengacau orang yang sedang dalam sakaratul maut.
"Ajarkan oleh kamu (orang yang masih hidup) kepada orang yang hampir mati itu: Laa Ilaaha Illallah."
Ahad, Mei 02, 2010
Tawakkal si anak kecil
Abu Faidh Thauban atau yang terkenal dengan nama panggilan Zunnun Al-Mishri adalah seorang ahli Tasawwuf yang besar dari negera Mesir.
Diceritakan bahawa pada suatu hari Zunnun Al-Mishri pergi ke laut untuk menjala ikan untuk menyara hidupnya dengan disertai oleh anak perempuannya yang masih kecil.
Zunnun menebarkan jaringnya, tidak berapa lama kemudian jaring itupun ditariknya. Dia beruntung kerana dapat menangkap seekor ikan. Anak perempuanya yang ikut turun ke laut, menyaksikan bahawa mulut ikan itu bergerak-gerak seperti orang berzikir. Apabila Zunnun menghulurkan tangannya untuk menngambil ikan yang sudah dijangka menjadi rezekinya itu. Tiba-tiba anaknya menghalangnya. Dengan pantas anaknya mengambil ikan yang masih hidup itu dan mencampakkannya ke laut semula. Maka bebaslah ikan itu di alamnya.
Zunnun tidak dapat menghalang perbuatan anaknya itu dan hanya melihat dengan penuh kehairanan.
"Mengapa kau membuang rezeki yang sudah kita perolehi?" Tanya Zunnun kepada anaknya. Anaknya menjawab: "Saya tidak rela makan makhluk yang berzikir kepada Allah".
Zunnun hairan terhadap jawapan anaknya itu kerana setiap ikan yang baru ditangkap sudah tentu bibirnya bergerak-gerak. "Apa yang hendak kia buat?" tanya Zunun lagi.
Anaknya menjawab: "Kita bertawakal kepada Allah semoga Dia memberi kita rezeki benda yang tidak berzikir kepada Allah.
Kedua-duanya pun balik tidak meneruskan kerjanya sebagai penangkap ikan dan mencari kerja lain sambil bertawakal kepada Allah. Setelah bekerja sampai petang, keduanya belum juga mendapatkan sesuatu rezeki untuk dimakan sedangkan perutnya sudah mulai lapar.
Apabila waktu Isya' sudah masuk, tiba-tiba Allah menurunkan hidangan dari langit yang terdiri daripada berbagai jenis makanan, maka makanlah keduanya dari rezeki itu. Keadaan seperti ini berlaku setiap malam dan berlangsung lebih kurang dua belas tahun.
Zunnun menyangka bahawa kurnia dari Allah yang sangat istimewa ini adalah disebabkan dirinya yang sangat rajin beribadah, solat, berpuasa dan berdoa kepada Allah.
Apabila keaadaan ini sudah berlangsung lebih kurang 12 tahun, anak perempuannya yang ikut kelaut sudah meninggal. Ternyata hidangan dari langit tidak turun lagi berikutan kematian anaknya itu. Kini Zunnun menyedari bahawa kurnia Allah yang turun pada keluarganya berupa makanan dari langit itu bukan disebabkan kerana dirinya yang rajin beribadah dan berdoa, tetapi disebabkan kerana ketinggian tawakal anak perempuannya yang sudah meninggal."
ingatlah,kita yang harus mengawal hawa nafsu bukannya nafsu yang mengawal diri kita.INGAT!! !KEANGKUHAN HAWA NAFSU TIADA TOLOK BANDINGNYA.
Sumbangan : Nu'man An-Nabighoh
Diceritakan bahawa pada suatu hari Zunnun Al-Mishri pergi ke laut untuk menjala ikan untuk menyara hidupnya dengan disertai oleh anak perempuannya yang masih kecil.
Zunnun menebarkan jaringnya, tidak berapa lama kemudian jaring itupun ditariknya. Dia beruntung kerana dapat menangkap seekor ikan. Anak perempuanya yang ikut turun ke laut, menyaksikan bahawa mulut ikan itu bergerak-gerak seperti orang berzikir. Apabila Zunnun menghulurkan tangannya untuk menngambil ikan yang sudah dijangka menjadi rezekinya itu. Tiba-tiba anaknya menghalangnya. Dengan pantas anaknya mengambil ikan yang masih hidup itu dan mencampakkannya ke laut semula. Maka bebaslah ikan itu di alamnya.
Zunnun tidak dapat menghalang perbuatan anaknya itu dan hanya melihat dengan penuh kehairanan.
"Mengapa kau membuang rezeki yang sudah kita perolehi?" Tanya Zunnun kepada anaknya. Anaknya menjawab: "Saya tidak rela makan makhluk yang berzikir kepada Allah".
Zunnun hairan terhadap jawapan anaknya itu kerana setiap ikan yang baru ditangkap sudah tentu bibirnya bergerak-gerak. "Apa yang hendak kia buat?" tanya Zunun lagi.
Anaknya menjawab: "Kita bertawakal kepada Allah semoga Dia memberi kita rezeki benda yang tidak berzikir kepada Allah.
Kedua-duanya pun balik tidak meneruskan kerjanya sebagai penangkap ikan dan mencari kerja lain sambil bertawakal kepada Allah. Setelah bekerja sampai petang, keduanya belum juga mendapatkan sesuatu rezeki untuk dimakan sedangkan perutnya sudah mulai lapar.
Apabila waktu Isya' sudah masuk, tiba-tiba Allah menurunkan hidangan dari langit yang terdiri daripada berbagai jenis makanan, maka makanlah keduanya dari rezeki itu. Keadaan seperti ini berlaku setiap malam dan berlangsung lebih kurang dua belas tahun.
Zunnun menyangka bahawa kurnia dari Allah yang sangat istimewa ini adalah disebabkan dirinya yang sangat rajin beribadah, solat, berpuasa dan berdoa kepada Allah.
Apabila keaadaan ini sudah berlangsung lebih kurang 12 tahun, anak perempuannya yang ikut kelaut sudah meninggal. Ternyata hidangan dari langit tidak turun lagi berikutan kematian anaknya itu. Kini Zunnun menyedari bahawa kurnia Allah yang turun pada keluarganya berupa makanan dari langit itu bukan disebabkan kerana dirinya yang rajin beribadah dan berdoa, tetapi disebabkan kerana ketinggian tawakal anak perempuannya yang sudah meninggal."
ingatlah,kita yang harus mengawal hawa nafsu bukannya nafsu yang mengawal diri kita.INGAT!! !KEANGKUHAN HAWA NAFSU TIADA TOLOK BANDINGNYA.
Sumbangan : Nu'man An-Nabighoh
Selasa, Januari 26, 2010
Jaga 7 Sunnah Rasul
"Cerdasnya orang yang beriman adalah, dia yang mampu mengolah hidupnya yang sesaat, yang sekejap untuk hidup yang panjang. Hidup bukan untuk hidup, tetapi hidup untuk Yang Maha Hidup. Hidup bukan untuk mati, tapi mati itulah untuk hidup.
Kita jangan takut mati, jangan mencari mati, jangan lupakan mati, tapi rindukan mati. Kerana, mati adalah pintu berjumpa dengan Allah SWT. Mati bukanlah cerita dalam akhir hidup, tapi mati adalah awal cerita sebenarnya, maka sambutlah kematian dengan penuh ketakwaan.
Hendaknya kita selalu menjaga tujuh sunnah Nabi setiap hari. Ketujuh sunnah Nabi SAW itu adalah:
Pertama: Tahajjud, kerana kemuliaan seorang mukmin terletak pada tahajjudnya.
Kedua: Membaca Al-Qur'an sebelum terbit matahari Alangkah baiknya sebelum mata melihat dunia, sebaiknya mata membaca Al-Qur'an terlebih dahulu dengan penuh pemahaman.
Ketiga: Jangan tinggalkan masjid terutama di waktu shubuh. Sebelum melangkah kemana pun langkahkan kaki ke masjid, kerana masjid merupakan pusat keberkahan, bukan kerana panggilan muadzin tetapi panggilan Allah yang mencari orang beriman untuk memakmurkan masjid Allah.
Keempat: Jaga solat dhuha, kerana kunci rezeki terletak pada solat dhuha.
Kelima: Jaga sedekah setiap hari. Allah menyukai orang yang suka bersedekah, dan malaikat Allah selalu mendoakan kepada orang yang bersedekah setiap hari.
Keenam: Jaga wudhu terus menerus kerana Allah menyayangi hamba yang berwudhu. Kata khalifah Ali bin Abu Thalib, "Orang yang selalu berwudhu senantiasa ia akan merasa selalu solat walau ia sedang tidak solat, dan dijaga oleh malaikat dengan dua doa, ampuni dosa dan sayangi dia ya Allah".
Ketujuh: Amalkan istighfar setiap saat. Dengan istighfar masalah yang terjadi kerana dosa kita akan dijauhkan oleh Allah.
Zikir adalah bukti syukur kita kepada Allah. Bila kita kurang bersyukur, maka kita kurang berzikir pula, oleh kerana itu setiap waktu harus selalu ada penghayatan dalam melaksanakan ibadah ritual dan ibadah ajaran Islam lainnya. Zikir juga merupakan makanan rohani yang paling bergizi, dan dengan zikir berbagai kejahatan dapat ditangkal sehingga jauhlah umat manusia dari sifat-sifat yang berpangkal pada materialisme dan hedonisme.
Kita jangan takut mati, jangan mencari mati, jangan lupakan mati, tapi rindukan mati. Kerana, mati adalah pintu berjumpa dengan Allah SWT. Mati bukanlah cerita dalam akhir hidup, tapi mati adalah awal cerita sebenarnya, maka sambutlah kematian dengan penuh ketakwaan.
Hendaknya kita selalu menjaga tujuh sunnah Nabi setiap hari. Ketujuh sunnah Nabi SAW itu adalah:
Pertama: Tahajjud, kerana kemuliaan seorang mukmin terletak pada tahajjudnya.
Kedua: Membaca Al-Qur'an sebelum terbit matahari Alangkah baiknya sebelum mata melihat dunia, sebaiknya mata membaca Al-Qur'an terlebih dahulu dengan penuh pemahaman.
Ketiga: Jangan tinggalkan masjid terutama di waktu shubuh. Sebelum melangkah kemana pun langkahkan kaki ke masjid, kerana masjid merupakan pusat keberkahan, bukan kerana panggilan muadzin tetapi panggilan Allah yang mencari orang beriman untuk memakmurkan masjid Allah.
Keempat: Jaga solat dhuha, kerana kunci rezeki terletak pada solat dhuha.
Kelima: Jaga sedekah setiap hari. Allah menyukai orang yang suka bersedekah, dan malaikat Allah selalu mendoakan kepada orang yang bersedekah setiap hari.
Keenam: Jaga wudhu terus menerus kerana Allah menyayangi hamba yang berwudhu. Kata khalifah Ali bin Abu Thalib, "Orang yang selalu berwudhu senantiasa ia akan merasa selalu solat walau ia sedang tidak solat, dan dijaga oleh malaikat dengan dua doa, ampuni dosa dan sayangi dia ya Allah".
Ketujuh: Amalkan istighfar setiap saat. Dengan istighfar masalah yang terjadi kerana dosa kita akan dijauhkan oleh Allah.
Zikir adalah bukti syukur kita kepada Allah. Bila kita kurang bersyukur, maka kita kurang berzikir pula, oleh kerana itu setiap waktu harus selalu ada penghayatan dalam melaksanakan ibadah ritual dan ibadah ajaran Islam lainnya. Zikir juga merupakan makanan rohani yang paling bergizi, dan dengan zikir berbagai kejahatan dapat ditangkal sehingga jauhlah umat manusia dari sifat-sifat yang berpangkal pada materialisme dan hedonisme.
Sabtu, Oktober 10, 2009
IBU MITHALI
IBU MITHALI
PENERIMA ketiga berjalan perlahan-lahan turun dari pentas. Di lehernya, telah terkalung pingat "Ibu Mithali". Tangan kanannya menggenggam erat satu sampul dan segulung sijil. Tangan kirinya pula memegang beberapa hadiah iringan. Anaknya setia melangkah di sisi.
"Sekarang ....," suara pengacara majlis bergema kembali, "Tibalah kita kepada penerima anugerah "Ibu Mithali" yang terakhir. Penerima ini agak lain daripada yang lain dan sungguh istimewa. Untuk itu, dipersilakan Puan Afifah Rashid naik ke pentas bersama- sama Cik Nurul Humairah, untuk tampil memperkenalkan ibunya. Dipersilakan. "
Mataku tercari-cari pasangan ibu dan anak yang bakal mengambil tempat itu.. Di barisan penonton paling hadapan, aku dapati seorang anak gadis berkulit hitam manis dan bertubuh tinggi lampai, sedang berusaha memujuk seorang wanita dalam lingkungan usia 60-an untuk bangun.
Aneh, kenapa ibu yang seorang ini nampaknya begitu keberatan untuk naik ke pentas? Kenapa dia tidak seperti tiga orang penerima sebelumnya, yang kelihatan begitu bangga menapak naik ke pentas, sebaik sahaja mereka dijemput? Hampir lima minit kemudian, barulah tampak si anak gadis yang memakai sepasang kebarung bertanah ungu dan berbunga merah jambu serta bertudung ungu kosong, bersusah payah memimpin ibunya naik ke pentas.
Ibu itu pun menduduki kerusi yang telah diduduki oleh tiga orang penerima sebelumnya. Anak gadis itu kemudiannya beredar ke pembesar suara. Dia beralih pandang kepada ibunya yang hanya tunduk memerhati lantai pentas.
'Pelik sungguh ibu yang seorang ini. Lagaknya bukan lagak orang yang akan menerima anugerah. Dia tak ubah seperti seorang pesalah yang sedang menanti hukuman. Duduknya serba tak kena. Sekejap beralih ke kanan, sekejap berpusing ke kiri. Tangannya menggentel-gentel baju kurung biru muda yang dipakainya.'
Dehem si anak dalam pembesar suara membuat aku sedikit tersentak.
Tumpuanku yang sekian lama terhala ke pentas, aku alihkan pada buku notaku.. Aku menconteng-conteng helaian yang masih putih bersih itu untuk memastikan penku dalam keadaan yang baik. Kemudian, aku memeriksa kameraku. Filemnya masih ada. Baterinya masih dapat bertahan.Sempat juga aku mengerling rakan-rakan wart awan dari syarikat akhbar dan majalah lain yang duduk di kiri kananku. Nampaknya, pen sudah berada dalam tangan masing-masing. Mata mereka sudah terarah kepada ibu di atas pentas dan anak yang sudah pun memulakan bicaranya dengan bismillah dan, memberi salam.
Aku tersenyum dan mengangguk kepada rakan- rakan wartawan yang duduk semeja denganku. Tetapi, senyuman dan anggukanku sudah tidak sempat mereka balas. Aku lantas mengemaskan dudukku mencari posisi yang paling selesa.
"Pertama sekali, saya ingin memanjatkan rasa syukur ke hadrat Allah, kerana dengan izin-Nyalah saya dan, mak berada dalam majlis yang gilang-gemilang ini. Seterusnya, saya ingin merakamkan penghargaan saya kepada pihak penganjur yang telah mempertimbangkan mak saya sebagai, salah seorang penerima anugerah "Ibu Misali" tahun ini."
Suasana menjadi sunyi. Hadirin memberi tumpuan sepenuhnya kepada percakapan gadis itu.
"Sebetulnya, ketika saya kecil, saya memang membenci mak. Darjah kebencian itu meningkat setelah saya mendapat tahu Puan Afifah hanyalah mak angkat saya. Pada masa yang sama, saya merasakan sayalah anak yang paling malang , disisihkan oleh ibu sendiri, dan diperhambakan pula oleh mak angkat untuk membantu menjaga anak-anak kandungnya"
"Membantu menjaga anak- anak kandungnya? Mungkin, persoalan itu sedang pergi balik dalam benak tuan-tuan dan puan-puan sekarang. Persoalan itu pasti akan terjawab sebentar lagi, apakala saya mempertontonkan rakaman video yang memaparkan kehidupan anakanak kandung mak. Sebelum itu, saya harus menegaskan bahawa anak-anak yang bakal hadirin lihat nanti bukan terdiri daripada doktor, peguam, jurutera, pensyarah, ahli perniagaan, pemimpin masyarakat, dan guru, seperti mana anak ketiga-tiga "Ibu Mithali" yang baru menerima anugerah sebentar tadi."
Suara hadirin yang kehairanan mula kedengaran.
"Inilah dia abang-abang dan kakak- kakak saya!" suara hadirin semakin kedengaran. Mereka tidak dapat membendung rasa kekaguman.
"Yang mengeluarkan berbagai-bagai bunyi itu, Aba ng Long. Yang sedang merangkak ke sana ke mari itu, ialah Kak Ngah. Yang sedang mengesot ke ruang tamu itu, ialah Abang Alang. Yang sedang berjalan sambil berpaut pada dinding itu, ialah Kak Anjang. Yang sedang berjalan jatuh dari dapur ke dalam bilik itu, ialah Abang Andak."
"Seperti yang tuan-tuan dan puan-puan saksikan, tahap kecacatan fizikal dan mental abangabang dan, kakak-kakak saya tidak sama. Daripada yang tidak boleh bercakap dan bergerak langsung, seperti bayi yang baru lahir hinggalah kepada yang boleh berjalan jatuh dan, bercakap pelat-pelat, seperti budak berumur satu atau, dua tahun."
Hadirin yang sebentar tadi bingit suaranya kini terdiam kembali. Mereka menonton video yang sedang ditayangkan itu dengan khusyuknya.
"Untuk pengetahuan semua, abang-abang dan kakak-kakak saya, telah menjangkau usia 20-an dan, 30-an. Namun, meskipun telah dilatih dengan sungguh-sungguh, mereka masih belum pandai mengurus makan minum dan berak kencing mereka sendiri. Lihatlah betapa sukarnya mak hendak melayan makan dan, pakai mereka."
"Sewaktu saya berusia enam atau, tujuh tahun, saya sering mencemburui abang-abang, dan kakak-kakak kerana mereka, mendapat perhatian istimewa daripada mak. Saya iri hati melihat mak memandikan mereka. Saya sakit hati melihat mak menyuap mereka. Sedang saya disuruh buat semua itu sendiri."
"Mirah dah besar, kan ? Mirah dah boleh uruskan diri Mirah sendiri, kan ?" Lembut nada suara mak tiap kali dia memujuk saya. Namun, kelembutan itu telah menyema rakkan api radang saya
"Tapi, mak tak adil!" Saya kerap membentak. "Mak buat segalagalanya untuk kakak- kakak dan abang- abang. Kalau untuk Mirah, mak selalu berkira!"
"Mirah, abang-abang dan kakak-kakak Mirah tidak secerdas Mirah. Mereka cacat!" Berkali-kali mak menegaskan kepada saya. "Sebab itulah mak terpaksa membantu mereka."
"Mereka cacat apa, mak?" Saya membeliakkan mata kepada mak. "Semua anggota mereka cukup. Kaki dan tangan mereka tidak kudung. Mata mereka tidak buta. Yang betulnya, mereka malas, mak!"
"Mirah ... Mirah belum faham, sayang." Suara mak akan menjadi sayu tiap kali dia mempertahankan kakak-kakak dan abang-abang saya. Tetapi, kesayuan itu tidak pernah mengundang rasa simpati saya.
"Apabila difikirkan kembali, saya merasakan tindakan saya itu terlalu bodoh. Abang-abang dan kakak-kakak tak pernah kacau saya. Mak pun cuma sekali-sekala saja meminta bantuan saya menyuapkan mereka makan atau menukar kain lampin mereka. Itu pun saya tidak pernah ikhlas menolong.
Saya akan merungut tidak henti-henti sepanjang masa saya melakukan itu. Jika makanan yang saya suap tumpah atau jika abang-abang dan kakak-kakak terkencing atas tangan saya, ketika saya sedang menyalin kain lampin mereka, tangan saya ringan saja mencubit atau menampar mereka. Saya tahu mereka tidak pandai menga du perbuatan jahat saya kepada mak. Ketika itu, memang saya langsung tidak punya rasa hormat kepada abang-abang dan kakak-kakak. Kepada saya, kehadiran mereka menyusahkan hidup saya."
"Hantarlah abang-abang dan kakak-kakak ke rumah kebajikan, mak." Saya pernah mengusulkan kepada mak, ketika saya berusia sepuluh tahun..
"Lepas itu, mak dan ayah boleh hidup senang-lenang macam mak dan ayah orang lain. Mirah pun takkan rasa terganggu lagi."
"Mereka anak-anak mak, Mirah. Jadi, maklah yang patut jaga mereka, bukan petugas-petugas di rumah kebajikan." Begitu reaksi mak setiap kali saya mencadangkan hal itu.
&g t; "Saya langsung tidak menghormati, apatah lagi mengagumi pendirian mak.
Mak memang sengaja menempah masalah. Mak tidak menghargai jalan keluar yang telah sedia terentang di hadapannya."
"Rasa geram dan marah saya sampai ke puncaknya, semasa saya berusia dua belas tahun. Pada hari itu, mak demam teruk hingga tidak dapat bangun. Ayah terpaksa ambil cuti untuk membawa mak ke klinik. Lalu, saya ditinggalkan untuk menjaga abang-abang dan kakak-kakak di rumah.
Sebelum meninggalkan rumah, biarpun dalam keadaan yang lemah, berkali-kali mak sempat berpesan kepada saya, agar jangan lupa memberi abang-abang dan kakak-kakak makan, dan menukar kain lampin mereka."
Suasana dewan terus sunyi. Hadirin masih khusyuk mendengar cerita gadis itu.
"Itulah kali pertama saya ditinggalkan bersama-sama abang-abang dan kakak-kakak, selama lebih kurang lima jam. Jangka masa itu cukup menyeksakan. Kebetulan pada hari itu, abang-abang dan kakak-kakak benar-benar mencabar kesabaran saya. Entah mengapa Abang Long enggan makan. Jenuh saya mendesaknya. Abang Alang dan Kak Ngah pula asyik mencirit saja.. Letih saya menukar kain lampin mereka. Abang Andak pula, asyik main air ketika saya memandikannya. Basah lencun baju saya dibuatnya. Kak Anjang pula, asyik sepahkan nasi dan tumpahkan air.
Penat saya membersihkannya. "
&g t;
"Apabila mak dan ayah pulang, saya sudah seperti kain buruk, tubuh saya lunyai. Saya sudah tidak berupaya melihat muka mak dan ayah. Saya terus melarikan diri ke rumah ibu kandung saya, yang terletak di sebelah rumah mak. Begitulah lazimnya. Apabila fikiran saya terlalu kacau, saya akan ke rumah ibu untuk mencari ketenangan.."
"Ibu!" Saya menerpa masuk lalu memeluk ibu. "Kenapa ibu bagi Mirah kepada mak? Kalau ya pun ibu tidak suka Mirah, bagilah Mirah pada orang lain yang lebih menyayangi Mirah, bukan mak."
"Mirah!" Ibu merangkul saya. " Kan dah berkali-kali ibu tegaskan yang ibu bagi Mirah kepada mak bukan kerana ibu tak sayang Mirah."
"Lazimnya ibu akan membuka kembali lipatan sejarah hidupnya apabila situasi itu berlaku. Ibu ialah kakak mak. Ibu sakit teruk setelah melahirkan saya. Selama berbulan-bulan ibu terlantar di hospital, mak yang telah menjaga saya. Setelah ibu sembuh, ibu dapat lihat sendiri betapa gembiranya mak dapat menjaga seorang anak normal.
Justeru, ibu tidak sampai hati hendak memisahkan kami."
"Ibu telah berasa betapa nikmatnya menjaga tujuh orang anak yang pintar dan cerdas. Jadi, biarlah nikmat itu turut dirasakan oleh mak pula dengan menjaga Mirah. Lagipun, dengan menyerahkan Mirah kepada mak, ibu masih dapat melihat Mirah membesar di hadapan mata ibu, walaupun Mirah tinggal bersama-sama mak. Dari pemerhatian ibu, ibu rasa, mak lebih menyayangi Mirah berbanding dengan anak anaknya yang lain."
"Sayang apa? Ibu tahu tak yang rumah tu macam neraka bagi Mirah? Ibu tahu tak yang Mirah ni tak ubah seperti hamba di rumah tu?"
"Jangan besar-besarkan perkara yang kecil, Mirah. Ibu tahu sekali-sekala saja mak membebankan Mirah dengan kerja-kerja rumah dan tugas menjaga abang-abang dan kakak-kakak Mirah.. Itu pun Mirah buat tidak sesungguh hati. Nasi mentahlah, lauk hanguslah, abang-abang, dan kakak-kakak kena lempanglah."
"Mak adu semua kepada ibu, Ya?" Saya masih mahu berkeras meskipun saya tahu saya bersalah.
"Mak jarang-jarang mengadu keburukan Mirah k epada ibu. Ibu sendiri yang kerap mengintai Mirah dan melihat bagaimana Mirah melaksanakan suruhan mak."
"Saya tunduk. Saya sudah tidak sanggup menentang mata ibu."
"Ibu malu, Mirah. Ibu mengharapkan kehadiran Mirah di rumah mak kau itu dapat meringankan penderitaan mak.
Tetapi, ternyata kehadiran Mirah di rumah itu menambahkan beban mak."
"Saya benar-benar rasa terpukul oleh kata-kata ibu."
"Ibu rasa, apa yang telah mak beri kepada Mirah, jauh lebih baik daripada apa yang diberi kepada anak-anaknya send iri. Mirah dapat ke sekolah. Kakak-kakak dan abang-abang Mirah hanya duduk di rumah. Mirah dapat banyak pakaian cantik. Sedang anak-anak mak yang lain pakaiannya itu-itulah juga. Setiap kali Mirah berjaya dalam peperiksaan, mak sungguh gembira. Dia akan meminta ibu tolong menjaga abang-abang dan kakak-kakak kerana dia nak lihat Mirah terima hadiah."
"Saya tidak sanggup mendengar kata-kata ibu selanjutnya, bukan kerana saya tidak mengakui kesalahan saya, tetapi kerana saya benar-benar malu."
"Saya meninggalkan rumah ibu bukan kerana berasa tersisih daripada ibu kandung sendiri, atau berasa kecewa sebab tidak mendapat pembelaan yang diharap- harapkan. Saya meninggalkan rumah ibu dengan kesedaran baru." "Sesampainya saya ke rumah tempat saya berteduh selama ini,saya dapati mak yang belum s embuh betul sedang melayan kerenah abang-abang dan kakak-kakak dengan penuh sabar. Saya terus menghilangkan diri ke dalam bilik kerana saya dihantui oleh rasa bersalah. Di dalam bilik, saya terus resah-gelisah. "
"Mirah," panggilan lembut mak seiring dengan bunyi ketukan di pintu bilik saya. "Mirah."
"Saya cepat-cepat naik ke atas katil dan memejam mata, pura-pura tidur."
"Sejurus kemudian, terdengar bunyi pintu bilik saya dibuka. "Mirah dah tidur rupa-rupanya! Kesian.. Tentu Mirah letih menjaga abang-abang dan kakak- kakak semasa mak, ke klinik siang tadi. Maafkan mak, sayang. Mak tahu Mirah masih terlalu muda untuk memikul beban seberat itu. Tapi, keadaan benar- benar terdesak pagi tadi, Mir ah. Mak janji, lain kali mak tak akan kacau Mirah lagi. Mak akan meminta ibu atau orang lain menjaga abang- abang dan kakak-kakak kalau mak terpaksa tinggalkan rumah"
Sepanjang mak berkata-kata itu, tangan mak terus mengusap-usap dahi saya. Suara mak tersekat-sekat. Saya terlalu ingin membuka mata dan menatap wajah mak ketika itu.
"Mirah, mak tahu Mirah tak bahagia tinggal bersama-sama mak."
Suatu titisan air mata gugur di atas dahi saya. Kemudian, setitik lagi gugur di atas pipi saya. Selepas itu, titisan-titisan itu kian rancak gugur menimpa serata muka dan leher saya.
"Walau apa pun tanggapan Mi rah kepada mak, bagi mak, Mirah adalah segala-galanya. Mirah telah menceriakan suasana dalam rumah ini. Mirah telah menyebabkan mak berasakan hidup ini kembali berharga. Mirah telah. .."
"Mak!" Saya lantas bangun lalu memeluk mak. Kemudian, tiada kata-kata yang lahir antara kami. Yang kedengaran hanyalah bunyi sedu-sedan dan esak tangis.
Peristiwa pada hari itu dan, pada malamnya telah mengubah pandangan saya terhadap mak, abang-abang dan kakak-kakak. Saya mula merenung dan menilai keringat mak. Saya mula dapat menerima keadaan kakak- kakak dan abang- abang serta belajar menghormati dan, menyayangi mereka.
Keadaan dewan menjadi begitu sunyi seperti tidak berpenghuni sejak gadis itu berbicara.
Setelah meraih kejayaan cemerlang dalam peperiksaan penilaian darjah lima , saya telah ditawarkan untuk melanjutkan pelajaran ke peringkat menengah, di sebuah sekolah berasrama penuh. Saya telah menolak tawaran tersebut.
"Kenapa Mirah tolak tawaran itu?"
"Bukankah di sekolah berasrama penuh itu Mirah boleh belajar dengan sempurna?"
"Betul tu, Mirah. Di sana nanti Mirah tak akan berdepan dengan gangguan daripada abang-abang dan kakak-kakak! "
"Mirah tak menyesal ke, kemudian hari nanti?"
Bertubi-tubi mak dan ayah menyoal. Mata mereka tidak berkelip-kelip memandang saya.
"Mak, ayah." Saya menatap wajah kedua-dua insan itu silih berganti.
"Mirah ingin terus tinggal di rumah ini. Mirah ingin terus berdamping dengan mak, ayah, abang-abang dan kakak-kakak. "
"Tapi, boleh ke Mirah buat ulang kaji di rumah? Pelajaran di sekolah menengah itu, bukannya senang." Mak masih meragui keupayaan saya.
"Insya-Allah, mak. Mi rah rasa, Mirah dapat mengekalkan prestasi Mirah semasa di sekolah menengah nanti," balas saya penuh yakin.
Mak dan ayah kehabisan kata-kata. Mulut mereka terlopong. Mata mereka terus memanah muka saya. Garis-garis kesangsian masih terpamer pada wajah mereka. Sikap mak dan ayah itu telah menguatkan azam saya untuk terus menjadi pelajar cemerlang, di samping menjadi anak dan adik yang baik.
Selama di sekolah menengah, mak sedapat mungkin cuba membebaskan saya daripada kerjakerja memasak dan mengemas rumah, serta tugas menjaga makan pakai abang-abang dan kakak-kakak kerana takut pelajaran saya terganggu. Sebaliknya saya lebih kerap menawarkan diri untuk membantu, lantaran didorong oleh rasa tanggungjawab dan timbang rasa.
Gadis yang bernama Nurul Humairah itu terus bercerita dengan penuh semangat, apabila melihatkan hadirin di dalam dewan itu mendengar ceritanya dengan penuh minat.
"Saya terpaksa juga meninggalkan rumah sewaktu saya melanjutkan pelajaran di Universiti Kebangsaan Malaysia . Di sana saya membuat pengkhususan dalam bidang pendidikan khas. Bidang ini sengaja saya pilih kerana saya ingin menabur bakti kepada segelintir pelajar yang kurang bernasib baik. Di samping itu, pengetahuan yang telah saya peroleh itu, dapat saya manfaatkan bersama untuk abang-abang dan kakak-kakak. . "
"Kini, telah setahun lebih saya mengharung suka duka, sebagai seorang guru pendidikan khas di kampung saya sendiri. Saya harus akui,segulung ijazah yang telah saya miliki tidak seberapa nilai nya, berbanding dengan mutiara-mutiara pengalaman yang telah mak kutip sepanjang hayatnya."
"Sekarang, saya lebih ikhlas dan lebih bersedia untuk menjaga abang-abang dan kakak-kakak. . Pun begitu, hati ini sering tersentuh apabila beberapa kali saya terdengar perbualan mak dan Ayah."
"Apa akan jadi kepada kelima-lima orang anak kita itu lepas kita tak ada, bang?" suara mak diamuk pilu.
Ayah akan mengeluh, kemudian berkata, "Entahlah. Takkan kita nak harapkan Mirah pula?"
"Mirah bukan anak kandung kita." Mak meningkah. "Kita tak boleh salahkan dia kalau dia abaikan abang-abang dan kakak-kakaknya. "
"Mirah nak tegaskan di sini, mak, yang Mirah akan membela nasib abang-abang dan, kakak-kakak lepas mak dan ayah tak ada. Ya, memang mereka bukan saudara kandung Mirah.. Tapi, tangan yang telah membelai tubuh Mirah dan tubuh mereka adalah tangan yang sama. Tangan yang telah menyuapkan Mirah dan mereka, juga tangan yang sama. Tangan yang memandikan Mirah dan mereka, adalah tangan yang sama, tangan mak."
Kelihatan gadis yang berkebarung ungu, berbunga merah jambu itu, tunduk sambil mengesat air matanya dengan sapu tangannya. Kebanyakan hadirin, khususnya wanita turut mengesat air mata mereka.
Gadis itu menyambung bicaranya. Tiga bulan lalu, saya terbaca mengenai pencalonan anugerah "Ibu Misali" dalam akhbar. Saya terus mencalonkan mak, di luar pengetahuannya. Saya pasti, kalau mak tahu, dia tidak akan merelakannya. Saya sendiri tidak yakin yang mak akan terpilih untuk menerima anugerah ini, sebab anak- anak mak bukan terdiri daripada orang-orang yang disanjung masyarakat, seperti lazimnya anak- anak "Ibu Misali" yang lain.
"Lorong dan denai kehidupan yang orang-orang seperti mak lalui mempunyai banyak duri dan, ranjau berbanding dengan ibu-ibu lain. Betapa keimanan mak tidak tergugat biarpun berdepan dengan dugaan yang sebegini hebat. Tiada rasa kesal. Tiada rasa putus asa. Tidak ada salah-menyalahkan antara mak dan ayah."
"Maafkan Mirah sekali lagi, mak. Hingga ke saat- saat terakhir tadi, mak masih tidak menyenangi tindakan Mirah mencalonkan mak, untuk menerima anugerah ini. Mak merasakan diri mak terlalu kerdil lebih-lebih lagi setelah mak mendengar pengisahan "Ibu Misali" pertama, kedua dan ketiga. Berkali-kali mak tegaskan yang mak menjaga anak-anak mak bukan kerana mahukan anugerah ini, tapi kerana anak-anak adalah amanah Tuhan."
"Saya ingin jelaskan di sini bahawa saya mencalonkan mak untuk anugerah ini, bukan dengan tujuan merayu simpati. Saya cuma berharap kegigihan dan ketabahan mak akan dapat direnung oleh ibu-ibu lain, terutama ibu-ibu muda yang senang-senang mendera dan mencampakkan anak mereka yang cornel, segar-bugar serta sempurna fizikal dan, mental."
"Sebagai pengakhir bicara, sekali lagi saya ingin merakam penghargaan saya kepada pihak penganjur, kerana telah mempertimbangkan mak saya sebagai salah seorang penerima anugerah "Ibu Misali" tahun ini.. Semoga pemilihan mak ini akan memberi semangat baru kepada ibu-ibu lain yang senasib dengan mak."
"Sekian, wassalamualaikum warahmatullah. "
Gadis itu beredar meninggalkan pembesar suara.
Penku telah lama terbaring. Buku notaku telah lunyai dek air mataku sendiri. Bahuku dienjut-enjut oleh sedu- sedanku. Pandanganku menjadi kabur. Dalam pandangan yang kabur-kabur itu, mataku silau oleh pancaran cahaya kamera rakan semejaku. Aku segera mengangkat kameraku dan menangkap gambar secara rambang tanpa mengetahui sudut mana atau, apa sebenarnya yang telah menarik perhatian wartawan-wartanan lain.
'Bertenang. Kau di sini sebagai pemberita. Kau seharusnya berusaha mendapat skop yang baik, bukan dihanyutkan oleh perasaan kau sendiri.'
Terdengar pesanan satu suara dari dalam diriku.
Lantas, aku mengesat air mataku. Aku menyelak buku notaku mencari helaian yang masih belum disentuh oleh air mataku. Aku capai penku semula.
"Demikianlah kisah pelayaran seorang ibu di samudera kehidupan yang tidak sunyi dari ombak dan badai. Sekarang, dijemput Yang Berbahagia Puan Sri Salwa Najwa dengan diiringi oleh Pengerusi Jawatankuasa Pemilihan "Ibu Mithali" untuk menyampaikan anugerah "Ibu Mithali" serta beberapa hadiah iringan kepada Puan Afifah Rashid. Yang Berbahagia Puan Sri dipersilakan. "
Nurul Humairah membantu maknya bangun. Kemudian, dia memimpin maknya melangkah ke arah Yang Berbahagia Puan Sri Salwa Najwa. Lutut maknya menggeletar. Namun begitu kerana dia tidak berdaya menahan perasaannya dia terduduk kembali di atas kerusi.
Melihatkan itu, Yang Berbahagia Puan Sri Salwa Najwa sendiri datang mendapatkan Puan Afifah, lalu mengalungkan pingat itu. Setelah itu, beliau menyampaikan beberapa hadiah iringan. Air mata Puan Afifah berladung.
Tepukan gemuruh bergema dari segenap penjuru dewan.. Sejurus kemudian, seorang demi seorang penerima anugerah "Ibu Mithali" sebelumnya, naik ke pentas bersalaman dan berpelukan dengan Puan Afifah. Bertambah lebatlah hujan air mata penerima anugerah "Ibu Mithali" yang terakhir itu.
Renung-renungkan dan Selamat beramal...
PENERIMA ketiga berjalan perlahan-lahan turun dari pentas. Di lehernya, telah terkalung pingat "Ibu Mithali". Tangan kanannya menggenggam erat satu sampul dan segulung sijil. Tangan kirinya pula memegang beberapa hadiah iringan. Anaknya setia melangkah di sisi.
"Sekarang ....," suara pengacara majlis bergema kembali, "Tibalah kita kepada penerima anugerah "Ibu Mithali" yang terakhir. Penerima ini agak lain daripada yang lain dan sungguh istimewa. Untuk itu, dipersilakan Puan Afifah Rashid naik ke pentas bersama- sama Cik Nurul Humairah, untuk tampil memperkenalkan ibunya. Dipersilakan. "
Mataku tercari-cari pasangan ibu dan anak yang bakal mengambil tempat itu.. Di barisan penonton paling hadapan, aku dapati seorang anak gadis berkulit hitam manis dan bertubuh tinggi lampai, sedang berusaha memujuk seorang wanita dalam lingkungan usia 60-an untuk bangun.
Aneh, kenapa ibu yang seorang ini nampaknya begitu keberatan untuk naik ke pentas? Kenapa dia tidak seperti tiga orang penerima sebelumnya, yang kelihatan begitu bangga menapak naik ke pentas, sebaik sahaja mereka dijemput? Hampir lima minit kemudian, barulah tampak si anak gadis yang memakai sepasang kebarung bertanah ungu dan berbunga merah jambu serta bertudung ungu kosong, bersusah payah memimpin ibunya naik ke pentas.
Ibu itu pun menduduki kerusi yang telah diduduki oleh tiga orang penerima sebelumnya. Anak gadis itu kemudiannya beredar ke pembesar suara. Dia beralih pandang kepada ibunya yang hanya tunduk memerhati lantai pentas.
'Pelik sungguh ibu yang seorang ini. Lagaknya bukan lagak orang yang akan menerima anugerah. Dia tak ubah seperti seorang pesalah yang sedang menanti hukuman. Duduknya serba tak kena. Sekejap beralih ke kanan, sekejap berpusing ke kiri. Tangannya menggentel-gentel baju kurung biru muda yang dipakainya.'
Dehem si anak dalam pembesar suara membuat aku sedikit tersentak.
Tumpuanku yang sekian lama terhala ke pentas, aku alihkan pada buku notaku.. Aku menconteng-conteng helaian yang masih putih bersih itu untuk memastikan penku dalam keadaan yang baik. Kemudian, aku memeriksa kameraku. Filemnya masih ada. Baterinya masih dapat bertahan.Sempat juga aku mengerling rakan-rakan wart awan dari syarikat akhbar dan majalah lain yang duduk di kiri kananku. Nampaknya, pen sudah berada dalam tangan masing-masing. Mata mereka sudah terarah kepada ibu di atas pentas dan anak yang sudah pun memulakan bicaranya dengan bismillah dan, memberi salam.
Aku tersenyum dan mengangguk kepada rakan- rakan wartawan yang duduk semeja denganku. Tetapi, senyuman dan anggukanku sudah tidak sempat mereka balas. Aku lantas mengemaskan dudukku mencari posisi yang paling selesa.
"Pertama sekali, saya ingin memanjatkan rasa syukur ke hadrat Allah, kerana dengan izin-Nyalah saya dan, mak berada dalam majlis yang gilang-gemilang ini. Seterusnya, saya ingin merakamkan penghargaan saya kepada pihak penganjur yang telah mempertimbangkan mak saya sebagai, salah seorang penerima anugerah "Ibu Misali" tahun ini."
Suasana menjadi sunyi. Hadirin memberi tumpuan sepenuhnya kepada percakapan gadis itu.
"Sebetulnya, ketika saya kecil, saya memang membenci mak. Darjah kebencian itu meningkat setelah saya mendapat tahu Puan Afifah hanyalah mak angkat saya. Pada masa yang sama, saya merasakan sayalah anak yang paling malang , disisihkan oleh ibu sendiri, dan diperhambakan pula oleh mak angkat untuk membantu menjaga anak-anak kandungnya"
"Membantu menjaga anak- anak kandungnya? Mungkin, persoalan itu sedang pergi balik dalam benak tuan-tuan dan puan-puan sekarang. Persoalan itu pasti akan terjawab sebentar lagi, apakala saya mempertontonkan rakaman video yang memaparkan kehidupan anakanak kandung mak. Sebelum itu, saya harus menegaskan bahawa anak-anak yang bakal hadirin lihat nanti bukan terdiri daripada doktor, peguam, jurutera, pensyarah, ahli perniagaan, pemimpin masyarakat, dan guru, seperti mana anak ketiga-tiga "Ibu Mithali" yang baru menerima anugerah sebentar tadi."
Suara hadirin yang kehairanan mula kedengaran.
"Inilah dia abang-abang dan kakak- kakak saya!" suara hadirin semakin kedengaran. Mereka tidak dapat membendung rasa kekaguman.
"Yang mengeluarkan berbagai-bagai bunyi itu, Aba ng Long. Yang sedang merangkak ke sana ke mari itu, ialah Kak Ngah. Yang sedang mengesot ke ruang tamu itu, ialah Abang Alang. Yang sedang berjalan sambil berpaut pada dinding itu, ialah Kak Anjang. Yang sedang berjalan jatuh dari dapur ke dalam bilik itu, ialah Abang Andak."
"Seperti yang tuan-tuan dan puan-puan saksikan, tahap kecacatan fizikal dan mental abangabang dan, kakak-kakak saya tidak sama. Daripada yang tidak boleh bercakap dan bergerak langsung, seperti bayi yang baru lahir hinggalah kepada yang boleh berjalan jatuh dan, bercakap pelat-pelat, seperti budak berumur satu atau, dua tahun."
Hadirin yang sebentar tadi bingit suaranya kini terdiam kembali. Mereka menonton video yang sedang ditayangkan itu dengan khusyuknya.
"Untuk pengetahuan semua, abang-abang dan kakak-kakak saya, telah menjangkau usia 20-an dan, 30-an. Namun, meskipun telah dilatih dengan sungguh-sungguh, mereka masih belum pandai mengurus makan minum dan berak kencing mereka sendiri. Lihatlah betapa sukarnya mak hendak melayan makan dan, pakai mereka."
"Sewaktu saya berusia enam atau, tujuh tahun, saya sering mencemburui abang-abang, dan kakak-kakak kerana mereka, mendapat perhatian istimewa daripada mak. Saya iri hati melihat mak memandikan mereka. Saya sakit hati melihat mak menyuap mereka. Sedang saya disuruh buat semua itu sendiri."
"Mirah dah besar, kan ? Mirah dah boleh uruskan diri Mirah sendiri, kan ?" Lembut nada suara mak tiap kali dia memujuk saya. Namun, kelembutan itu telah menyema rakkan api radang saya
"Tapi, mak tak adil!" Saya kerap membentak. "Mak buat segalagalanya untuk kakak- kakak dan abang- abang. Kalau untuk Mirah, mak selalu berkira!"
"Mirah, abang-abang dan kakak-kakak Mirah tidak secerdas Mirah. Mereka cacat!" Berkali-kali mak menegaskan kepada saya. "Sebab itulah mak terpaksa membantu mereka."
"Mereka cacat apa, mak?" Saya membeliakkan mata kepada mak. "Semua anggota mereka cukup. Kaki dan tangan mereka tidak kudung. Mata mereka tidak buta. Yang betulnya, mereka malas, mak!"
"Mirah ... Mirah belum faham, sayang." Suara mak akan menjadi sayu tiap kali dia mempertahankan kakak-kakak dan abang-abang saya. Tetapi, kesayuan itu tidak pernah mengundang rasa simpati saya.
"Apabila difikirkan kembali, saya merasakan tindakan saya itu terlalu bodoh. Abang-abang dan kakak-kakak tak pernah kacau saya. Mak pun cuma sekali-sekala saja meminta bantuan saya menyuapkan mereka makan atau menukar kain lampin mereka. Itu pun saya tidak pernah ikhlas menolong.
Saya akan merungut tidak henti-henti sepanjang masa saya melakukan itu. Jika makanan yang saya suap tumpah atau jika abang-abang dan kakak-kakak terkencing atas tangan saya, ketika saya sedang menyalin kain lampin mereka, tangan saya ringan saja mencubit atau menampar mereka. Saya tahu mereka tidak pandai menga du perbuatan jahat saya kepada mak. Ketika itu, memang saya langsung tidak punya rasa hormat kepada abang-abang dan kakak-kakak. Kepada saya, kehadiran mereka menyusahkan hidup saya."
"Hantarlah abang-abang dan kakak-kakak ke rumah kebajikan, mak." Saya pernah mengusulkan kepada mak, ketika saya berusia sepuluh tahun..
"Lepas itu, mak dan ayah boleh hidup senang-lenang macam mak dan ayah orang lain. Mirah pun takkan rasa terganggu lagi."
"Mereka anak-anak mak, Mirah. Jadi, maklah yang patut jaga mereka, bukan petugas-petugas di rumah kebajikan." Begitu reaksi mak setiap kali saya mencadangkan hal itu.
&g t; "Saya langsung tidak menghormati, apatah lagi mengagumi pendirian mak.
Mak memang sengaja menempah masalah. Mak tidak menghargai jalan keluar yang telah sedia terentang di hadapannya."
"Rasa geram dan marah saya sampai ke puncaknya, semasa saya berusia dua belas tahun. Pada hari itu, mak demam teruk hingga tidak dapat bangun. Ayah terpaksa ambil cuti untuk membawa mak ke klinik. Lalu, saya ditinggalkan untuk menjaga abang-abang dan kakak-kakak di rumah.
Sebelum meninggalkan rumah, biarpun dalam keadaan yang lemah, berkali-kali mak sempat berpesan kepada saya, agar jangan lupa memberi abang-abang dan kakak-kakak makan, dan menukar kain lampin mereka."
Suasana dewan terus sunyi. Hadirin masih khusyuk mendengar cerita gadis itu.
"Itulah kali pertama saya ditinggalkan bersama-sama abang-abang dan kakak-kakak, selama lebih kurang lima jam. Jangka masa itu cukup menyeksakan. Kebetulan pada hari itu, abang-abang dan kakak-kakak benar-benar mencabar kesabaran saya. Entah mengapa Abang Long enggan makan. Jenuh saya mendesaknya. Abang Alang dan Kak Ngah pula asyik mencirit saja.. Letih saya menukar kain lampin mereka. Abang Andak pula, asyik main air ketika saya memandikannya. Basah lencun baju saya dibuatnya. Kak Anjang pula, asyik sepahkan nasi dan tumpahkan air.
Penat saya membersihkannya. "
&g t;
"Apabila mak dan ayah pulang, saya sudah seperti kain buruk, tubuh saya lunyai. Saya sudah tidak berupaya melihat muka mak dan ayah. Saya terus melarikan diri ke rumah ibu kandung saya, yang terletak di sebelah rumah mak. Begitulah lazimnya. Apabila fikiran saya terlalu kacau, saya akan ke rumah ibu untuk mencari ketenangan.."
"Ibu!" Saya menerpa masuk lalu memeluk ibu. "Kenapa ibu bagi Mirah kepada mak? Kalau ya pun ibu tidak suka Mirah, bagilah Mirah pada orang lain yang lebih menyayangi Mirah, bukan mak."
"Mirah!" Ibu merangkul saya. " Kan dah berkali-kali ibu tegaskan yang ibu bagi Mirah kepada mak bukan kerana ibu tak sayang Mirah."
"Lazimnya ibu akan membuka kembali lipatan sejarah hidupnya apabila situasi itu berlaku. Ibu ialah kakak mak. Ibu sakit teruk setelah melahirkan saya. Selama berbulan-bulan ibu terlantar di hospital, mak yang telah menjaga saya. Setelah ibu sembuh, ibu dapat lihat sendiri betapa gembiranya mak dapat menjaga seorang anak normal.
Justeru, ibu tidak sampai hati hendak memisahkan kami."
"Ibu telah berasa betapa nikmatnya menjaga tujuh orang anak yang pintar dan cerdas. Jadi, biarlah nikmat itu turut dirasakan oleh mak pula dengan menjaga Mirah. Lagipun, dengan menyerahkan Mirah kepada mak, ibu masih dapat melihat Mirah membesar di hadapan mata ibu, walaupun Mirah tinggal bersama-sama mak. Dari pemerhatian ibu, ibu rasa, mak lebih menyayangi Mirah berbanding dengan anak anaknya yang lain."
"Sayang apa? Ibu tahu tak yang rumah tu macam neraka bagi Mirah? Ibu tahu tak yang Mirah ni tak ubah seperti hamba di rumah tu?"
"Jangan besar-besarkan perkara yang kecil, Mirah. Ibu tahu sekali-sekala saja mak membebankan Mirah dengan kerja-kerja rumah dan tugas menjaga abang-abang dan kakak-kakak Mirah.. Itu pun Mirah buat tidak sesungguh hati. Nasi mentahlah, lauk hanguslah, abang-abang, dan kakak-kakak kena lempanglah."
"Mak adu semua kepada ibu, Ya?" Saya masih mahu berkeras meskipun saya tahu saya bersalah.
"Mak jarang-jarang mengadu keburukan Mirah k epada ibu. Ibu sendiri yang kerap mengintai Mirah dan melihat bagaimana Mirah melaksanakan suruhan mak."
"Saya tunduk. Saya sudah tidak sanggup menentang mata ibu."
"Ibu malu, Mirah. Ibu mengharapkan kehadiran Mirah di rumah mak kau itu dapat meringankan penderitaan mak.
Tetapi, ternyata kehadiran Mirah di rumah itu menambahkan beban mak."
"Saya benar-benar rasa terpukul oleh kata-kata ibu."
"Ibu rasa, apa yang telah mak beri kepada Mirah, jauh lebih baik daripada apa yang diberi kepada anak-anaknya send iri. Mirah dapat ke sekolah. Kakak-kakak dan abang-abang Mirah hanya duduk di rumah. Mirah dapat banyak pakaian cantik. Sedang anak-anak mak yang lain pakaiannya itu-itulah juga. Setiap kali Mirah berjaya dalam peperiksaan, mak sungguh gembira. Dia akan meminta ibu tolong menjaga abang-abang dan kakak-kakak kerana dia nak lihat Mirah terima hadiah."
"Saya tidak sanggup mendengar kata-kata ibu selanjutnya, bukan kerana saya tidak mengakui kesalahan saya, tetapi kerana saya benar-benar malu."
"Saya meninggalkan rumah ibu bukan kerana berasa tersisih daripada ibu kandung sendiri, atau berasa kecewa sebab tidak mendapat pembelaan yang diharap- harapkan. Saya meninggalkan rumah ibu dengan kesedaran baru." "Sesampainya saya ke rumah tempat saya berteduh selama ini,saya dapati mak yang belum s embuh betul sedang melayan kerenah abang-abang dan kakak-kakak dengan penuh sabar. Saya terus menghilangkan diri ke dalam bilik kerana saya dihantui oleh rasa bersalah. Di dalam bilik, saya terus resah-gelisah. "
"Mirah," panggilan lembut mak seiring dengan bunyi ketukan di pintu bilik saya. "Mirah."
"Saya cepat-cepat naik ke atas katil dan memejam mata, pura-pura tidur."
"Sejurus kemudian, terdengar bunyi pintu bilik saya dibuka. "Mirah dah tidur rupa-rupanya! Kesian.. Tentu Mirah letih menjaga abang-abang dan kakak- kakak semasa mak, ke klinik siang tadi. Maafkan mak, sayang. Mak tahu Mirah masih terlalu muda untuk memikul beban seberat itu. Tapi, keadaan benar- benar terdesak pagi tadi, Mir ah. Mak janji, lain kali mak tak akan kacau Mirah lagi. Mak akan meminta ibu atau orang lain menjaga abang- abang dan kakak-kakak kalau mak terpaksa tinggalkan rumah"
Sepanjang mak berkata-kata itu, tangan mak terus mengusap-usap dahi saya. Suara mak tersekat-sekat. Saya terlalu ingin membuka mata dan menatap wajah mak ketika itu.
"Mirah, mak tahu Mirah tak bahagia tinggal bersama-sama mak."
Suatu titisan air mata gugur di atas dahi saya. Kemudian, setitik lagi gugur di atas pipi saya. Selepas itu, titisan-titisan itu kian rancak gugur menimpa serata muka dan leher saya.
"Walau apa pun tanggapan Mi rah kepada mak, bagi mak, Mirah adalah segala-galanya. Mirah telah menceriakan suasana dalam rumah ini. Mirah telah menyebabkan mak berasakan hidup ini kembali berharga. Mirah telah. .."
"Mak!" Saya lantas bangun lalu memeluk mak. Kemudian, tiada kata-kata yang lahir antara kami. Yang kedengaran hanyalah bunyi sedu-sedan dan esak tangis.
Peristiwa pada hari itu dan, pada malamnya telah mengubah pandangan saya terhadap mak, abang-abang dan kakak-kakak. Saya mula merenung dan menilai keringat mak. Saya mula dapat menerima keadaan kakak- kakak dan abang- abang serta belajar menghormati dan, menyayangi mereka.
Keadaan dewan menjadi begitu sunyi seperti tidak berpenghuni sejak gadis itu berbicara.
Setelah meraih kejayaan cemerlang dalam peperiksaan penilaian darjah lima , saya telah ditawarkan untuk melanjutkan pelajaran ke peringkat menengah, di sebuah sekolah berasrama penuh. Saya telah menolak tawaran tersebut.
"Kenapa Mirah tolak tawaran itu?"
"Bukankah di sekolah berasrama penuh itu Mirah boleh belajar dengan sempurna?"
"Betul tu, Mirah. Di sana nanti Mirah tak akan berdepan dengan gangguan daripada abang-abang dan kakak-kakak! "
"Mirah tak menyesal ke, kemudian hari nanti?"
Bertubi-tubi mak dan ayah menyoal. Mata mereka tidak berkelip-kelip memandang saya.
"Mak, ayah." Saya menatap wajah kedua-dua insan itu silih berganti.
"Mirah ingin terus tinggal di rumah ini. Mirah ingin terus berdamping dengan mak, ayah, abang-abang dan kakak-kakak. "
"Tapi, boleh ke Mirah buat ulang kaji di rumah? Pelajaran di sekolah menengah itu, bukannya senang." Mak masih meragui keupayaan saya.
"Insya-Allah, mak. Mi rah rasa, Mirah dapat mengekalkan prestasi Mirah semasa di sekolah menengah nanti," balas saya penuh yakin.
Mak dan ayah kehabisan kata-kata. Mulut mereka terlopong. Mata mereka terus memanah muka saya. Garis-garis kesangsian masih terpamer pada wajah mereka. Sikap mak dan ayah itu telah menguatkan azam saya untuk terus menjadi pelajar cemerlang, di samping menjadi anak dan adik yang baik.
Selama di sekolah menengah, mak sedapat mungkin cuba membebaskan saya daripada kerjakerja memasak dan mengemas rumah, serta tugas menjaga makan pakai abang-abang dan kakak-kakak kerana takut pelajaran saya terganggu. Sebaliknya saya lebih kerap menawarkan diri untuk membantu, lantaran didorong oleh rasa tanggungjawab dan timbang rasa.
Gadis yang bernama Nurul Humairah itu terus bercerita dengan penuh semangat, apabila melihatkan hadirin di dalam dewan itu mendengar ceritanya dengan penuh minat.
"Saya terpaksa juga meninggalkan rumah sewaktu saya melanjutkan pelajaran di Universiti Kebangsaan Malaysia . Di sana saya membuat pengkhususan dalam bidang pendidikan khas. Bidang ini sengaja saya pilih kerana saya ingin menabur bakti kepada segelintir pelajar yang kurang bernasib baik. Di samping itu, pengetahuan yang telah saya peroleh itu, dapat saya manfaatkan bersama untuk abang-abang dan kakak-kakak. . "
"Kini, telah setahun lebih saya mengharung suka duka, sebagai seorang guru pendidikan khas di kampung saya sendiri. Saya harus akui,segulung ijazah yang telah saya miliki tidak seberapa nilai nya, berbanding dengan mutiara-mutiara pengalaman yang telah mak kutip sepanjang hayatnya."
"Sekarang, saya lebih ikhlas dan lebih bersedia untuk menjaga abang-abang dan kakak-kakak. . Pun begitu, hati ini sering tersentuh apabila beberapa kali saya terdengar perbualan mak dan Ayah."
"Apa akan jadi kepada kelima-lima orang anak kita itu lepas kita tak ada, bang?" suara mak diamuk pilu.
Ayah akan mengeluh, kemudian berkata, "Entahlah. Takkan kita nak harapkan Mirah pula?"
"Mirah bukan anak kandung kita." Mak meningkah. "Kita tak boleh salahkan dia kalau dia abaikan abang-abang dan kakak-kakaknya. "
"Mirah nak tegaskan di sini, mak, yang Mirah akan membela nasib abang-abang dan, kakak-kakak lepas mak dan ayah tak ada. Ya, memang mereka bukan saudara kandung Mirah.. Tapi, tangan yang telah membelai tubuh Mirah dan tubuh mereka adalah tangan yang sama. Tangan yang telah menyuapkan Mirah dan mereka, juga tangan yang sama. Tangan yang memandikan Mirah dan mereka, adalah tangan yang sama, tangan mak."
Kelihatan gadis yang berkebarung ungu, berbunga merah jambu itu, tunduk sambil mengesat air matanya dengan sapu tangannya. Kebanyakan hadirin, khususnya wanita turut mengesat air mata mereka.
Gadis itu menyambung bicaranya. Tiga bulan lalu, saya terbaca mengenai pencalonan anugerah "Ibu Misali" dalam akhbar. Saya terus mencalonkan mak, di luar pengetahuannya. Saya pasti, kalau mak tahu, dia tidak akan merelakannya. Saya sendiri tidak yakin yang mak akan terpilih untuk menerima anugerah ini, sebab anak- anak mak bukan terdiri daripada orang-orang yang disanjung masyarakat, seperti lazimnya anak- anak "Ibu Misali" yang lain.
"Lorong dan denai kehidupan yang orang-orang seperti mak lalui mempunyai banyak duri dan, ranjau berbanding dengan ibu-ibu lain. Betapa keimanan mak tidak tergugat biarpun berdepan dengan dugaan yang sebegini hebat. Tiada rasa kesal. Tiada rasa putus asa. Tidak ada salah-menyalahkan antara mak dan ayah."
"Maafkan Mirah sekali lagi, mak. Hingga ke saat- saat terakhir tadi, mak masih tidak menyenangi tindakan Mirah mencalonkan mak, untuk menerima anugerah ini. Mak merasakan diri mak terlalu kerdil lebih-lebih lagi setelah mak mendengar pengisahan "Ibu Misali" pertama, kedua dan ketiga. Berkali-kali mak tegaskan yang mak menjaga anak-anak mak bukan kerana mahukan anugerah ini, tapi kerana anak-anak adalah amanah Tuhan."
"Saya ingin jelaskan di sini bahawa saya mencalonkan mak untuk anugerah ini, bukan dengan tujuan merayu simpati. Saya cuma berharap kegigihan dan ketabahan mak akan dapat direnung oleh ibu-ibu lain, terutama ibu-ibu muda yang senang-senang mendera dan mencampakkan anak mereka yang cornel, segar-bugar serta sempurna fizikal dan, mental."
"Sebagai pengakhir bicara, sekali lagi saya ingin merakam penghargaan saya kepada pihak penganjur, kerana telah mempertimbangkan mak saya sebagai salah seorang penerima anugerah "Ibu Misali" tahun ini.. Semoga pemilihan mak ini akan memberi semangat baru kepada ibu-ibu lain yang senasib dengan mak."
"Sekian, wassalamualaikum warahmatullah. "
Gadis itu beredar meninggalkan pembesar suara.
Penku telah lama terbaring. Buku notaku telah lunyai dek air mataku sendiri. Bahuku dienjut-enjut oleh sedu- sedanku. Pandanganku menjadi kabur. Dalam pandangan yang kabur-kabur itu, mataku silau oleh pancaran cahaya kamera rakan semejaku. Aku segera mengangkat kameraku dan menangkap gambar secara rambang tanpa mengetahui sudut mana atau, apa sebenarnya yang telah menarik perhatian wartawan-wartanan lain.
'Bertenang. Kau di sini sebagai pemberita. Kau seharusnya berusaha mendapat skop yang baik, bukan dihanyutkan oleh perasaan kau sendiri.'
Terdengar pesanan satu suara dari dalam diriku.
Lantas, aku mengesat air mataku. Aku menyelak buku notaku mencari helaian yang masih belum disentuh oleh air mataku. Aku capai penku semula.
"Demikianlah kisah pelayaran seorang ibu di samudera kehidupan yang tidak sunyi dari ombak dan badai. Sekarang, dijemput Yang Berbahagia Puan Sri Salwa Najwa dengan diiringi oleh Pengerusi Jawatankuasa Pemilihan "Ibu Mithali" untuk menyampaikan anugerah "Ibu Mithali" serta beberapa hadiah iringan kepada Puan Afifah Rashid. Yang Berbahagia Puan Sri dipersilakan. "
Nurul Humairah membantu maknya bangun. Kemudian, dia memimpin maknya melangkah ke arah Yang Berbahagia Puan Sri Salwa Najwa. Lutut maknya menggeletar. Namun begitu kerana dia tidak berdaya menahan perasaannya dia terduduk kembali di atas kerusi.
Melihatkan itu, Yang Berbahagia Puan Sri Salwa Najwa sendiri datang mendapatkan Puan Afifah, lalu mengalungkan pingat itu. Setelah itu, beliau menyampaikan beberapa hadiah iringan. Air mata Puan Afifah berladung.
Tepukan gemuruh bergema dari segenap penjuru dewan.. Sejurus kemudian, seorang demi seorang penerima anugerah "Ibu Mithali" sebelumnya, naik ke pentas bersalaman dan berpelukan dengan Puan Afifah. Bertambah lebatlah hujan air mata penerima anugerah "Ibu Mithali" yang terakhir itu.
Renung-renungkan dan Selamat beramal...
Suami isteri terkejut sejadah "berdiri" sendiri

BUKIT MERTAJAM: Sepasang suami isteri yang berselisih faham mengenai arah kiblat di rumah mereka di Taman Haji Mohd Amin, Permatang Pauh di sini terkejut apabila sejadah yang terdapat dalam salah sebuah bilik di kediaman mereka tiba-tiba "berdiri" dengan sendiri malam tadi.
Pasangan Mohamad Shuhaimi Md Ilias dan Zainab Ramli, masing-masing berusia 26 tahun, menyedari kejadian ganjil berkenaan kira-kira jam 9.30 malam dan masih lagi dalam keadaan demikian setakat 1.30 tengah hari.
Mohamad Shuhaimi yang bekerja di sebuah syarikat telekomunikasi di sini berkata sejadah berkenaan adalah hantaran perkahwinan mereka dan ia digunakan sejak tiga tahun lalu.
"Sebelum ini kami tidak pernah berselisih faham mengenai arah kiblat di rumah dan ia mula menjadi pertikaian semalam selepas arah kiblat berbeza dengan apa digunakan masjid berhampiran rumah," katanya kepada pemberita di sini hari ini.
Katanya, ketika kejadian beliau sedang memandikan anak perempuan mereka berusia dua tahun, manakala isterinya pula sedang menggosok pakaian di bilik berlakunya kejadian ganjil itu.
Mohamad Shuhaimi berkata, beliau yang menghamparkan sejadah itu di bilik berkenaan sebelum memandikan anaknya dan tiba-tiba dipanggil oleh Zainab yang berada dalam keadaan ketakutan serta terkejut.
"Isteri beritahu sejadah dihamparkan tadi berdiri secara sendiri ketika dia hendak mengambil pakaian untuk digosok. Saya yang bergegas ke bilik itu terkejut melihatnya.
"Saya bertanya kepada isteri saya sama ada dia ada terkuis sejadah terbabit dengan menggunakan kakinya sehingga menyebabkannya "berdiri" tetapi dia menafikannya dengan mengatakan ia berdiri secara sendiri," katanya.
Katanya, beliau menganggap kejadian itu mempunyai hikmahnya tersendiri dan berkemungkinan hendak memberitahu keluarganya mengenai arah kiblat yang sebenarnya.
Kejadian itu menyebabkan rumah mereka menjadi tumpuan kerana orang ramai berpusu-pusu datang untuk melihat sendiri sejadah "berdiri" berkenaan. - Bernama
Rabu, September 03, 2008
Amalan-Amalan Sunnah Pada Bulan Ramadan
Bulan Ramadan merupakan bulan yang penuh berkat. Allah melimpahkan kasih sayang-Nya kepada seluruh hamba-hamba-Nya yang bertakwa. Ganjaran pahala kurniaan-Nya untuk hamba-Nya yang beribadah pada bulan Ramadan juga berlipat kali ganda melebihi bulan-bulan yang lain. Justeru itu tidak hairanlah sekiranya bagi golongan yang beriman mereka berlumba-lumba untuk mempertingkatkan amal ibadah mereka pada bulan yang mulia ini. Berikut adalah beberapa amalan-amalan yang disyari’atkan bagi seluruh umat islam sempena Ramadan al-Mubarak ini.
Apabila seseorang melihat anak bulan untuk menentukan tarikh bermulanya bulan Ramadan, dia hendaklah berdoa dengan doa yang telah diajar oleh Nabi s.a.w iaitu :
"Ya Allah munculkanlah anak bulan ini ke atas kami dengan membawa keberkatan, keselamatan dan Islam. Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah." - Hadis riwayat al-Tirmizi, no: 3373.
Pada bulan Ramadan ini disyariatkan untuk berpuasa yakni meninggalkan makan dan minum serta segala perbuatan yang keji dari terbit fajar sehingga terbenam matahari. Sabda Nabi:
"Telah tiba kepada kamu bulan Ramadan bulan yang penuh keberkatan. Allah telah mewajibkan puasa ke atas kamu semua." - Hadis riwayat Ahmad, no: 9133.
Berpuasa bukan sekadar meninggalkan makanan dan minuman. Tetapi, untuk memperolehi kesempurnaan di dalam berpuasa seseorang seharusnya juga meninggalkan perkataan-perkataan yang keji serta perbuatan-perbuatan orang jahil. Rasulullah s.a.w bersabda:
"Puasa adalah perisai. Oleh itu, janganlah seseorang mengerjakan rafath (perkataan yang keji) atau berbuat sesuatu perkara yang jahil (menyalahi hukum)." – Hadis riwayat al-Bukhari, no: 1894.
Justeru, disunnahkan bagi orang yang berpuasa meninggalkan perbualan yang lagha (tidak berfaedah), mengumpat, bercakap kotor, mencerca orang lain dan sebagainya. Puasa juga mendidik seseorang untuk menjadi penyabar. Oleh itu, seseorang yang berpuasa disunnahkan bersabar apabila dicerca mahupun diperangi oleh pihak lain dengan mengucapkan “sesungguhnya aku sedang berpuasa” sebagaimana sabda rasulullah s.a.w:
"Puasa adalah perisai. Oleh itu, janganlah seseorang mengerjakan rafath (perkataan yang keji) dan berbuat sesuatu perkara yang jahil (menyalahi hukum). Jika seseorang itu diperangi atau dicaci, dia hendaklah berkata: Sesungguhnya aku sedang berpuasa (Nabi menyebutnya dua kali). ” - Hadis riwayat Imam al-Bukhari, no: 1894.
Semoga melalui ucapan itu dapat mencegah pihak lain dari mencerca atau memeranginya. Berbohong boleh mencacatkan kesempurnaan puasa. Oleh itu, syariat melarang seseorang bercakap bohong ketika berpuasa dan Allah melarang keras perbuatan dengan ancaman tidak akan menerima ibadah puasanya. Rasulullah s.a.w bersabda:
"Sesiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan melakukan perbuatan it uterus menerus, Allah langsung tidak berhajat (memandang) perbuatannya yang meninggalkan makan dan minum (puasa)." - Hadis riwayat al-Bukhari, no: 1903.
Umat Islam sepatutnya menggunakan kesempatan di bulan Ramadan yang penuh berkat ini dengan menggandakan amal kebajikan seperti bersedekah. Rasulullah s.a.w yang sememangnya terkenal dengan sifat dermawan sentiasa memperbanyakkan sedekah pada bulan Ramadan berbanding bulan-bulan yang lain. Ibn Abbas r.a berkata:
Nabi s.a.w adalah manusia paling dermawan dalam hal kebaikan dan kemuncak sifat dermawanan baginda itu ditunjukkan pada bulan Ramadan." - Hadis riwayat al-Bukhari, no: 1902.
Disunnahkan kepada seluruh umat Islam agar bertadarus (membaca dan mempelajari) al-Quran. Sesungguhnya Rasulullah s.a.w bertadarus al-Quran bersama Jibril a.s pada setiap malam di bulan Ramadan. Ibn Abbas r.a berkata:
"Jibril a.s menemuinya (Nabi s.a.w ) pada setiap malam di bulan Ramadan hingga bulan itu berlalu. Nabi s.a.w memperdengarkan bacaan al-Quran kepadanya." - Hadis riwayat Imam al-Bukhari, no: 1902.
Para salafussoleh adalah antara umat Nabi s.a.w yang diiktiraf sebagai generasi terbaik. Terdiri daripada kalangan mereka para sahabat baginda s.a.w, para tabi’in dan tabi’ al-tabi’in. Mereka amat mengambil berat amalan membaca al-Quran pada bulan Ramadan dan sudah menjadi kelaziman bagi mereka mengkhatam al-Quran berkali-kali pada bulan Ramadan.Bulan Ramadan adalah bulan di mana pintu Rahmat (kasih sayang) dan pintu keampunan Allah dibuka seluas-luasnya serta ganjaran pahala dilipat gandakan kepada hamba-Nya tanpa batasan. Oleh itu, kita hendaklah memperbanyakkan berzikir, berdoa dan memohon keampunan kepada-Nya kerana pahalanya akan digandakan jauh lebih tinggi berbanding bulan-bulan yang lain.
Jika berkemampuan, berusahalah untuk mengerjakan ibadah umrah pada bulan Ramadan kerana pahalanya menyamai pahala mengerjakan ibadah haji. Rasulullah s.a.w bersabda:
"Apabila datang bulan Ramadan, kerjakanlah umrah kerana sesungguhnya umrah pada bulan Ramadan adalah menyamai haji." - Hadis riwayat al-Bukhari, no: 1782.
Menurut al-Hafiz Ibn Hajar al-'Asqalani r.h: "Pahala umrah pada bulan Ramadan menyamai pahala haji. Tetapi, bukan bererti umrah tersebut dapat mengugurkan kewajipan haji. Berdasarkan ijmak ulama, umrah tidak dapat menggantikan kewajipan ibadah haji hinggakan orang yang telah melaksanakan umrah (pada bulan Ramadan) tetap berkewajipan melaksanakan haji." – Rujuk Fathul Baari, jil. 10, ms. 27
Pada bulan Ramadan terdapat satu malam yang lebih mulia berbanding melakukan ibadah selama seribu bulan yang dipanggil sebagai lailatulqadar. Firman Allah S.W.T:
"Sesungguhnya Kami telah menurunkan (al-Quran) ini pada malam al-Qadar. Menurut pengetahuanmu, apakah yang kebesaran yang terdapat pada malam al-Qadar itu? Malam al-Qadar lebih baik daripada seribu bulan. Pada Malam itu, para malaikat dan Jibril turun dengan izin Tuhan mereka kerana membawa segala perkara (yang ditakdirkan berlaku pada tahun berikutnya). Sejahteralah malam (yang berkat) itu hingga terbit fajar." - Surah al-Qadr: 1-5.
Justeru itu, kita semua hendaklah menggandakan ibadah kita pada sepuluh malam yang akhir di bulan Ramadan terutamanya pada malam-malam yang ganjil, iaitu malam ke 21, 23, 24, 27 dan malam ke 29 demi mendapatkan malam al-Qadar. Baginda bersungguh-sungguh merebut peluang hidup untuk melakukan ibadah sambil beri’tikaf di masjid. Ketika beri’tikaf, umat Islam dianjurkan memperbanyakkan ibadah sunat seperti solat, berdoa, berzikir, membaca al-Quran, berselawat ke atas Nabi s.a.w, mempelajari ilmu-ilmu agama dan lain-lain. Aisyah r.a berkata:
"Rasulullah s.a.w bersungguh-sungguh beribadah pada sepuluh hari terakhir (bulan Ramadan) yang tidak pernah dilakukannya pada waktu yang lain." – Hadis riwayat Muslim, no: 1174.
Solat Tarawih atau Qiyam Ramadan merupakan satu sunnah yang amat dituntut. Umat Islam perlu menghidupkan malam pada bulan Ramadan dengan amal ibadah seperti solat-solat sunat. Rasulullah s.a.w bersabda:
"Sesiapa bersolat pada malam Ramadan dengan keimanan sebenar dan mengharapkan ganjaran (daripada Allah), diampunkan dosa-dosanya yang telah lalu." – Hadis riwayat Imam Muslim, no: 759.
Semoga huraian ringkas mengenai sunnah menyambut bulan Ramadan al-Mubarak ini dapat meningkatkan keazaman semua pihak untuk mencontohi Rasulullah s.a.w demi memanfaatkan keutamaan yang dianugerahkan oleh Allah pada bulan Ramadan al-Mubarak ini.
sumber:http://akob73.blogspot.com/
Apabila seseorang melihat anak bulan untuk menentukan tarikh bermulanya bulan Ramadan, dia hendaklah berdoa dengan doa yang telah diajar oleh Nabi s.a.w iaitu :
"Ya Allah munculkanlah anak bulan ini ke atas kami dengan membawa keberkatan, keselamatan dan Islam. Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah." - Hadis riwayat al-Tirmizi, no: 3373.
Pada bulan Ramadan ini disyariatkan untuk berpuasa yakni meninggalkan makan dan minum serta segala perbuatan yang keji dari terbit fajar sehingga terbenam matahari. Sabda Nabi:
"Telah tiba kepada kamu bulan Ramadan bulan yang penuh keberkatan. Allah telah mewajibkan puasa ke atas kamu semua." - Hadis riwayat Ahmad, no: 9133.
Berpuasa bukan sekadar meninggalkan makanan dan minuman. Tetapi, untuk memperolehi kesempurnaan di dalam berpuasa seseorang seharusnya juga meninggalkan perkataan-perkataan yang keji serta perbuatan-perbuatan orang jahil. Rasulullah s.a.w bersabda:
"Puasa adalah perisai. Oleh itu, janganlah seseorang mengerjakan rafath (perkataan yang keji) atau berbuat sesuatu perkara yang jahil (menyalahi hukum)." – Hadis riwayat al-Bukhari, no: 1894.
Justeru, disunnahkan bagi orang yang berpuasa meninggalkan perbualan yang lagha (tidak berfaedah), mengumpat, bercakap kotor, mencerca orang lain dan sebagainya. Puasa juga mendidik seseorang untuk menjadi penyabar. Oleh itu, seseorang yang berpuasa disunnahkan bersabar apabila dicerca mahupun diperangi oleh pihak lain dengan mengucapkan “sesungguhnya aku sedang berpuasa” sebagaimana sabda rasulullah s.a.w:
"Puasa adalah perisai. Oleh itu, janganlah seseorang mengerjakan rafath (perkataan yang keji) dan berbuat sesuatu perkara yang jahil (menyalahi hukum). Jika seseorang itu diperangi atau dicaci, dia hendaklah berkata: Sesungguhnya aku sedang berpuasa (Nabi menyebutnya dua kali). ” - Hadis riwayat Imam al-Bukhari, no: 1894.
Semoga melalui ucapan itu dapat mencegah pihak lain dari mencerca atau memeranginya. Berbohong boleh mencacatkan kesempurnaan puasa. Oleh itu, syariat melarang seseorang bercakap bohong ketika berpuasa dan Allah melarang keras perbuatan dengan ancaman tidak akan menerima ibadah puasanya. Rasulullah s.a.w bersabda:
"Sesiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan melakukan perbuatan it uterus menerus, Allah langsung tidak berhajat (memandang) perbuatannya yang meninggalkan makan dan minum (puasa)." - Hadis riwayat al-Bukhari, no: 1903.
Umat Islam sepatutnya menggunakan kesempatan di bulan Ramadan yang penuh berkat ini dengan menggandakan amal kebajikan seperti bersedekah. Rasulullah s.a.w yang sememangnya terkenal dengan sifat dermawan sentiasa memperbanyakkan sedekah pada bulan Ramadan berbanding bulan-bulan yang lain. Ibn Abbas r.a berkata:
Nabi s.a.w adalah manusia paling dermawan dalam hal kebaikan dan kemuncak sifat dermawanan baginda itu ditunjukkan pada bulan Ramadan." - Hadis riwayat al-Bukhari, no: 1902.
Disunnahkan kepada seluruh umat Islam agar bertadarus (membaca dan mempelajari) al-Quran. Sesungguhnya Rasulullah s.a.w bertadarus al-Quran bersama Jibril a.s pada setiap malam di bulan Ramadan. Ibn Abbas r.a berkata:
"Jibril a.s menemuinya (Nabi s.a.w ) pada setiap malam di bulan Ramadan hingga bulan itu berlalu. Nabi s.a.w memperdengarkan bacaan al-Quran kepadanya." - Hadis riwayat Imam al-Bukhari, no: 1902.
Para salafussoleh adalah antara umat Nabi s.a.w yang diiktiraf sebagai generasi terbaik. Terdiri daripada kalangan mereka para sahabat baginda s.a.w, para tabi’in dan tabi’ al-tabi’in. Mereka amat mengambil berat amalan membaca al-Quran pada bulan Ramadan dan sudah menjadi kelaziman bagi mereka mengkhatam al-Quran berkali-kali pada bulan Ramadan.Bulan Ramadan adalah bulan di mana pintu Rahmat (kasih sayang) dan pintu keampunan Allah dibuka seluas-luasnya serta ganjaran pahala dilipat gandakan kepada hamba-Nya tanpa batasan. Oleh itu, kita hendaklah memperbanyakkan berzikir, berdoa dan memohon keampunan kepada-Nya kerana pahalanya akan digandakan jauh lebih tinggi berbanding bulan-bulan yang lain.
Jika berkemampuan, berusahalah untuk mengerjakan ibadah umrah pada bulan Ramadan kerana pahalanya menyamai pahala mengerjakan ibadah haji. Rasulullah s.a.w bersabda:
"Apabila datang bulan Ramadan, kerjakanlah umrah kerana sesungguhnya umrah pada bulan Ramadan adalah menyamai haji." - Hadis riwayat al-Bukhari, no: 1782.
Menurut al-Hafiz Ibn Hajar al-'Asqalani r.h: "Pahala umrah pada bulan Ramadan menyamai pahala haji. Tetapi, bukan bererti umrah tersebut dapat mengugurkan kewajipan haji. Berdasarkan ijmak ulama, umrah tidak dapat menggantikan kewajipan ibadah haji hinggakan orang yang telah melaksanakan umrah (pada bulan Ramadan) tetap berkewajipan melaksanakan haji." – Rujuk Fathul Baari, jil. 10, ms. 27
Pada bulan Ramadan terdapat satu malam yang lebih mulia berbanding melakukan ibadah selama seribu bulan yang dipanggil sebagai lailatulqadar. Firman Allah S.W.T:
"Sesungguhnya Kami telah menurunkan (al-Quran) ini pada malam al-Qadar. Menurut pengetahuanmu, apakah yang kebesaran yang terdapat pada malam al-Qadar itu? Malam al-Qadar lebih baik daripada seribu bulan. Pada Malam itu, para malaikat dan Jibril turun dengan izin Tuhan mereka kerana membawa segala perkara (yang ditakdirkan berlaku pada tahun berikutnya). Sejahteralah malam (yang berkat) itu hingga terbit fajar." - Surah al-Qadr: 1-5.
Justeru itu, kita semua hendaklah menggandakan ibadah kita pada sepuluh malam yang akhir di bulan Ramadan terutamanya pada malam-malam yang ganjil, iaitu malam ke 21, 23, 24, 27 dan malam ke 29 demi mendapatkan malam al-Qadar. Baginda bersungguh-sungguh merebut peluang hidup untuk melakukan ibadah sambil beri’tikaf di masjid. Ketika beri’tikaf, umat Islam dianjurkan memperbanyakkan ibadah sunat seperti solat, berdoa, berzikir, membaca al-Quran, berselawat ke atas Nabi s.a.w, mempelajari ilmu-ilmu agama dan lain-lain. Aisyah r.a berkata:
"Rasulullah s.a.w bersungguh-sungguh beribadah pada sepuluh hari terakhir (bulan Ramadan) yang tidak pernah dilakukannya pada waktu yang lain." – Hadis riwayat Muslim, no: 1174.
Solat Tarawih atau Qiyam Ramadan merupakan satu sunnah yang amat dituntut. Umat Islam perlu menghidupkan malam pada bulan Ramadan dengan amal ibadah seperti solat-solat sunat. Rasulullah s.a.w bersabda:
"Sesiapa bersolat pada malam Ramadan dengan keimanan sebenar dan mengharapkan ganjaran (daripada Allah), diampunkan dosa-dosanya yang telah lalu." – Hadis riwayat Imam Muslim, no: 759.
Semoga huraian ringkas mengenai sunnah menyambut bulan Ramadan al-Mubarak ini dapat meningkatkan keazaman semua pihak untuk mencontohi Rasulullah s.a.w demi memanfaatkan keutamaan yang dianugerahkan oleh Allah pada bulan Ramadan al-Mubarak ini.
sumber:http://akob73.blogspot.com/