Selasa, April 03, 2012

KONSEP BERSYUKUR

KONSEP BERSYUKUR

DEFINISI SYUKUR

Memuji, berterima kasih dan merasa berhutang budi kepada Allah (s.w.t) atas kurniaan-Nya, bahagia atas kurniaan tersebut dan mencintai-Nya dengan melaksanakan ketaatan kepada-Nya.

Bersyukur (berterima kasih), kepada sesama manusia lebih cenderung kepada menunjukkan perasaan senang menghargai. Adapun bersyukur kepada Allah (s.w.t) lebih cenderung kepada pengakuan bahawa semua kenikmatan adalah pemberian dari Allah (s.w.t) . Inilah yang disebut sebagai syukur. Lawan kata dari syukur nikmat adalah kufur nikmat, iaitu mengingkari bahawa kenikmatan bukan diberikan oleh Allah (s.w.t) . Kufur nikmat berpotensi merosak keimanan.

KEWAJIPAN BERSYUKUR

Allah S.W.T berfirman ; Maksudnya : "Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah." (Surah al-Baqarah 2:172)

Ayat di atas menerangkan kewajipan ke atas umat Islam supaya bersyukur kepada Allah (s.w.t) sekiranya kita betul-betul menyembah Allah (s.w.t) .

Allah S.W.T berfirman lagi,
Maksudnya : "Sesungguhnya apa yang kamu sembah selain Allah itu adalah berhala, dan kamu membuat dusta. Sesungguhnya yang kamu sembah selain Allah itu tidak mampu memberikan rezki kepadamu; Maka mintalah rezki itu di sisi Allah, dan sembahlah dia dan bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada- Nyalah kamu akan dikembalikan." (Surah al-Ankabut 29:17)

Allah S.W.T berfirman;
Maksudnya : "Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku." (Surah al-Baqarah 2:152)

Allah S.W.T berfirman;
Maksudnya : "Karena itu, Maka hendaklah Allah saja kamu sembah dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur". (Surah az-Zumar 39:66)


MENGAPA HARUS BERSYUKUR

1. Allah (s.w.t) yang menjadikan manusia dan seluruh makhluk

Maksudnya : "Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur." (Surah al-Nahl 16:78)

2. Allah (s.w.t) menjadikan malam dan siang
Allah S.W.T berfirman;
Maksudnya : "Dan Karena rahmat-Nya, dia jadikan untukmu malam dan siang, supaya kamu beristirahat pada malam itu dan supaya kamu mencari sebahagian dari karunia-Nya (pada siang hari) dan agar kamu bersyukur kepada-Nya." (Surah al-Qashas 28:73)

3. Allah (s.w.t) yang mengeluarkan dari bumi rezeki
Allah S.W.T berfirman;
Maksudnya : "Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah bumi yang mati. kami hidupkan bumi itu dan kami keluarkan dari padanya biji-bijian, Maka daripadanya mereka makan. Dan kami jadikan padanya kebun-kebun kurma dan anggur dan kami pancarkan padanya beberapa mata air, Supaya mereka dapat makan dari buahnya, dan dari apa yang diusahakan oleh tangan mereka. Maka mengapakah mereka tidak bersyukur?" (Surah Yaasin 36:33-35)

4. Allah (s.w.t) menciptakan Langit dan Bumi dan menurunkan hujan
Allah S.W.T berfirman;
Maksudnya : "Allah-lah yang Telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, Kemudian dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezki untukmu; dan dia Telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu, berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan dia Telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai." (Surah Ibrahim 14:32)

5. Allah (s.w.t) yang mengurniakan ilmu
Allah S.W.T berfirman;
Maksudnya : "Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari AI Kitab[1097]: "Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip". Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: "Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba Aku apakah Aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). dan barangsiapa yang bersyukur Maka Sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, Maka Sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia". (Surah an-Naml 27:40)


KELEBIHAN BAGI ORANG YANG BERSYUKUR

1. Rezeki akan bertambah
Allah S.W.T berfirman;
Maksudnya : "Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". (Surah Ibrahim 14:7)

2. Diberikan hikmah kebijaksanaan
Allah S.W.T berfirman;
Maksudnya : "Dan Sesungguhnya Telah kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: "Bersyukurlah kepada Allah. dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), Maka Sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, Maka Sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji". (Surah Luqman 31:12)

3. Tidak akan disiksa di Akhirat
 Allah S.W.T berfirman;
Maksudnya : "Mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman ? dan Allah adalah Maha Mensyukuri[370] lagi Maha Mengetahui." (Surah an-Nisa' 4:147)

4. Orang yang mula-mula masuk Syurga
Ibnu `Abbas meriwayatkan, Rasulullah (s.a.w) bersabda : “Orang pertama yanag akan dipanggil untuk masuk surga adalah orang-orang yang sentiasa memanjatkan puji syukur kepada Allah, iaitu orang-orang yang sentiasa memuji Allah dalam keadaan lapang dan dalam keadaan sempit”. Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya sebaik-baik hamba Allah adalah orang yang suka memanjatkan puji dan syukur kepada Allah” (Riyadhus Shalihin 27)


CARA BERSYUKUR

1. Sentiasa memuji Allah (s.w.t)
Allah S.W.T berfirman;
Maksudnya : "Dan Sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: "Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?" tentu mereka akan menjawab: "Allah". Katakanlah : "Segala puji bagi Allah"; tetapi kebanyakan mereka tidak Mengetahui." (Surah Luqman 31:25)

2. Mendirikan Solat
Allah S.W.T berfirman;
Maksudnya : "Sesungguhnya kami Telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka Dirikanlah shalat Karena Tuhanmu; dan berkorbanlah." (Surah al-Kauthar 108:1-2)

3. Bersujud Syukur kepada Allah (s.w.t)
“Bahwasanya Nabi (s.a.w), apabila datang kepadanya suatu perkara yang menggembirakan atau mendapatkan kabar gembira, beliau langsung bersyukur sujud, bersyukur kepada Allah (s.w.t) .” (HR Abu Dawud)

Ketika Rasulullah (s.a.w) beribadah sampai beliau bengkak-bengkak, Sayidah Aisyah isterinya berkata, “Wahai Rasulullah, mengapa engkau beribadah sampai seperti itu, bukankah Allah telah mengampuni segala dosamu?” Rasulullah menjawab, “Tidakkah engkau suka aku menjadi hamba Allah yang bersyukur?”


Hadis yang diriwayatkan daripada Ibn cUmar Nabi (s.a.w) bersabda :
حَدَّثَهُمْ أَنَّ عَبْدًا مِنْ عِبَادِ اللَّهِ قَالَ يَا رَبِّ لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِي لِجَلاَلِ وَجْهِكَ وَلِعَظِيمِ سُلْطَانِكَ فَعَضَّلَتْ بِالْمَلَكَيْنِ فَلَمْ يَدْرِيَا كَيْفَ يَكْتُبَانِهَا فَصَعِدَا إِلَى السَّمَاءِ وَقَالاَ يَا رَبَّنَا إِنَّ عَبْدَكَ قَدْ قَالَ مَقَالَةً لاَ نَدْرِي كَيْفَ نَكْتُبُهَا قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ وَهُوَ أَعْلَمُ بِمَا قَالَ عَبْدُهُ مَاذَا قَالَ عَبْدِي قَالاَ يَا رَبِّ إِنَّهُ قَالَ يَا رَبِّ لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِي لِجَلاَلِ وَجْهِكَ وَعَظِيمِ سُلْطَانِكَ فَقَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُمَا اكْتُبَاهَا كَمَا قَالَ عَبْدِي حَتَّى يَلْقَانِي فَأَجْزِيَهُ بِهَا

Maksudnya :
“Bahawasanya salah seorang hamba di antara hamba-hamba Allah mengucapkan, Ya Tuhanku, kepunyaan-Mulah segala puji sebagaimana yang layak bagi keluruhan-Mulah dan keagungan-Mu]`. Maka, ucapan ini menjadikan kedua malaikat bingung sehingga mereka tidak tahu bagaimana yang harus mereka tulis. Maka naiklah keduanya kepada Allah, lalu berkata, `Ya Tuhan kami, sesungguhnya seorang hamba telah mengucapkan suatu perkataan yang kami tidak tahu bagaimana kami harus menulisnya.` Allah bertanya – padahal Dia Maha Mengetahui apa yang diucapkan oleh hamba-Nya, `Apa yang diucapkan oleh hamba-Ku?` Mereka menjawab,`Ya Tuhan kami, sesungguhnya dia mengucapkan, Lakal hamdu kamaa yanbaghii li jalaali wajhika wa azhiimi sulthaanika.` Kemudian Allah berfirman kepada mereka, `Tulislah sebagaimana yang diucapkan hamba-Ku itu hingga dia bertemu Aku, maka Aku yang akan membalasnya”. (HR Ibn Majah, Sunan Ibn Majah hadis no.3791)


KESAN @ AKIBAT TIDAK BERSYUKUR

1. Mudah diperdaya oleh syaitan

Allah S.W.T berfirman;
Maksudnya :
"Iblis menjawab: "Karena Engkau Telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat)." (Surah al-A'raf 7:16-17)

2. Ditimpa bala bencana
Allah S.W.T berfirman;
Maksudnya :
"Katakanlah: "Siapakah yang dapat menyelamatkan kamu dari bencana di darat dan di laut, yang kamu berdoa kepada-Nya dengan rendah diri dengan suara yang Lembut (dengan mengatakan : "Sesungguhnya jika dia menyelamatkan kami dari (bencana) ini, tentulah kami menjadi orang-orang yang bersyukur". Katakanlah: "Allah menyelamatkan kamu dari bencana itu dan dari segala macam kesusahan, Kemudian kamu kembali mempersekutukan-Nya."

3. Di azab oleh Allah (s.w.t)
Allah S.W.T berfirman;
Maksudnya :
"Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". (Surah Ibrahim 14:7)

4. Orang mengkhianat dan mengingkari nikmat
Allah S.W.T berfirman;
Maksudnya :
"Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang Telah beriman. Sesungguhnya Allah tidak menyukai tiap-tiap orang yang berkhianat lagi mengingkari nikmat." (Surah al-Hajj 22:38)

5. Tidak bersyukur di atas rezeki yang dianugerahi
Allah S.W.T berfirman;
Maksudnya :
"Sesungguhnya bagi kaum Saba' ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (kepada mereka dikatakan): "Makanlah olehmu dari rezki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan yang Maha Pengampun".Tetapi mereka berpaling, Maka kami datangkan kepada mereka banjir yang besar[1236] dan kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit dari pohon Sidr[1237]. Demikianlah kami memberi balasan kepada mereka Karena kekafiran mereka. dan kami tidak menjatuhkan azab (yang demikian itu), melainkan Hanya kepada orang-orang yang sangat kafir." (Surah Saba' 34:15-17)

Selasa, Mac 20, 2012

FAKTA SEBENAR TENTANG DUNIA

FIRMAN ALLAH SWT:

"Sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan"(Al Hadid:20)

"Dan tidak (dinamakan) kehidupan dunia melainkan permainan yang sia-sia dan hiburan yang melalaikan: dan demi sesungguhnya negeri akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa."(Al Ana'am:32)


""Wahai Tuhan kami! Berilah kami kebaikan) di dunia". (orang-orang ini diberikan kebaikan di dunia) dan tidak ada baginya sedikitpun kebaikan di akhirat."(Al Baqarah:200)


"Dan (ingatlah bahawa) kehidupan di dunia ini (meliputi segala kemewahannya dan pangkat kebesarannya) tidak lain hanyalah kesenangan bagi orang-orang yang terpedaya."(A-li'Imraan 3:185)


"Dihiaskan (dan dijadikan indah) kepada manusia: kesukaan kepada benda-benda yang diingini nafsu, iaitu perempuan-perempuan dan anak-pinak; harta benda yang banyak bertimbun-timbun, dari emas dan perak; kuda peliharaan yang bertanda lagi terlatih; dan binatang-binatang ternak serta kebun-kebun tanaman. Semuanya itu ialah kesenangan hidup di dunia. Dan (ingatlah), pada sisi Allah ada tempat kembali yang sebaik-baiknya (iaitu Syurga)."(Ali Imran:ayat 14)

"Harta benda yang menjadi kesenangan di dunia ini adalah sedikit sahaja, (dan akhirnya akan lenyap), dan (balasan) hari akhirat itu lebih baik lagi bagi orang-orang yang bertaqwa (kerana ia lebih mewah dan kekal selama-lamanya), dan kamu pula tidak akan dianiaya sedikit pun".(An-Nisaa' 4:77)



"Sesungguhnya orang-orang yang mengutamakan keuntungan dunia yang sedikit dengan menolak janji Allah dan mencabuli sumpah mereka, mereka tidak akan mendapat bahagian yang baik pada hari akhirat, dan Allah tidak akan berkata-kata dengan mereka dan tidak akan memandang kepada mereka pada hari Kiamat, dan tidak akan membersihkan mereka (dari dosa), dan mereka pula akan beroleh azab seksa yang tidak terperi sakitnya."(A-li'Imraan 3:77)


"Mereka itulah orang-orang yang membeli (mengutamakan) kehidupan dunia (dan kesenangannya) dengan (meninggalkan perintah-perintah Allah yang membawa kebahagiaan dalam kehidupan) akhirat; maka tidak akan diringankan azab seksa mereka (pada hari kiamat), dan mereka pula tidak akan diberikan pertolongan."(Al-Baqarah 2:86)

***Jika inilah fakta sebenar tentang dunia, "..... tidakkah kamu mahu berfikir?"(Al-An'aam 6:32)***


Dunia yang main-main ini, PASTI akan kita tinggalkan...










Selepas itu..
Kehidupan yang bukan main-main, barulah bermula...

Isnin, Mac 19, 2012

PENTINGNYA PENDIDIKAN ANAK-ANAK MENURUT ISLAM

Khutbah Pertama

Allah telah memberikan amanah yang sangat besar di dalam kehidupan kita. Dimana amanah tersebut seharusnya kita tunaikan sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh Nya. Amanat tersebut berupa anak yang telah diberikan kepada kita, kita telah diperintahkan untuk melepaskan diri, keluarga, dan termasuk anak kita dari api neraka jahannam.

“Wahai orang orang yang beriman jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka, yang bahan bakarnya adalah manusia dan bebatuan, padanya ada malaikat yang kasar, mereka tidaklah mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan kepada mereka dan mereka mengerjakan apa yang diperintahkan kepada mereka.”
Allah telah menjadikan kita sebagai pemimpin bagi keluarga kita, yang tentunya kita juga akan dimintai pertanggung jawaban. Maka seharusnya suami dan istri saling bekerjasama dalam membina keluarga, karena masing-masing akan dimintai pertanggung-jawaban.

“Setiap kalian adalah pemimpin, dan akan dimintai pertanggung-jawaban, maka seorang imam adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggung-jawaban, dan seorang suami adalah pemimpin keluarganya dan akan dimintai pertanggung-jawaban, dan seorang istri adalah pemimpin di rumah suaminya dan akan dimintai pertanggung-jawaban, dan seorang budak adalah pemimpin pada harta majikannya dan akan dimintai pertanggung-jawaban, maka ketahuilah bahwa setiap diri kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggung-jawaban.”
“Allah telah mewasiatkan di dalam perkara anak-anak kalian”
Maka orang tua hendaknya bertanggung jawab terhadap keluarga dan keturunannnya, jangan sampai dia dan keturunannnya mendapatkan kemurkaan dari Allah. Maka hendaknya pemimpin keluarga memberikan pelajaran agama yang baik kepada anak keturunannya agar mereka dapat menjadi anak yang shalih. Rasulullah bersabda dalam hadits Ibnu Abbas dalam riwayat Tarmidzi

“Wahai anak kecil, sesungguhnya aku mengajari engkau beberapa kalimat, jagalah Allah maka Allah akan menjagamu, jagalah Allah maka engkau akan mendapatkan Allah di hadapanmu, apabila engkau meminta maka mintalah kepada Allah, apabila engkau memohon pertolongan maka mintalah kepada Allah”
Dalam hadits ini menunjukkan perhatian beliau yang besar dalam mendidik anak kaum muslimin. Terlebih bagi mereka yang telah menjadi kepala keluarga, wajib bagi mereka mengajarkan agama Allah baik berupa tauhid, akhlaq, adab, dsb karena semuanya adalah tanggung jawab dari orang tua. Saat rasulullah melihat seorang anak kecil yang makan dengan adab yang jelek, maka beliau bersabda
“Wahai anak kecil, apabila engkau makan maka bacalah bismillah, makanlah dengan tangan kananmu, makanlah mulai dari yang dekat denganmu.”

Demikianlah Rasulullah memberikan pelajaran kepada anak-anak kaum muslimin dengan pelajaran yang diperintahkan oleh Allah. Sebelum datang suatu hari yang menghancurkan dunia ini, hari dimana seseorang akan lari dari saudaranya sendiri, dari bapak dan ibunya, dan dari istri dan anak-anaknya. Pada hari inilah kita mempertanggung jawabkan kehidupan kita di dunia, kita tidak bisa lagi mendidik anak-anak kita karena kesempatan tersebut hanya di dunia saja. Pendidikan anak-anak perlu kita perhatikan karena merekalah kebahagiaan atau kesedihan bagi kita.

“Sesungguhnya harta dan anak-anak kalian adalah fitnah”
Karena itu disamping kita mendidik dan mengarahkan anak-anak kita kepada Islam, tentunya kita tetap menyerahkan hasilnya kepada Allah. Karena yang dapat memberikan hidayah hanyalah Allah. Allah yang akan menentukan mereka mendapat petunjuk atau menjadi tersesat.

Ketika Nabi Isa baru lahir dan ditanya oleh Bani Israil, maka Nabi Isa menjawab, “sesungguhnya aku adalah hamba Allah, Allah yang telah memberikan kepadaku Al Kitab dan menjadikan aku sebagai Nabi. Dan menjadikan aku diberkahi dimanapun aku berada, dan Allah yang mewasiatkan kepadaku untuk menegakkan shalat dan zakat selama aku masih hidup.”

Kemudian dari pernyataan Nabi Isa tersebut dapat kita ketahui bahwa Allah-lah yang telah menjadikan beliau sebagai orang yang shalih, sebagai seorang Nabi, dan sebagai orang yang menerima kitab suci. Kemudian perkataan Nabi Isa yang lainnya:
“Dan Allah yang telah menjadikan aku sebagai anak yang berbakti kepada orang tuaku dan tidak menjadikan aku sebagai orang yang keras dan kasar.”

Maka apabila kita mengetahui hal ini seharusnya kita berusaha sebaik-baiknya, memohon pertolongan kepada Allah, agar anak keturunan kita dapat menjadi generasi yang shalih. Pertolongan dari Allah kita perlukan karena hidayah itu hanya datang dari Allah, bahkan Nabi Nuh tidak dapat memberikan hidayah kepada anaknya.

Berkata Nabi Nuh terhadap anaknya, “Wahai Anakku, marilah berlayar bersamaku, dan janganlah kamu bersama orang yang kafir”, jawab anaknya, “Aku akan berlindung ke puncak gunung yang dapat menjauhkan aku dari air”. Nabi Nuh berkata, “Pada hari ini tidak ada yang dapat terjaga dari perintah Allah kecuali yang disayangi oleh Allah. Wahai Rabbku sesungguhnya anakku adalah termasuk dari keluargaku, dan sesungguhnya janjimu adalah benar dan engkau adalah Dzat yang maha bijaksana”, jawab Allah, “Wahai Nuh, sesungguhnya dia bukan termasuk dari keluargamu, karena dia beramal yang tidak baik. Maka jangan engkau meminta kepada-Ku sesuatu yang engkau tidak memiliki ilmu di dalamnya, sesungguhnya Aku mengingatkanmu agar engkau tidak termasuk orang-orang yang bodoh”, jawab Nabi Nuh, “Wahai Rabbku, kalau seandainya engkau tidak mengampuni dan dan menyanyangi aku maka benar benar aku akan menjadi orang orang yang merugi.”

Akan tetapi seorang anak yang shalih dapat menjadi sebuah permata yang sangat indah. Seperti Nabi Ismail terhadap Nabi Ibrahim, ketika Nabi Ibrahim berkata, “Wahai Anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu, bagaimana pendapatmu? Wahai Bapakku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu, dan niscaya engkau akan mendapatiku termasuk orang orang yang bersabar.”

Lihatlah bagaimana jawaban dari anak yang shalih kepada bapak yang shalih, padahal mereka berdua diperintahkan untuk mengerjakan suatu hal yang sangat berat. Demikianlah kisah dari keluarga yang shalih, apabila seorang anak telah dijadikan sebagai seorang yang shalih oleh Allah, maka hal tersebut mungkin akan menjadi sebab baiknya kedua orang tuanya, tetapi apabila anak tersebut jelek, mungkin hal tersebut akan menjadi sebab kekafiran kedua orang tuanya.

Sebagaimana Allah telah mengingatkan kita dalam kisah Nabi Khidr dan Nabi Musa. Ketika Allah memerintahkan Nabi Khidr untuk membunuh seorang anak kecil, kemudian nabi Musa berkata, “Kenapa engkau membunuh seorang jiwa padahal dia tidak membunuh jiwa yang lain ?, sungguh Engkau telah melakukan sesuatu yang mungkar”, jawab Nabi Khidr, “Bukankah sudah aku katakan bahwa Engkau tidak akan mampu bersabar bersamaku ?”.

Kemudian di akhir kisah Nabi Khidr menjelaskan alasannya. Beliau melakukan hal tersebut karena anak kecil yang beliau bunuh sesungguhnya memiliki dua orang tua yang shalih. Dan beliau takut anak tersebut akan memaksa kedua orang tuanya menuju kekafiran, maka beliau ingin agar Allah memberikan ganti anak yang lebih shalih dan lebih penyayang kepada kedua orang tuanya.

Pada ayat ini disebutkan bahwa seorang anak dapat menjadi sebab kekafiran kedua orang tuanya. Maka anak adalah jaminan terhadap kelurusan agama kita, oleh karena itu barang siapa yang ingin istiqomah di dalam agama ini, maka hendaknya dia mendidik anaknya dengan keshalihan, karena hal tersebut diharapkan menjadi penyebab Allah memberikan kebaikan kepada kedua orang tuanya.


Khutbah ke dua.

Dan termasuk kebiasaan orang yang shalih adalah berdoa agar keturunannya diperbaiki agamanya.

“Wahai Rabb kami, berikanlah kepada kami dari istri dan anak sebagai pelembut dan penenang jiwa kami. Dan jadikanlah kami semua (suami, istri dan anak) sebagai pemuka orang yang bertakwa.”

Rasulullah mendoakan Hasan dan Usamah bin Zaid dalam hadits riwayat imam Bukhari, “Ya Allah, sesunggguhnya aku mencintai keduanya, maka cintailah kedua anak ini.”
Demikian pula doa beliau terhadap Abdullah bin Jafar, “Ya Allah, jadikanlah pada keluarga Jafar kebaikan, dan berkahilah Abdullah pada tangan kanannya.”
“Ya Allah, berilah kepada Anas bin Malik harta dan anak yang banyak, dan berkahilah kepada yang engkau berikan kepada mereka.”

Dan doa beliau terhadap Abdullah bin Abbas, “Ya allah pahamkanlah dia dengan agama, dan pahamkanlah dia dengan tafsir.”

Dan termasuk hal yang harus kita perhatikan dalam pendidikan anak kita adalah jangan sampai kita mengeluarkan suatu ucapan yang jelek, bagaimanapun keadaan kita. Ketika Rasulullah mendengar seseorang melaknat untanya, maka Rasulullah bertanya kepada sahabatnya, “Siapa yang tadi melaknat ?, saya, turunlah engkau dari untamu, jangan engkau menyertai kami dengan sesuatu yang telah dilaknat, janganlah kalian mendoakan keburukan bagi diri diri kalian, anak-anak, dan harta kalian, jangan sampai ketika kalian berdoa kejelekan tersebut bertepatan dengan waktu yang Allah mengabulkan doa tersebut.”

Isnin, Mac 12, 2012

SIMPANG TAQWA

"Apa itu taqwa?" tanya Umar al-Khattab kepada Ubai bin Ka'ab Radhiyallahu 'anhuma.
"Pernah kamu susuri jalan yang penuh duri?" balas Ubai dengan suatu pertanyaan yang menduga.
"Pernah saja," jawab Umar.
"Apa yang kamu lakukan?" pintas Ubai.
"Aku angkat sedikit pakaianku, dan melangkah dengan hati-hati," jawab Umar lagi.
"Itulah taqwa!" simpul Ubai bin Ka'ab terhadap soalan Umar al-Khattab tentang taqwa.

Halus perbincangan taqwa ianya seolah-olah satu jisim yang menyerupai bakteria ikhlas. Diibaratkan sebagai seekor semut hitam di lorong yang gelap, tiada siapa yang menyedari kehadirannya melainkan Allah s.w.t, kerana itu ikhlas dijadikan rahsia simpanan kepada asas pertimbangan neraca mizan kelak.

Ikhlas bukan sahaja boleh rosak atau batal di awal perbuatan iaitu pada niatnya namun kata- kata, tindak-balas pada reaksi atau komen orang lain juga sedikit sebanyak menggugat ikhlas kepada amalan tersebut.

Ikhlas bererti suci dan murni tanpa noda melainkan disandarkan hanya pada Yang Esa. Namun, perkongsian kali ini bukanlah berkisar mengenai ikhlas sebaliknya pemahaman tentang konsep taqwa dalam iman.

Seorang muslim itu beriman jika dia bertaqwa dan bukan hanya kerana memegang pangkat yang tinggi atau memiliki bakat yang hebat atau kerana keturunannya yang disanjung.

Sebaliknya Allahs.w.t telah firman ;
"Sesungguhnya semulia-mulia kamu di sisi Allah ialah orang yang lebih takwanya di antara kamu, (bukan yang lebih keturunan atau bangsanya). Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, lagi Maha Mendalam PengetahuanNya (akan keadaan dan amalan kamu)" (Surah Al-Hujurat ayat 13)

Definisi taqwa bermula dari kalimah waqa- yaqi- wiqoyah yang membawa maksud memelihara, melindungi, takut dan berjaga- jaga. Sesuai dengan pemahaman mendalam terhadap definisi tersebut bahawa taqwa berperanan sebagai penjaga diri dan pelindung tetapi bukan penakut kepada diri seorang muslim.

Sebaliknya di dorong rasa 'takut' kepada Allah s.w.t dengan sentiasa berusaha untuk mentaati segala suruhan dan menjauhi larangan-Nya malah yang paling utama berkorban untuk menjunjung syariat yang diturunkan dan bukan bersifat mempersendakannya atau mengabaikannya atau meringankan sesuatu hukum biarpun sudah mengetahui mengenainya secara teliti dan jelas.

Di situlah taqwa berfungsi iaitu dalam merasakan kemanisan iman dan tidak berasa susah untuk menurutinya walaupun jika menurut pandangan akal manusia ia adalah perbuatan yang sukar seperti bertudung, solat dan puasa serta lainnya.
Seruan taqwa setiap minggu dilaungkan oleh Khatib dalam Khutbah Jumaat malah ia adalah rukun khutbah. Saya yakin setiap muslim menyedari kedudukan 'rukun' dalam pelaksanaan ibadah. Oleh yang demikian, secara tidak langsung membuktikan bahawa peringatan taqwa adalah amat penting untuk sekalian muslim supaya diterapkan dalam kehidupan dan bukan hanya disimpan dalam telinga setiap minggu namun kefahaman mengenainya terus dipekakkan.

Allah telah berfirman dalam surah ali-Imran ayat 102 yang bermaksud ;
" Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dengan sebenar-benar takwa dan jangan sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan Islam. "
Bagaimana?

Jawapan mudah yang boleh diringkaskan iaitu berilmu, beramal soleh dan beriman. Renung- renungkan perkara ini di mana tahapnya pada diri kita. Melalui perkara ini seorang muslim mungkin dapat melihat penilaian koreksi taqwanya samada pada tahap ;

• Taqwa awwam - masih terpengaruh dgn nafsu amarah walaupun mujahadah masih ada.
• Taqwa khawas - terdedah kepada nafsu lawwamah, menerima virus maksiat batin dan menyemai mazmumah walaupun ia mengetahui ketuanan sifat- sifat tersebut menyumbang kepada kerugian amal dan kerapuhan titian menuju redha-Nya.
• Taqwa khawasul khawas - nafsu mutmainnah iaitu jiwa yang tenang daripada maksiat zahir dan batin

Setiap tahap ini meletakkan batu perbezaan pada satu sempadan iaitu nafsu, semakin tinggi dan kukuh sempadan nafsu semakin rendah kedudukan taqwanya kerana sempadan nafsu telah menutupi penglihatan iman untuk melihat simpang taqwa dan membiarkan ilmu tergadai di 'kedai kejahilan' sekaligus menurunkan 'had kelajuan' amal soleh untuk ke simpang itu.

Sememangnya sukar untuk membawa diri ke simpang itu namun sedarilah bahawa kesusahan itu hanya sebentar iaitu tatkala nyawa dikandung badan, tapi apabila nyawa meninggalkan jasad segala kesusahan itu juga yang menjadi kebahagiaan yang abadi.
Jika kita takut atau terlalu memanjakan perasaan dan jiwa duniawi pada usia yang berbaki ini, cepatlah ingatkan semula atau muhasabah kembali bahawa tiada hidup kedua atau nyawa kedua setelah ia berakhir.

Awalnya mungkin terasa berat namun apabila ia dihidayahkan Allah s.w.t akan kemanisan iman, saat itu senyuman taqwa dan tawa iman akan terus menemani hari- harimu.

Sesungguhnya janji Allah s.w.t telah berfirman yang bermaksud ;
"Kalau kamu beroleh kebaikan (kemakmuran dan kemenangan, maka yang demikian) menyakitkan hati mereka dan jika kamu ditimpa bencana, mereka bergembira dengannya. Dan kalau kamu sabar dan bertakwa, (maka) tipu daya mereka tidak akan membahayakan kamu sedikitpun. Sesungguhnya Allah meliputi pengetahuanNya akan apa yang mereka lakukan. " (Surah ali-Imran ayat 120)

Allah pelindung,
Allah jua pemelihara,
Biar susah tidak terbendung,
kerana cinta-Nya ku gagahi jua.
Tuntutlah ilmu walau ke Negeri China,
Teruskan ia hingga ke hujung,
SIMPANG TAQWA simpang redha-Nya,
Iman, ilmu dan amal menjadi penghubung.

Ahad, Mac 04, 2012

Akidah terpesong jika percayakan al-Quran sekadar penghalau hantu



MASYARAKAT kini dimomokkan ayat al-Quran untuk ‘menghalau hantu’, sedangkan Islam mahu umatnya mengetahui keseluruhan al-Quran. Paling malang, 
anak kecil jadi takut ke bilik air selepas menonton cerita seram

HAMPIR setiap hari kita dihidangkan cerita seram sama ada drama di kaca televisyen, atau filem di layar perak hingga menjadi fenomena baru dalam industri filem tanah air. Penerbit berlumba-lumba menerbitkan drama dan filem seram kerana percaya bakal mendapat sambutan dan mempunyai khalayak yang sentiasa ternanti-nantikan cerita seumpamanya. Filem seram walaupun mendapat sambutan hebat, mewujudkan kebimbangan ia boleh memesongkan akidah kerana terlalu percaya bahawa kuasa ghaib ini boleh 'membantu' manusia mencapai hajat mereka

Sebahagian besar masyarakat kita juga seolah-olah ketagih untuk menonton filem seram kerana rasa takut menyeronokkan dan terhibur sekali gus melupakan seketika masalah dihadapi.

Menonton filem seram umpama makan cili api atau makan sambal belacan, walaupun pedas sehingga mengalir air mata, namun terus dijamah, kata pendakwah bebas, Datuk Zawawi Yusof.

Menurutnya, filem seram memberikan keuntungan besar kepada penerbit dan pada masa sama menjadi satu gejala kerana menimbulkan ketakutan melampau kepada orang ramai terutama kanak-kanak.
Beliau yang juga pakar motivasi, berkata kesan emosi kepada penonton begitu kuat seperti takut di tempat sunyi dan gelap, jika ada kedengaran bunyi atau berlaku sesuatu mereka terus beranggapan wujud makhluk halus.

“Jin atau hantu yang dipaparkan dalam filem dilihat mempunyai kuasa hebat sehingga boleh menguasai apa saja dan membuat anak takut pada kehidupan harian kerana percaya di sekeliling mereka ada kuasa jahat.

“Filem seram juga membuka ruang kepada golongan tertentu untuk mencari bomoh termasuk yang mengamalkan ilmu hitam kononnya dapat menghalang kuasa jahat lain juga di kalangan jin dan iblis, sepatutnya kita takut kepada kuasa Allah SWT,” katanya.

Lebih malang, masyarakat melihat ayat al-Quran hanya digunakan untuk menghalau hantu, sedangkan al-Quran diturunkan sebagai panduan hidup manusia sejagat.

Beliau berkata, disebabkan penggunaan ayat al-Quran dipaparkan sebegitu, sesetengah umat Islam hanya mempelajari ayat yang dapat menghalau hantu seperti ayat Kursi sehingga kurang minat mempelajari ayat suci lain.

Katanya, minda masyarakat kini dikongkong hasil menonton filem seram dan penerbit filem terus mengambil kesempatan menghasilkan filem seumpamanya. Beliau berharap penerbit filem juga menghasilkan filem yang membina pemikiran masyarakat terutama mengandungi unsur positif.

“Penerbit filem seram juga wajar mendapat pandangan mufti dan alim ulama bagi memastikan ia tidak bercanggah dengan akidah Islam dan dapat memberi pengajaran kepada penonton,” katanya.

Pengarah Institut Sosial Malaysia, Prof Madya Dr Mohd Fadzil Che Din, berkata filem seram menyebabkan ketakutan bebas atau open fear di kalangan masyarakat sehingga memberi kesan psikologi terutama kanak-kanak.

Beliau berkata, ketakutan bebas membantutkan sikap positif. Sebagai contoh jika kanak-kanak rajin seperti membantu keluarga ke kedai, tetapi kini mereka tidak mahu melakukannya kerana bimbang dalam perjalanan di tempat gelap diganggu hantu. Kesan menonton filem seram akan melekat dalam pemikiran mereka seperti wajah hodoh hantu dan ia tertanam dalam kotak rujukan dalaman seseorang.

Dr Mohd Fadzil berkata, ketika era 60-an, 70-an dan 80-an, kita dihidangkan dengan filem seram yang hanya menunjukkan gambar rupa hantu menakutkan dan dirasuk, tetapi era kini ia menjadi lebih sadis dan tragis dengan berlaku pembunuhan.

Malah, katanya, keadaan sama wujud dalam filem seram yang dihasilkan di negara jiran dan filem Barat dengan wujud elemen tahyul seperti pari-pari, bidadari, haiwan boleh bercakap yang jelas boleh menimbulkan kecelaruan dalam dunia nyata.

“Saya melihat dalam filem seram tempatan akan juga berlaku perkara yang sama kerana ia sudah pasti satu fenomena kurang baik kepada masyarakat dan jika orang ramai mempercayainya ia akan menjadi khurafat,” katanya.

Jika diamati ada benarnya pendapat dua pakar ini kerana apabila dirujuk kembali beberapa filem seram kebelakangan ini, sudah ada elemen yang mencurigakan dan boleh dipertikaikan, malah lebih teruk, mungkin juga boleh memesongkan akidah. Apa tidaknya, sering dipaparkan kemampuan hantu membunuh manusia.

Persoalannya, benarkah hantu boleh membunuh dan mengambil nyawa manusia? Bukankah hantu adalah syaitan dan berdasarkan kisah iblis, ia hanya berjanji untuk menyesatkan anak Adam, bukan membunuh anak Adam dan bukankah urusan membabitkan nyawa adalah milik Allah.

Itulah yang mungkin perlu diberi perhatian. Mereka yang gemar menonton filem seram mungkin kuat tertanam dalam minda mengenai kehebatan dan kekuatan kuasa. Benar, semua kesudahan filem seram menunjukkan kebaikan mengatasi kejahatan tetapi ceritanya pula menunjukkan sebaliknya apabila ramai nyawa terkorban kerana kehebatannya.

Senario ini perlu diberi perhatian. Mungkin benar, filem seram adalah fenomena dunia dan ia genre popular tetapi tidak salah jika penerbit dan pengarah filem menggarapnya sebaik mungkin supaya tidak tersasar daripada akidah sebenar.

Oleh Ridzuan Yop dan Azrul Affandi


Rabu, Februari 29, 2012

BERBAKTI KEPADA KEDUA IBU BAPA

>>> Bersama Dr Juanda Jaya


KITA kerap mendengar keluhan dan rungutan anak yang kurang sabar menjaga ibu bapa mereka yang uzur. Beban kerja di pejabat, urusan membina rumah tangga dan mendidik anak menjadi tekanan bagi mereka. Apalagi jika ditambah dengan tanggungjawab menjaga kedua-dua orang tua.

Jika ditanya pada generasi yang hidup pada zaman moden ini terhadap suatu pilihan, adakah mereka suka hidup serumah dengan ibu bapa atau berpisah - mungkin kebanyakan mereka memilih untuk berpisah daripada bercampur serumah dengan ibu bapa atau mentua. Tidak salah jika mereka mempunyai keinginan untuk hidup mandiri. Tetapi, yang menjadi masalah adalah bagaimana jika ibu bapa kita telah uzur dan perlukan penjagaan dan perhatian anaknya.

Sesiapa saja yang menerima kehadiran ibu bapa di dalam rumah mereka tentu memerlukan kekuatan dan kekentalan jiwa iaitu 'kesabaran'. Kita hendaklah sentiasa ingat kepada ganjaran yang Allah berikan sebagai balasannya.

Untuk memastikan niat itu sentiasa terjaga dalam batas ikhlas kerana Allah, eloklah diperhatikan beberapa panduan untuk mendapatkan kekuatan dalaman bagi memelihara ibu bapanya yang uzur.
• Yakin dengan keikhlasan menjaga mereka akan menjadi teladan yang baik untuk anak.

Tangan yang membelai dengan penuh kasih, pandangan mata yang menghantar sinar kegembiraan, kata-kata yang manis dan wajah yang reda lahir dari hati yang ikhlas. Begitulah gambaran ideal adab seorang anak.

Tunjukkan kepada anak kita begitulah cara melayan orang tua. Kelak mereka akan terbiasa dengan ajaran itu. Sabda Rasulullah SAW bermaksud: "Barang siapa yang menziarahi kedua-dua orang tuanya, maka Allah mencatat untuknya setiap langkahnya dengan 100 kebaikan dan menghapuskan 100 kejahatan serta mengangkat untuknya 100 darjat, apabila dia duduk di hadapan kedua-dua orang tuanya serta bercakap dengan perkataan yang baik, maka kelak pada hari kiamat Allah Taala akan memberi kepadanya nur cahaya yang memancar di hadapannya. Apabila dia kembali dari ziarahnya itu, maka kembalilah dia dengan mendapat keampunan." (Hadis riwayat al-Bukhari daripada Abu Zar al-Ghifari)

Tetapi, jika layanan buruk yang diberi, rungutan dan kesalan yang selalu didengar, adakah kita bersedia menerima perlakuan yang sama seperti itu daripada anak kita sendiri nanti? Sesungguhnya Allah Maha Adil kepada hamba-Nya. Jika tidak dibalas di dunia, pasti di akhirat balasan akan diterima.
• Yakin dengan pahala daripada Allah.

Kedudukan ibadat yang paling tinggi di sisi Allah adalah tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Adakah anda tahu ibadat apakah yang kedudukannya sama tinggi dengan yang pertama dalam pandangan Allah ini? Semaklah firman Allah yang mafhumnya: "Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia, dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapamu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang daripada kedua-duanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka jangan mengatakan kepada mereka (perkataan kasar) sekalipun perkataan: "Ha" dan janganlah engkau menengking dan menerjah mereka tetapi katakanlah kepada mereka perkataan yang mulia (bersopan santun)." (Surah al-Isra', ayat 23)

Ibnu Abbas menerangkan: “Sesungguhnya ada tiga ayat dalam al-Quran yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain dari sudut kewajipan mengamalkannya. Pertama adalah perintah taat kepada Allah dan taat kepada Rasul, kedua-duanya tidak boleh dipisah, mesti dilakukan bersama-sama dalam mentaatinya. Kedua perintah dirikanlah solat dan tunaikanlah zakat. Ketiga adalah perintah bersyukur kepada Allah dan bersyukur kepada kedua-dua ibu bapa. Kedua-duanya mesti dilaksanakan bersama tidak boleh dipisah. Bersyukur kepada Allah tetapi tidak bersyukur kepada ibu bapa, ia tidak akan diterima Allah. Kerana itu Rasulullah SAW bersabda: "Keredaan Allah berada dalam keredaan orang tua dan kemurkaan Allah berada dalam kemarahan mereka." (Hadis riwayat at-Tirmizi daripada Abdullah bin Amru bin 'Ash)

Berbakti kepada ibu bapa sama nilainya dengan pahala jihad. Sahabat Nabi SAW, Abdullah bin Amru bin 'Ash berkata: "Pada suatu hari seorang lelaki menghadap Rasulullah SAW, memohon izin untuk ikut berjihad bersama Baginda. Lantas Rasulullah SAW bertanya kepada lelaki itu: "Adakah orang tuamu masih hidup?" Jawabnya: "Ya, mereka masih hidup." Rasulullah SAW bersabda: "Dalam diri orang tuamu itulah terdapat nilai jihad." (Hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim)

Betapa besarnya pahala syahid kerana menjaga mereka, mengasihani dan memberi perlindungan kepada mereka. Sesiapa yang melakukan kerja jihad ini, hendaklah dia tetap istiqamah sampai Allah akan menentukan siapa yang paling beruntung itu.
• Sentiasa ingat ancaman kepada si penderhaka.

Ancaman pertama adalah berdosa seperti orang yang menyekutukan Allah SWT. Hal ini disebutkan dalam hadis Rasulullah SAW yang maksudnya: "Mahukah sekiranya aku menyebutkan kepadamu mengenai sebesar-besarnya dosa besar? Iaitu menyekutukan Allah dan derhaka kepada ibu bapa." (Hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim)

Ancaman kedua adalah haram baginya syurga Allah. Rasulullah SAW bersabda yang maksudnya: "Tidak akan masuk syurga orang yang derhaka kepada orang tua, orang yang suka mengungkit-ungkit kebajikan dan orang yang ketagih minuman keras." (Hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim)

Ancaman ketiga adalah doa ibu bapa tiada hijab antaranya dengan Allah SWT. Jika mereka berasa dikhianati oleh anak-anak atau tidak dipedulikan sehingga membuat mereka marah dan sakit hati, apa-apa saja ucapan yang keluar dari mulut kedua-duanya yang berupa kekesalan akan didengar Allah dan apa-apa permintaan akan dimakbulkan-Nya.

Hal ini ditegaskan oleh Rasulullah SAW dalam hadisnya yang bermaksud: "Doa tiga orang yang pasti dikabulkan oleh Allah ialah doa orang yang tertindas, doa orang yang sedang dalam musafir dan doa orang tua terhadap anaknya." (Hadis riwayat at-Tirmizi daripada Abu Hurairah)

Hanya rahmat Allah saja yang menguatkan hati kita untuk bersikap sayang dan kasih kepada keduanya. Sesiapa yang telah dicabut rahmat Allah dari dadanya, dia akan melupakan kedua orang yang paling berjasa dalam hidupnya tanpa rasa bersalah!

INTI PATI
• Yakin dengan keikhlasan menjaga mereka akan menjadi teladan yang baik untuk anak.
• Yakin dengan pahala daripada Allah.
• Sentiasa ingat ancaman kepada si penderhaka.
• Hanya rahmat Allah saja yang menguatkan hati kita untuk bersikap sayang dan kasih kepada keduaduanya.
Wallahu Taa'la A'lam(( ))

Isnin, Mei 24, 2010

Empayar Nestle & Kejahilan Umat Islam


Izinkan saya membawa anda semua kembali ke sekitar 100 tahun yang lalu.
boikot-nestle-sahabat-israel
Nestle memulakan dinastinya di Malaysia seawal tahun 1912 di Pulau Pinang yang dikenali sebagai Anglo-Swiss Condensed Milk Company.
Ini bermakna 97 tahun, iaitu hampir 100 tahun Nestle berada di Malaysia.


Saya yakin anda yang sedang membaca artikel ini belum dilahirkan lagi ketika itu, dan kemungkinan juga tidak ada upaya untuk hidup sehingga 100 tahun.
Nestle telah meletakkan batu asas empayarnya di sini jauh sebelum perkataan Malaysia itu dapat dieja. 
Ini juga bermakna produk Nestle telah pun disuapkan ke mulut rakyat Islam Malaysia sejak zaman nenek moyang kita lagi. Ia masih lagi disuapkan ke mulut kita yang masih hidup pada hari ini, mungkin juga ke mulut anak-anak kita yang akan menjadi generasi baru pada masa hadapan.
Malangnya setiap suapan itu akhirnya diterjemahkan oleh Nestle sebagai peluru yang digunakan untuk menembak dada saudara kita di Palestin. Dan ini berlaku hampir setiap hari di Palestin, sedang kita begitu enak dan santai sekali menikmati Nescafe untuk minuman pagi dan Milo pada malamnya.
Ada pula yang menikmati minuman Neslo, iaitu gabungan Nescafe dan Milo dalam satu gelas dimana kedua-duanya juga adalah produk Nestle. Gandingan dua produk ini barangkali memberi kepuasan berganda-ganda kepada peminumnya, dimana setiap tegukan itu serentak dengan bedilan berganda-ganda juga ke atas bumi Palestin oleh Yahudi Laknatullah.
Milo dan Nescafe Menjadi Darah Daging Umat Islam Malaysia ?
Bukan satu rahsia bahawa rakyat Malaysia adalah pengguna terbesar minuman Milo di dunia. Fakta ini dijelaskan apabila Nestle menerima anugerah Pingat Emas untuk Malaysia-Canada Business Excellence Award (atau klik untuk gambar) pada 2006. Dinyatakan pada laman web itu:   
Malaysia consumes 90% of worldwide consumption of Milo. It is so popular that almost all households have a tin of Milo and it would be almost impossible to find a restaurant that doesn't sell Milo beverages.
 Saya terjemahkan di sini:   
Malaysia menggunakan 90% daripada penggunaan Milo di seluruh dunia. Ianya amat popular sehingga hampir setiap rumah mempunyai satu tin Milo dan hampir mustahil untuk mencari restoran yang tidak menghidangkan minuman Milo.
Bukankah gila atau lahapnya umat Islam di Malaysia ini sehinggakan sebesar-besar dunia ini, 90% penggunaan Milo itu datang dari rakyat Malaysia semata-mata?
Fakta ini juga pernah dimasukkan dalam Wikipedia berkenaan Milo, tetapi jika anda pergi ke pautan itu kelihatannya fakta tersebut telah dihapuskan.
Pautan rujukan ke Anugerah MCBC juga telah dihapuskan dari Wikipedia itu. Saya tidak tahu mengapa dan bila ia dihapuskan dari Wikipedia, tetapi mujurlah saya sempat untuk mengambil screenshot semasa ianya masih ada.
Jika anda bandingkan dengan Wikipedia yang terkini, ayat yang menyatakan Malaysia menggunakan 90% Milo itu sudah dihapuskan, atas sebab-sebab yang saya sendiri pun tidak tahu. 
Saya tidak fikir jika ada pihak Wikipedia yang menganggap fakta itu salah, memandangkan ianya diakui oleh Pengarah Urusan Nestle Malaysia, Sullivan O'Carrol dalam akhbar TheStar Online (atau klik untuk gambar)baru-baru ini:   
O'Carrol said Milo has been available in the country for almost 60 years and Malaysians were the world's largest consumers of Milo.
Saya terjemahkan di sini:   
O'Carrol berkata Milo telah berada di negara ini hampir 60 tahun dan rakyat Malaysia merupakan pengguna Milo terbesar di dunia.
Adakah kita berbangga dengan kenyataan ini? Kita, rakyat Malaysia, yang beragama Islam terutamanya, begitu berjasa kepada Nestle melalui penggunaan Nescafe dan Milo selama ini.
Produk Nescafe dan Milo ini menyumbangkan keuntungan kepada Nestle sebanyak 63% di Malaysia berbanding produk Nestle yang lain. Dan keuntungan ini digunakan oleh Nestle untuk membantu Israel melenyapkan bumi Palestin.
Hasil jasa baik kita semua ini telah membawa Nestle ke tahap yang tinggi sehingga kini. Sudah tiba masanya untuk kita menjatuhkannya.
Nestle Ketawa Melihat Jahilnya Umat Islam
dato-shahrir-minum-milo
Dato Shahrir sedang menikmati 
darah umat Palestin Milo dihadapan Sullivan.
Sumber rujukan : InMinds >> Semasa kita umat Islam Malaysia masih setia menggunakan produk Nestle menjadi sebahagian darah daging kita, syarikat itu telah bekerjasama dengan syarikat pengeluar makanan dari Israel iaitu Osem Investment pada tahun 2000 untuk membina sebuah fasiliti R&D di Sderot, Israel.
R&D itu digunakan sebagai pusat pembangunan bagi makanan snek (ya, makanan yang kita semua jamah setiap hari itu) dan jutaan dollar dilaburkan untuk operasi R&D tersebut.
Pusat R&D itu dibina di atas tanah haram di bawah kerajaan haram Israel. Dan jutaan dollar dilaburkan ke atas pusat R&D haram itu tiap-tiap tahun. Tanah yang dirampas dari tangisan dan darah umat Palestin itu senang-senang sahaja digunakan oleh Nestle untuk kemudahan dirinya, malah memberi manfaat pula kepada kerajaan haram Israel.
Sebangsat mana lagi kelakuan Nestle yang diperlukan sebelum kita mahu memboikotnya?
boikot-nestle
Setiap produk Nestle yang kita jamah itu mengandungi satu lagi kandungan ramuan yang terlindung, iaitu darah umat Palestin!
Pada 1998, Peter Brabeck-Letmathe (salah seorang Lembaga Pengarah Nestle, kini sebagai Pengerusi), mewakili syarikat Nestle telah menerima Jubilee Award disampaikan oleh Perdana Menteri Israel sendiri iaitu Benjamin Netanyahu.
Anugerah Jubli ini adalah yang tertinggi pernah diberikan oleh kerajaan haram Israel sebagai tanda penghargaan kepada individu atau organisasi yang berjasa kepada kerajaan haram tersebut, samada melalui perdagangan atau pelaburan.
Berjasa di sini bermakna individu atau organisasi itu telah membantu ekonomi Israel, meningkatkan kewangannya untuk membeli lebih banyak senjata api untuk membunuh rakyat Palestin, menghalau mereka dari tanahair sendiri dan membina binaan haram di atas tanah yang dirampas.
Membeli produk Nestle bermakna membantu dan mengiktiraf kerajaan haram Israel. Setiap sen yang dibelanjakan untuk membeli produk mereka akan sampai kepada kerajaan haram Israel. Dan Israel akan menyampaikan setiap sen yang kita berikan dalam bentuk peluru yang dibedil ke atas umat Islam Palestin.
Apa Pendirian Kita?
Ramai di antara kita yang hanya pandai merungut.     
  • Macam mana nak boikot kalau dah kedai makan cuma jual Milo je, mana ada produk lain?
  •      
  • Macam mana nak boikot kalau dah kedai runcit cuma ada produk Nestle je, mana ada produk lain?   
Pernahkah kita bersuara kepada tauke kedai meminta mereka menukar menu minuman dari Milo kepada jenama lain? Pernahkah kita berkata kepada mereka yang kita tidak mahu jenama Milo, Nescafe, Nesquik, Maggi dan sebagainya? Pernahkah kita mendesak mereka menyediakan jenama lain?
Kebanyakannya akan menjawab TIDAK. Bermakna kita TIDAK melakukan apa-apa tindakan tetapi hanya pandai merungut. Kita tidak bertindak, apatah lagi menyuarakannya.
Lebih malang lagi jika kita langsung tidak peduli untuk memboikot. Mungkin juga menjadi lebih bangsat apabila kita memperlekehkan pula usaha memboikot.
Berapa lama lagi perlu kita tunggu sebelum kita mahu mula memboikot produk Nestle?
Jika kita masih mahu menunggu sehingga Palestin hancur, maka ketahuilah bahawa Palestin telah lama hancur!!
Pautan penuh : P E D U L I

Recent Posts