Rabu, April 25, 2012

6 Perkara Allah S.W.T Sembunyikan


Allah SWT selesai menciptakan Jibrail as dengan bentuk yang cantik, dan Allah menciptakan pula baginya 600 sayap yang panjang , sayap itu antara timur dan barat (ada pendapat lain menyatakan 124, 000 sayap). Setelah itu Jibrail as memandang dirinya sendiri dan berkata:


"Wahai Tuhanku, adakah engkau menciptakan makhluk yang lebih baik daripada aku?."


Lalu Allah swt berfirman yang bermaksud.. "Tidak" Kemudian Jibrail as berdiri serta solat dua rakaat kerana syukur kepada Allah swt. dan tiap-tiap rakaat itu lamanya 20,000 tahun. 
Setelah selesai Jibrail as solat, maka Allah SWT berfirman yang 
bermaksud.


"Wahai Jibrail, kamu telah menyembah aku dengan ibadah yang bersungguh-sungguh, dan tidak ada seorang pun yang menyembah kepadaku seperti ibadat kamu, akan tetapi di akhir zaman nanti akan datang seorang nabi yang mulia yang paling aku cintai, namanya Muhammad. Dia mempunyai umat yang lemah dan sentiasa berdosa, sekiranya mereka itu mengerjakan solat dua rakaat yang hanya sebentar sahaja, dan mereka dalam keadaan lupa serta serba kurang, fikiran mereka melayang bermacam-macam dan dosa mereka pun besar juga. Maka demi kemuliaannKu dan ketinggianKu, sesungguhnya solat mereka itu Aku lebih sukai dari solatmu itu. Kerana mereka mengerjakan solat atas perintahKu, sedangkan kamu mengerjakan solat bukan atas perintahKu."

Kemudian Jibrail as berkata: "Ya Tuhanku, apakah yang Engkau hadiahkan kepada mereka sebagai imbalan ibadat mereka?"
Lalu Allah berfirman yang bermaksud. "Ya Jibrail, akan Aku berikan syurga Ma'waa sebagai tempat tinggal..."

Kemudian Jibrail as meminta izin kepada Allah untuk melihat syurga Ma'waa.

Setelah Jibrail as mendapat izin dari Allah SWT maka pergilah Jibrail as dengan mengembangkan sayapnya dan terbang, setiap dia mengembangkan dua sayapnya dia boleh menempuh jarak perjalanan 3000 tahun, terbanglah malaikat Jibrail as selama 3000 tahun sehingga ia merasa letih dan lemah dan akhirnya dia turun singgah berteduh di bawah bayangan sebuah pohon dan dia sujud kepada Allah SWT lalu ia berkata dalam sujud:

"Ya Tuhanku apakah sudah aku menempuh jarak perjalanan setengahnya, atau sepertiganya, atau seperempatnya?"

Kemudian Allah swt berfirman yang bermaksud. "Wahai Jibrail, kalau kamu dapat terbang selama 3000 tahun dan meskipun aku memberikan kekuatan kepadamu seperti kekuatan yang engkau miliki, lalu kamu terbang seperti yang telah kamu lakukan, nescaya kamu tidak akan sampai kepada sepersepuluh dari beberapa perpuluhan yang telah kuberikan kepada umat Muhammad terhadap imbalan solat dua rakaat yang mereka kerjakan....."


Marilah sama2 kita fikirkan dan berusaha lakukan...
Sesungguhnya Allah S.W.T telah menyembunyikan enam perkara iaitu:

* Allah S.W.T telah menyembunyikan redha-Nya dalam taat.
* Allah S.W.T telah menyembunyikan murka-Nya di dalam maksiat.
* Allah S.W.T telah menyembunyikan nama-Nya yang Maha Agung di dalam Al-Quran.
* Allah S.W.T telah menyembunyikan Lailatul Qadar di dalam bulan Ramadhan.
* Allah S.W.T telah menyembunyikan solat yang paling utama di dalam solat (yang lima waktu).
* Allah S.W.T telah menyembunyikan (tarikh terjadinya) hari kiamat di dalam semua hari

Rabu, April 18, 2012

BOHONG...

Abul Laits Assamarqandi meriwayatkan dengan sanadnya dari Abdullah bin Mas'ud r.a. berkata bahawa Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: "Biasakan kamu berkata benar kerana kebenaran itu menuntun kepada kebaikan dan kebaikan itu menuntun kesyurga, dan seseorang itu selalu berkata benar sehingga dicatat disisi Allah s.w.t. sebagai sdiddiq dan awaslah kamu dari dusta kerana dusta itu menuntun kepada lacur (kejahatan) dan kejahatan itu menuntun kedalam neraka dan seseorang itu biasa berdusta sehingga dicatat disisi Allah s.w.t. sebagai pendusta."

Abul Laits meriwayatkan dengan sanadnya dari Abdullah bin Mas'ud r.a. berkata: "kamu anggap orang itu munafiq dengan tiga tanda iaitu:
• Jika berkata ia berdusta
• Bila berjanji ia mungkiri
• Jika berjanji sumpah ia langgar


Abul Laits meriwayatkan dengan sanadnya dari Malik berkata: "ketika Luqmanul-Hakim ditanya: "Apakah sebab sehingga kamu dapat mencapai kedudukanmu itu?" Jawab Luqman: "Dengan benar dalam berkata-kata dan menunaikan amanat dan meninggalkan apa yang bukan kepentinganku."

Abul Laits meriwayatkan dengan sanadnya dari Shafwan bin Sulaim berkata Rasulullah s.a.w. ditanya: "Apakah orang mukmin yang dapat menjadi penakut?" Jawab Rasulullah s.a.w.: "Ya." Ditanya pula: "Apakah mungkin seorang mukmin itu pendusta?" Jawab Rasulullah s.a.w.: "Tidak." Abul Laits meriwayatkan dengan sanadnya dari Ubadah bin Ashshamit r.a. berkata Rasulullah s.a.w. ditanya: "Jagalah enam macam untuk dirimu sendiri, saya dapat menjamin untukmu syurga. Enam perkara itu ialah:
• Benar-benarlah jika berkata-kata
• Tepatilah jika berjanji
• Tunaikan amanat (Kembalikan jika diamati)
• Jagalah kemaluanmu
• Pejamkan matamu
• Jagalah tanganmu


Abul Laits berkata Rasulullah s.a.w. telah mengumpulkan atau menyimpulkan semua kebaikan dalam enam macam tersebut iaitu:
• Berkata benar dan ia meliputi ucapan Tauhid iaitu benar-benar setelah mengucap dua kalimah syahadah, benar terhadap Allah s.w.t. dan juga terhadap manusia
• Menepati janji baik terhadap Allah s.w.t. atau terhadap sesama manusia
• Menunaikan amanat, amanat dari Allah s.w.t. merupakan kewajipan-kewajipan yang diwajibkan atas semua hamba dan amanat dari sesama munusia iaitu perkataan atau anak atau harta atau kehormatan
• Menjaga kemaluan dari semua yang syubhat dan haram dan memelihara jangan terlihat orang lain sebab Rasulullah s.a.w. telah mengutuk orang yang melihat dan yang dilihat (kemaluan)
• Pejamkan matamu dari aurat sesama manusia atau kecantikan wanita yang haram dilihatnya dan jangan membelalak kedunia, sebagaimana ayat (Yang berbunyi): "Wala tamuddanna linaftinahum fihi." (Yang bermaksud): "Dan jangan membelalakkan matamu kepada apa yang Kami beri perlengkapan mereka dari dunia untuk Kami uji mereka dengan kemewahan itu.
• Dan yang terakhir jagalah tanganmu dari segala yang haram, baik berupa harta atau lain-lainnya


Hudzaifah bin Alyaman r.a. berkata: "Dahulu dimasa Rasulullah s.a.w., adakalanya seseorang mengucapkan sepatah kata dapat menjadi munafiq dan kini saya mendengar kalimat itu keluar dari kamu dalam sehari sepuluh kali (Yakni kamu tidak hirau terhadap kalimat itu dan menganggap remeh) iaitu seperti berdusta yang telah dijelaskan bahawa itu tanda munafiq.

Maka seharusnya seorang muslim menjaga dirinya dari tanda-tanda munafiq sebab seorang yang telah biasa berdusta pasti dianggap pendusta dan munafiq. Ia dibebani dosa-dosa orang yang meniru perbuatannya. Abul Laits dari Abu Manshur bin Abdullah Alfaraidhi meriwayatkan dengan sanadnya dari Samurah bin Jundub r.a. berkata: Biasa Rasulullah s.a.w. jika selesai sembahyang sebuh menghadap kepada kami (para sahabat) dan bertanya: "Apakah ada diantara kamu semalam yang bermimpi?" Lalu siapa yang bermimpi akan menceritakan mimpinya kepada Rasulullah s.a.w.

Pada suatu hari Rasulullah s.a.w. bertanya: "Apakah ada diantara kamu yang bermimpi?" Jawab kami: "Tidak ada." Lalu Rasulullah s.a.w. bersabda: "Tetapi saya sendiri semalam bermimpi didatangi oleh dua orang yang menuntun tanganku dan mengajak saya pergi sehingga sampai kelapangan yang datar, lalu kelihatan seorang berbaring sedang yang satu berdiri sambil memegang batu besar yang dipukulkan kekepala orang yang sedang berbaring itu sehingga hancur remuk kepalanya dan menggelundung batunya, lalu diambil kembali batu itu dan kembali kepada orang yang berbaring itu, sedang kepalanya telah sembuh kembali lalu dipukul lagi." Saya berkata: "Subhanallah, apakah ini?" Tetapi orang itu berkata: "Ayuh jalan terus." Maka bertemu orang yang terlentang sedang yang satunya berdiri dengan bantolan besi ditangannya yang digunakan untuk merobek pipinya dan ditarik sampai kebelakang, kemudian yang sebelah kiri dan kembali lagi kekanan setelah kembali biasa, lalu dirobeknya kembali dan begitu seterusnya." Saya berkata: "Subhanallah, apakah itu?" Kedua orang itu mengajak saya terus berjalan sehingga melihat bangunan yang atasnya seperti dapur sedang bagian bawahnya luas, ketika saya melihat, tiba-tiba didalamnya campur lelaki perempuan, maka bila terasa ada wap api dari bawah, mereka naik kemudian jika sudah merasa berkurangan turun kembali, dan bila datang api itu mereka menjerit dan naik kembali sehingga hampir keluar, kemudian jika merasa sudah padam kembali kebawah. Saya pun berkata: "Subhanallah, apakah ini?" Dan kedua orang itu berkata: " Ayuh jalan terus sehingga bertemu dengan sungai yang berair merah bagaikan darah sedang didalam sungai ada orang berenang, dan yang satu ditepi sungai mengumpulkan batu-batu, apabila yang berenang itu datang membuka mulutnya lalu dimasukkan kedalam mulutnya batu itu, lalu kembali berenang ketengah-tengah kemudian kembali dimakani batu-batu itu. Saya berkata: "Subhanallah, apakah itu?" Jawab keduanya: "Berjalan terus sehingga bertemu dengan seorang yang disekitarnya api besar, dan ia mengobar-ngobarnya. Saya berkata: "Subhanallah, apakah itu?" Kedua orang itu berkata: "Ayuh berjalan terus sehingga bertemu dengan kebun yang penuh buah dan bunga, dan disana ada orang yang agak tinggi dan disekitar orang itu anak-anak yang banyak sekali, saya pun berkata: "Subhanallah, apakah itu?" Kedua orang itu berkata: "Ayuh berjalan terus." Maka kami berjalan sehingga bertemu dengan pohon beringin yang besar tidak ada yang lebih baik daripadanya maka kami naik diatasnya, tiba-tiba ada kota terbangun dari batu emas dan perak, maka kami ketuk pintu kota itu sehingga terbuka, maka kami masuk, maka segera dikeluarkan oleh kedua orang itu dan dimasukkan kegedung yang lebih indah, lebih baik, dan ketika mata saya melihat keatas terlihat gedung putih bagaikan kaca, lalu diberitahu: "Itu rumahmu." Saya bertanya: "Dapatkah saya masuk kesana?" Jawab keduanya: "Sekrang belum dapat dan kelak pasti dapat engkau masuk kedalamnya." Lalu saya berkata: "Ini malam saya melihat yang ajaib-ajaib, maka apakah ertinya semua itu?" Jawab keduanya: "Adapun orang yang dipukul kepalanya dengan batu maka itu orang yang mengerti al-quran lalu mengabaikannya dan tidak sembahyang fardhu. Ada pun yang dirobek pipinya sampai kebelakang maka itu orang yang membawa berita bohong sehingga tersebar kemana-mana.
Adapun orang-orang yang campur lelaki perempuan dalam dapur api itu, maka mereka pelacur lelaki perempuan. Adapun yang berenang dalam sungai darah maka mereka adalah pemakan riba. Adapun orang yang dikelilingi api maka itu malaikat Malik penjaga neraka, adapun orang yang tinggi didalam kebun maka itu Nabi Ibrahim a.s. dan anak-anak itu ialah anak-anak kecil yang mati dalam fitrah. Adapun rumah yang pertama maka itu untuk umum orang-orang mukminin, adapun yang satunya maka itu tempat orang-orang yang mati syahid, dan saya, Jibril dan Mikail maka ada orang yang bertanya: "Dan anak-anaknya orang musyrikin?" Jawabnya: "Dan anak-anaknya orang musyrikin juga ditempat Nabi Ibrahim a.s tetapi mengenai anak-anak orang musyrikin maka beritanya macam-macam." Ada yang berpendapat: "Menjadi pelayan ahli syurga, dan sebahagian juga masuk neraka."


Abul Laits meriwayatkan dengan sanadnya dari Abdullah bin Mas'ud r.a. berkata: "Sebenar-benar keterangan ialah kitab Allah s.w.t. dan semulia-mulianya perkataan ialah dzikrullah, dan sebusuk-busuk buta ialah buta hati dan yang sederhana mencukupi lebih baik daripada yang banyak dan melupakan, dan sejahat-jahat kemenyesesalan ialah menyesal hari kiamat, dan sebaik-baik kekayaan ialah kaya hati, dan sebaik-baik bekal ialah bekal taqwa. Dan khamar (arak) itu menghimpunkan segala dosa dan wanita perangkap syaitan dan kepemudaan itu sebahagian itu dari gila, dan sebusuk-busuk penghasilan ialah riba. Dan sebesar-besar dosa ialah lidah pendusta."

Abul Laits meriwayatkan dengan sanadnya dari Sufyian bin Abi Hushin berkata: "Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: "Dusta itu tidak baik kecuali dalam tiga macam iaitu:

• Didalam perang
• Seorang yang akan mendamaikan antara dua orang
• Untuk memperbaiki isterinya

Seorang ulama tabi'in berkata: "Ketahuilah bahawa benar itu perhiasan para wali dan dusta itu tanda orang yang celaka, sebagaimana yang tersebut dalam ayat (Yang berbunyi): "Hadza yaumu yanfa'us shadiqina sidquhum. (Yang bermaksud): "Pada hari ini bergunalah kebenaran dan kesungguhan orang-orang yang benar." Ayat yang lain pula (Berbunyi): "Ya ayyuhalladzina aamanuttaqullaha wa kunu ma'as shadiqin. (Yang bermaksud): "Hai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah dan bergaullah kamu dengan orang yang sungguh-sungguh (benar-benar)." Ayat yang lain pula berbunyi: "Walladzi jaa'a bisshidqi washaddaqa bihi ulaa'ika humul muttaquun." (Yang bermaksud): "Dan orang yang datang membawa kebenaran dan ia sendiri melaksanakan kebenaran itu, merekalah orang-orang yang bertaqwa." Ayat yang lain pula berbunyi: "Lahum maa yasyaa'uuna inda robbihim." (Yang bermaksud): "Untuk mereka apa saja yang mereka inginkan ada disisi Tuhan mereka."

Juga Allah s.w.t. telah mencela pendusta dan mengutuk mereka dalam firmanNya (Yang berbunyi): "Qutilal kharraa shuun." (Yang bermaksud): "Sungguh celaka orang-orang tukang dusta." Ayat yang lain pula (Berbunyi): "Waman adhlamu mimmaniffara alallahil kadziba wahuwa yud'a ilal islam wallahu laa yahdil qaumadh dhalimin." (Yang bermaksud): "Dan tiada yang lebih kejam (zalim) dari orang yang membuat dusta atas nama Allah, padahal ia dipanggil supaya mengikuti tuntutan Islam dan Allah tidak akan memberi hidayat pada orang-orang zalim."

Selasa, April 03, 2012

KONSEP BERSYUKUR

KONSEP BERSYUKUR

DEFINISI SYUKUR

Memuji, berterima kasih dan merasa berhutang budi kepada Allah (s.w.t) atas kurniaan-Nya, bahagia atas kurniaan tersebut dan mencintai-Nya dengan melaksanakan ketaatan kepada-Nya.

Bersyukur (berterima kasih), kepada sesama manusia lebih cenderung kepada menunjukkan perasaan senang menghargai. Adapun bersyukur kepada Allah (s.w.t) lebih cenderung kepada pengakuan bahawa semua kenikmatan adalah pemberian dari Allah (s.w.t) . Inilah yang disebut sebagai syukur. Lawan kata dari syukur nikmat adalah kufur nikmat, iaitu mengingkari bahawa kenikmatan bukan diberikan oleh Allah (s.w.t) . Kufur nikmat berpotensi merosak keimanan.

KEWAJIPAN BERSYUKUR

Allah S.W.T berfirman ; Maksudnya : "Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah." (Surah al-Baqarah 2:172)

Ayat di atas menerangkan kewajipan ke atas umat Islam supaya bersyukur kepada Allah (s.w.t) sekiranya kita betul-betul menyembah Allah (s.w.t) .

Allah S.W.T berfirman lagi,
Maksudnya : "Sesungguhnya apa yang kamu sembah selain Allah itu adalah berhala, dan kamu membuat dusta. Sesungguhnya yang kamu sembah selain Allah itu tidak mampu memberikan rezki kepadamu; Maka mintalah rezki itu di sisi Allah, dan sembahlah dia dan bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada- Nyalah kamu akan dikembalikan." (Surah al-Ankabut 29:17)

Allah S.W.T berfirman;
Maksudnya : "Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku." (Surah al-Baqarah 2:152)

Allah S.W.T berfirman;
Maksudnya : "Karena itu, Maka hendaklah Allah saja kamu sembah dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur". (Surah az-Zumar 39:66)


MENGAPA HARUS BERSYUKUR

1. Allah (s.w.t) yang menjadikan manusia dan seluruh makhluk

Maksudnya : "Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur." (Surah al-Nahl 16:78)

2. Allah (s.w.t) menjadikan malam dan siang
Allah S.W.T berfirman;
Maksudnya : "Dan Karena rahmat-Nya, dia jadikan untukmu malam dan siang, supaya kamu beristirahat pada malam itu dan supaya kamu mencari sebahagian dari karunia-Nya (pada siang hari) dan agar kamu bersyukur kepada-Nya." (Surah al-Qashas 28:73)

3. Allah (s.w.t) yang mengeluarkan dari bumi rezeki
Allah S.W.T berfirman;
Maksudnya : "Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah bumi yang mati. kami hidupkan bumi itu dan kami keluarkan dari padanya biji-bijian, Maka daripadanya mereka makan. Dan kami jadikan padanya kebun-kebun kurma dan anggur dan kami pancarkan padanya beberapa mata air, Supaya mereka dapat makan dari buahnya, dan dari apa yang diusahakan oleh tangan mereka. Maka mengapakah mereka tidak bersyukur?" (Surah Yaasin 36:33-35)

4. Allah (s.w.t) menciptakan Langit dan Bumi dan menurunkan hujan
Allah S.W.T berfirman;
Maksudnya : "Allah-lah yang Telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, Kemudian dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezki untukmu; dan dia Telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu, berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan dia Telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai." (Surah Ibrahim 14:32)

5. Allah (s.w.t) yang mengurniakan ilmu
Allah S.W.T berfirman;
Maksudnya : "Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari AI Kitab[1097]: "Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip". Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: "Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba Aku apakah Aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). dan barangsiapa yang bersyukur Maka Sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, Maka Sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia". (Surah an-Naml 27:40)


KELEBIHAN BAGI ORANG YANG BERSYUKUR

1. Rezeki akan bertambah
Allah S.W.T berfirman;
Maksudnya : "Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". (Surah Ibrahim 14:7)

2. Diberikan hikmah kebijaksanaan
Allah S.W.T berfirman;
Maksudnya : "Dan Sesungguhnya Telah kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: "Bersyukurlah kepada Allah. dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), Maka Sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, Maka Sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji". (Surah Luqman 31:12)

3. Tidak akan disiksa di Akhirat
 Allah S.W.T berfirman;
Maksudnya : "Mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman ? dan Allah adalah Maha Mensyukuri[370] lagi Maha Mengetahui." (Surah an-Nisa' 4:147)

4. Orang yang mula-mula masuk Syurga
Ibnu `Abbas meriwayatkan, Rasulullah (s.a.w) bersabda : “Orang pertama yanag akan dipanggil untuk masuk surga adalah orang-orang yang sentiasa memanjatkan puji syukur kepada Allah, iaitu orang-orang yang sentiasa memuji Allah dalam keadaan lapang dan dalam keadaan sempit”. Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya sebaik-baik hamba Allah adalah orang yang suka memanjatkan puji dan syukur kepada Allah” (Riyadhus Shalihin 27)


CARA BERSYUKUR

1. Sentiasa memuji Allah (s.w.t)
Allah S.W.T berfirman;
Maksudnya : "Dan Sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: "Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?" tentu mereka akan menjawab: "Allah". Katakanlah : "Segala puji bagi Allah"; tetapi kebanyakan mereka tidak Mengetahui." (Surah Luqman 31:25)

2. Mendirikan Solat
Allah S.W.T berfirman;
Maksudnya : "Sesungguhnya kami Telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka Dirikanlah shalat Karena Tuhanmu; dan berkorbanlah." (Surah al-Kauthar 108:1-2)

3. Bersujud Syukur kepada Allah (s.w.t)
“Bahwasanya Nabi (s.a.w), apabila datang kepadanya suatu perkara yang menggembirakan atau mendapatkan kabar gembira, beliau langsung bersyukur sujud, bersyukur kepada Allah (s.w.t) .” (HR Abu Dawud)

Ketika Rasulullah (s.a.w) beribadah sampai beliau bengkak-bengkak, Sayidah Aisyah isterinya berkata, “Wahai Rasulullah, mengapa engkau beribadah sampai seperti itu, bukankah Allah telah mengampuni segala dosamu?” Rasulullah menjawab, “Tidakkah engkau suka aku menjadi hamba Allah yang bersyukur?”


Hadis yang diriwayatkan daripada Ibn cUmar Nabi (s.a.w) bersabda :
حَدَّثَهُمْ أَنَّ عَبْدًا مِنْ عِبَادِ اللَّهِ قَالَ يَا رَبِّ لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِي لِجَلاَلِ وَجْهِكَ وَلِعَظِيمِ سُلْطَانِكَ فَعَضَّلَتْ بِالْمَلَكَيْنِ فَلَمْ يَدْرِيَا كَيْفَ يَكْتُبَانِهَا فَصَعِدَا إِلَى السَّمَاءِ وَقَالاَ يَا رَبَّنَا إِنَّ عَبْدَكَ قَدْ قَالَ مَقَالَةً لاَ نَدْرِي كَيْفَ نَكْتُبُهَا قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ وَهُوَ أَعْلَمُ بِمَا قَالَ عَبْدُهُ مَاذَا قَالَ عَبْدِي قَالاَ يَا رَبِّ إِنَّهُ قَالَ يَا رَبِّ لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِي لِجَلاَلِ وَجْهِكَ وَعَظِيمِ سُلْطَانِكَ فَقَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُمَا اكْتُبَاهَا كَمَا قَالَ عَبْدِي حَتَّى يَلْقَانِي فَأَجْزِيَهُ بِهَا

Maksudnya :
“Bahawasanya salah seorang hamba di antara hamba-hamba Allah mengucapkan, Ya Tuhanku, kepunyaan-Mulah segala puji sebagaimana yang layak bagi keluruhan-Mulah dan keagungan-Mu]`. Maka, ucapan ini menjadikan kedua malaikat bingung sehingga mereka tidak tahu bagaimana yang harus mereka tulis. Maka naiklah keduanya kepada Allah, lalu berkata, `Ya Tuhan kami, sesungguhnya seorang hamba telah mengucapkan suatu perkataan yang kami tidak tahu bagaimana kami harus menulisnya.` Allah bertanya – padahal Dia Maha Mengetahui apa yang diucapkan oleh hamba-Nya, `Apa yang diucapkan oleh hamba-Ku?` Mereka menjawab,`Ya Tuhan kami, sesungguhnya dia mengucapkan, Lakal hamdu kamaa yanbaghii li jalaali wajhika wa azhiimi sulthaanika.` Kemudian Allah berfirman kepada mereka, `Tulislah sebagaimana yang diucapkan hamba-Ku itu hingga dia bertemu Aku, maka Aku yang akan membalasnya”. (HR Ibn Majah, Sunan Ibn Majah hadis no.3791)


KESAN @ AKIBAT TIDAK BERSYUKUR

1. Mudah diperdaya oleh syaitan

Allah S.W.T berfirman;
Maksudnya :
"Iblis menjawab: "Karena Engkau Telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat)." (Surah al-A'raf 7:16-17)

2. Ditimpa bala bencana
Allah S.W.T berfirman;
Maksudnya :
"Katakanlah: "Siapakah yang dapat menyelamatkan kamu dari bencana di darat dan di laut, yang kamu berdoa kepada-Nya dengan rendah diri dengan suara yang Lembut (dengan mengatakan : "Sesungguhnya jika dia menyelamatkan kami dari (bencana) ini, tentulah kami menjadi orang-orang yang bersyukur". Katakanlah: "Allah menyelamatkan kamu dari bencana itu dan dari segala macam kesusahan, Kemudian kamu kembali mempersekutukan-Nya."

3. Di azab oleh Allah (s.w.t)
Allah S.W.T berfirman;
Maksudnya :
"Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". (Surah Ibrahim 14:7)

4. Orang mengkhianat dan mengingkari nikmat
Allah S.W.T berfirman;
Maksudnya :
"Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang Telah beriman. Sesungguhnya Allah tidak menyukai tiap-tiap orang yang berkhianat lagi mengingkari nikmat." (Surah al-Hajj 22:38)

5. Tidak bersyukur di atas rezeki yang dianugerahi
Allah S.W.T berfirman;
Maksudnya :
"Sesungguhnya bagi kaum Saba' ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (kepada mereka dikatakan): "Makanlah olehmu dari rezki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan yang Maha Pengampun".Tetapi mereka berpaling, Maka kami datangkan kepada mereka banjir yang besar[1236] dan kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit dari pohon Sidr[1237]. Demikianlah kami memberi balasan kepada mereka Karena kekafiran mereka. dan kami tidak menjatuhkan azab (yang demikian itu), melainkan Hanya kepada orang-orang yang sangat kafir." (Surah Saba' 34:15-17)

Selasa, Mac 20, 2012

FAKTA SEBENAR TENTANG DUNIA

FIRMAN ALLAH SWT:

"Sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan"(Al Hadid:20)

"Dan tidak (dinamakan) kehidupan dunia melainkan permainan yang sia-sia dan hiburan yang melalaikan: dan demi sesungguhnya negeri akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa."(Al Ana'am:32)


""Wahai Tuhan kami! Berilah kami kebaikan) di dunia". (orang-orang ini diberikan kebaikan di dunia) dan tidak ada baginya sedikitpun kebaikan di akhirat."(Al Baqarah:200)


"Dan (ingatlah bahawa) kehidupan di dunia ini (meliputi segala kemewahannya dan pangkat kebesarannya) tidak lain hanyalah kesenangan bagi orang-orang yang terpedaya."(A-li'Imraan 3:185)


"Dihiaskan (dan dijadikan indah) kepada manusia: kesukaan kepada benda-benda yang diingini nafsu, iaitu perempuan-perempuan dan anak-pinak; harta benda yang banyak bertimbun-timbun, dari emas dan perak; kuda peliharaan yang bertanda lagi terlatih; dan binatang-binatang ternak serta kebun-kebun tanaman. Semuanya itu ialah kesenangan hidup di dunia. Dan (ingatlah), pada sisi Allah ada tempat kembali yang sebaik-baiknya (iaitu Syurga)."(Ali Imran:ayat 14)

"Harta benda yang menjadi kesenangan di dunia ini adalah sedikit sahaja, (dan akhirnya akan lenyap), dan (balasan) hari akhirat itu lebih baik lagi bagi orang-orang yang bertaqwa (kerana ia lebih mewah dan kekal selama-lamanya), dan kamu pula tidak akan dianiaya sedikit pun".(An-Nisaa' 4:77)



"Sesungguhnya orang-orang yang mengutamakan keuntungan dunia yang sedikit dengan menolak janji Allah dan mencabuli sumpah mereka, mereka tidak akan mendapat bahagian yang baik pada hari akhirat, dan Allah tidak akan berkata-kata dengan mereka dan tidak akan memandang kepada mereka pada hari Kiamat, dan tidak akan membersihkan mereka (dari dosa), dan mereka pula akan beroleh azab seksa yang tidak terperi sakitnya."(A-li'Imraan 3:77)


"Mereka itulah orang-orang yang membeli (mengutamakan) kehidupan dunia (dan kesenangannya) dengan (meninggalkan perintah-perintah Allah yang membawa kebahagiaan dalam kehidupan) akhirat; maka tidak akan diringankan azab seksa mereka (pada hari kiamat), dan mereka pula tidak akan diberikan pertolongan."(Al-Baqarah 2:86)

***Jika inilah fakta sebenar tentang dunia, "..... tidakkah kamu mahu berfikir?"(Al-An'aam 6:32)***


Dunia yang main-main ini, PASTI akan kita tinggalkan...










Selepas itu..
Kehidupan yang bukan main-main, barulah bermula...

Isnin, Mac 19, 2012

PENTINGNYA PENDIDIKAN ANAK-ANAK MENURUT ISLAM

Khutbah Pertama

Allah telah memberikan amanah yang sangat besar di dalam kehidupan kita. Dimana amanah tersebut seharusnya kita tunaikan sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh Nya. Amanat tersebut berupa anak yang telah diberikan kepada kita, kita telah diperintahkan untuk melepaskan diri, keluarga, dan termasuk anak kita dari api neraka jahannam.

“Wahai orang orang yang beriman jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka, yang bahan bakarnya adalah manusia dan bebatuan, padanya ada malaikat yang kasar, mereka tidaklah mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan kepada mereka dan mereka mengerjakan apa yang diperintahkan kepada mereka.”
Allah telah menjadikan kita sebagai pemimpin bagi keluarga kita, yang tentunya kita juga akan dimintai pertanggung jawaban. Maka seharusnya suami dan istri saling bekerjasama dalam membina keluarga, karena masing-masing akan dimintai pertanggung-jawaban.

“Setiap kalian adalah pemimpin, dan akan dimintai pertanggung-jawaban, maka seorang imam adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggung-jawaban, dan seorang suami adalah pemimpin keluarganya dan akan dimintai pertanggung-jawaban, dan seorang istri adalah pemimpin di rumah suaminya dan akan dimintai pertanggung-jawaban, dan seorang budak adalah pemimpin pada harta majikannya dan akan dimintai pertanggung-jawaban, maka ketahuilah bahwa setiap diri kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggung-jawaban.”
“Allah telah mewasiatkan di dalam perkara anak-anak kalian”
Maka orang tua hendaknya bertanggung jawab terhadap keluarga dan keturunannnya, jangan sampai dia dan keturunannnya mendapatkan kemurkaan dari Allah. Maka hendaknya pemimpin keluarga memberikan pelajaran agama yang baik kepada anak keturunannya agar mereka dapat menjadi anak yang shalih. Rasulullah bersabda dalam hadits Ibnu Abbas dalam riwayat Tarmidzi

“Wahai anak kecil, sesungguhnya aku mengajari engkau beberapa kalimat, jagalah Allah maka Allah akan menjagamu, jagalah Allah maka engkau akan mendapatkan Allah di hadapanmu, apabila engkau meminta maka mintalah kepada Allah, apabila engkau memohon pertolongan maka mintalah kepada Allah”
Dalam hadits ini menunjukkan perhatian beliau yang besar dalam mendidik anak kaum muslimin. Terlebih bagi mereka yang telah menjadi kepala keluarga, wajib bagi mereka mengajarkan agama Allah baik berupa tauhid, akhlaq, adab, dsb karena semuanya adalah tanggung jawab dari orang tua. Saat rasulullah melihat seorang anak kecil yang makan dengan adab yang jelek, maka beliau bersabda
“Wahai anak kecil, apabila engkau makan maka bacalah bismillah, makanlah dengan tangan kananmu, makanlah mulai dari yang dekat denganmu.”

Demikianlah Rasulullah memberikan pelajaran kepada anak-anak kaum muslimin dengan pelajaran yang diperintahkan oleh Allah. Sebelum datang suatu hari yang menghancurkan dunia ini, hari dimana seseorang akan lari dari saudaranya sendiri, dari bapak dan ibunya, dan dari istri dan anak-anaknya. Pada hari inilah kita mempertanggung jawabkan kehidupan kita di dunia, kita tidak bisa lagi mendidik anak-anak kita karena kesempatan tersebut hanya di dunia saja. Pendidikan anak-anak perlu kita perhatikan karena merekalah kebahagiaan atau kesedihan bagi kita.

“Sesungguhnya harta dan anak-anak kalian adalah fitnah”
Karena itu disamping kita mendidik dan mengarahkan anak-anak kita kepada Islam, tentunya kita tetap menyerahkan hasilnya kepada Allah. Karena yang dapat memberikan hidayah hanyalah Allah. Allah yang akan menentukan mereka mendapat petunjuk atau menjadi tersesat.

Ketika Nabi Isa baru lahir dan ditanya oleh Bani Israil, maka Nabi Isa menjawab, “sesungguhnya aku adalah hamba Allah, Allah yang telah memberikan kepadaku Al Kitab dan menjadikan aku sebagai Nabi. Dan menjadikan aku diberkahi dimanapun aku berada, dan Allah yang mewasiatkan kepadaku untuk menegakkan shalat dan zakat selama aku masih hidup.”

Kemudian dari pernyataan Nabi Isa tersebut dapat kita ketahui bahwa Allah-lah yang telah menjadikan beliau sebagai orang yang shalih, sebagai seorang Nabi, dan sebagai orang yang menerima kitab suci. Kemudian perkataan Nabi Isa yang lainnya:
“Dan Allah yang telah menjadikan aku sebagai anak yang berbakti kepada orang tuaku dan tidak menjadikan aku sebagai orang yang keras dan kasar.”

Maka apabila kita mengetahui hal ini seharusnya kita berusaha sebaik-baiknya, memohon pertolongan kepada Allah, agar anak keturunan kita dapat menjadi generasi yang shalih. Pertolongan dari Allah kita perlukan karena hidayah itu hanya datang dari Allah, bahkan Nabi Nuh tidak dapat memberikan hidayah kepada anaknya.

Berkata Nabi Nuh terhadap anaknya, “Wahai Anakku, marilah berlayar bersamaku, dan janganlah kamu bersama orang yang kafir”, jawab anaknya, “Aku akan berlindung ke puncak gunung yang dapat menjauhkan aku dari air”. Nabi Nuh berkata, “Pada hari ini tidak ada yang dapat terjaga dari perintah Allah kecuali yang disayangi oleh Allah. Wahai Rabbku sesungguhnya anakku adalah termasuk dari keluargaku, dan sesungguhnya janjimu adalah benar dan engkau adalah Dzat yang maha bijaksana”, jawab Allah, “Wahai Nuh, sesungguhnya dia bukan termasuk dari keluargamu, karena dia beramal yang tidak baik. Maka jangan engkau meminta kepada-Ku sesuatu yang engkau tidak memiliki ilmu di dalamnya, sesungguhnya Aku mengingatkanmu agar engkau tidak termasuk orang-orang yang bodoh”, jawab Nabi Nuh, “Wahai Rabbku, kalau seandainya engkau tidak mengampuni dan dan menyanyangi aku maka benar benar aku akan menjadi orang orang yang merugi.”

Akan tetapi seorang anak yang shalih dapat menjadi sebuah permata yang sangat indah. Seperti Nabi Ismail terhadap Nabi Ibrahim, ketika Nabi Ibrahim berkata, “Wahai Anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu, bagaimana pendapatmu? Wahai Bapakku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu, dan niscaya engkau akan mendapatiku termasuk orang orang yang bersabar.”

Lihatlah bagaimana jawaban dari anak yang shalih kepada bapak yang shalih, padahal mereka berdua diperintahkan untuk mengerjakan suatu hal yang sangat berat. Demikianlah kisah dari keluarga yang shalih, apabila seorang anak telah dijadikan sebagai seorang yang shalih oleh Allah, maka hal tersebut mungkin akan menjadi sebab baiknya kedua orang tuanya, tetapi apabila anak tersebut jelek, mungkin hal tersebut akan menjadi sebab kekafiran kedua orang tuanya.

Sebagaimana Allah telah mengingatkan kita dalam kisah Nabi Khidr dan Nabi Musa. Ketika Allah memerintahkan Nabi Khidr untuk membunuh seorang anak kecil, kemudian nabi Musa berkata, “Kenapa engkau membunuh seorang jiwa padahal dia tidak membunuh jiwa yang lain ?, sungguh Engkau telah melakukan sesuatu yang mungkar”, jawab Nabi Khidr, “Bukankah sudah aku katakan bahwa Engkau tidak akan mampu bersabar bersamaku ?”.

Kemudian di akhir kisah Nabi Khidr menjelaskan alasannya. Beliau melakukan hal tersebut karena anak kecil yang beliau bunuh sesungguhnya memiliki dua orang tua yang shalih. Dan beliau takut anak tersebut akan memaksa kedua orang tuanya menuju kekafiran, maka beliau ingin agar Allah memberikan ganti anak yang lebih shalih dan lebih penyayang kepada kedua orang tuanya.

Pada ayat ini disebutkan bahwa seorang anak dapat menjadi sebab kekafiran kedua orang tuanya. Maka anak adalah jaminan terhadap kelurusan agama kita, oleh karena itu barang siapa yang ingin istiqomah di dalam agama ini, maka hendaknya dia mendidik anaknya dengan keshalihan, karena hal tersebut diharapkan menjadi penyebab Allah memberikan kebaikan kepada kedua orang tuanya.


Khutbah ke dua.

Dan termasuk kebiasaan orang yang shalih adalah berdoa agar keturunannya diperbaiki agamanya.

“Wahai Rabb kami, berikanlah kepada kami dari istri dan anak sebagai pelembut dan penenang jiwa kami. Dan jadikanlah kami semua (suami, istri dan anak) sebagai pemuka orang yang bertakwa.”

Rasulullah mendoakan Hasan dan Usamah bin Zaid dalam hadits riwayat imam Bukhari, “Ya Allah, sesunggguhnya aku mencintai keduanya, maka cintailah kedua anak ini.”
Demikian pula doa beliau terhadap Abdullah bin Jafar, “Ya Allah, jadikanlah pada keluarga Jafar kebaikan, dan berkahilah Abdullah pada tangan kanannya.”
“Ya Allah, berilah kepada Anas bin Malik harta dan anak yang banyak, dan berkahilah kepada yang engkau berikan kepada mereka.”

Dan doa beliau terhadap Abdullah bin Abbas, “Ya allah pahamkanlah dia dengan agama, dan pahamkanlah dia dengan tafsir.”

Dan termasuk hal yang harus kita perhatikan dalam pendidikan anak kita adalah jangan sampai kita mengeluarkan suatu ucapan yang jelek, bagaimanapun keadaan kita. Ketika Rasulullah mendengar seseorang melaknat untanya, maka Rasulullah bertanya kepada sahabatnya, “Siapa yang tadi melaknat ?, saya, turunlah engkau dari untamu, jangan engkau menyertai kami dengan sesuatu yang telah dilaknat, janganlah kalian mendoakan keburukan bagi diri diri kalian, anak-anak, dan harta kalian, jangan sampai ketika kalian berdoa kejelekan tersebut bertepatan dengan waktu yang Allah mengabulkan doa tersebut.”

Isnin, Mac 12, 2012

SIMPANG TAQWA

"Apa itu taqwa?" tanya Umar al-Khattab kepada Ubai bin Ka'ab Radhiyallahu 'anhuma.
"Pernah kamu susuri jalan yang penuh duri?" balas Ubai dengan suatu pertanyaan yang menduga.
"Pernah saja," jawab Umar.
"Apa yang kamu lakukan?" pintas Ubai.
"Aku angkat sedikit pakaianku, dan melangkah dengan hati-hati," jawab Umar lagi.
"Itulah taqwa!" simpul Ubai bin Ka'ab terhadap soalan Umar al-Khattab tentang taqwa.

Halus perbincangan taqwa ianya seolah-olah satu jisim yang menyerupai bakteria ikhlas. Diibaratkan sebagai seekor semut hitam di lorong yang gelap, tiada siapa yang menyedari kehadirannya melainkan Allah s.w.t, kerana itu ikhlas dijadikan rahsia simpanan kepada asas pertimbangan neraca mizan kelak.

Ikhlas bukan sahaja boleh rosak atau batal di awal perbuatan iaitu pada niatnya namun kata- kata, tindak-balas pada reaksi atau komen orang lain juga sedikit sebanyak menggugat ikhlas kepada amalan tersebut.

Ikhlas bererti suci dan murni tanpa noda melainkan disandarkan hanya pada Yang Esa. Namun, perkongsian kali ini bukanlah berkisar mengenai ikhlas sebaliknya pemahaman tentang konsep taqwa dalam iman.

Seorang muslim itu beriman jika dia bertaqwa dan bukan hanya kerana memegang pangkat yang tinggi atau memiliki bakat yang hebat atau kerana keturunannya yang disanjung.

Sebaliknya Allahs.w.t telah firman ;
"Sesungguhnya semulia-mulia kamu di sisi Allah ialah orang yang lebih takwanya di antara kamu, (bukan yang lebih keturunan atau bangsanya). Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, lagi Maha Mendalam PengetahuanNya (akan keadaan dan amalan kamu)" (Surah Al-Hujurat ayat 13)

Definisi taqwa bermula dari kalimah waqa- yaqi- wiqoyah yang membawa maksud memelihara, melindungi, takut dan berjaga- jaga. Sesuai dengan pemahaman mendalam terhadap definisi tersebut bahawa taqwa berperanan sebagai penjaga diri dan pelindung tetapi bukan penakut kepada diri seorang muslim.

Sebaliknya di dorong rasa 'takut' kepada Allah s.w.t dengan sentiasa berusaha untuk mentaati segala suruhan dan menjauhi larangan-Nya malah yang paling utama berkorban untuk menjunjung syariat yang diturunkan dan bukan bersifat mempersendakannya atau mengabaikannya atau meringankan sesuatu hukum biarpun sudah mengetahui mengenainya secara teliti dan jelas.

Di situlah taqwa berfungsi iaitu dalam merasakan kemanisan iman dan tidak berasa susah untuk menurutinya walaupun jika menurut pandangan akal manusia ia adalah perbuatan yang sukar seperti bertudung, solat dan puasa serta lainnya.
Seruan taqwa setiap minggu dilaungkan oleh Khatib dalam Khutbah Jumaat malah ia adalah rukun khutbah. Saya yakin setiap muslim menyedari kedudukan 'rukun' dalam pelaksanaan ibadah. Oleh yang demikian, secara tidak langsung membuktikan bahawa peringatan taqwa adalah amat penting untuk sekalian muslim supaya diterapkan dalam kehidupan dan bukan hanya disimpan dalam telinga setiap minggu namun kefahaman mengenainya terus dipekakkan.

Allah telah berfirman dalam surah ali-Imran ayat 102 yang bermaksud ;
" Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dengan sebenar-benar takwa dan jangan sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan Islam. "
Bagaimana?

Jawapan mudah yang boleh diringkaskan iaitu berilmu, beramal soleh dan beriman. Renung- renungkan perkara ini di mana tahapnya pada diri kita. Melalui perkara ini seorang muslim mungkin dapat melihat penilaian koreksi taqwanya samada pada tahap ;

• Taqwa awwam - masih terpengaruh dgn nafsu amarah walaupun mujahadah masih ada.
• Taqwa khawas - terdedah kepada nafsu lawwamah, menerima virus maksiat batin dan menyemai mazmumah walaupun ia mengetahui ketuanan sifat- sifat tersebut menyumbang kepada kerugian amal dan kerapuhan titian menuju redha-Nya.
• Taqwa khawasul khawas - nafsu mutmainnah iaitu jiwa yang tenang daripada maksiat zahir dan batin

Setiap tahap ini meletakkan batu perbezaan pada satu sempadan iaitu nafsu, semakin tinggi dan kukuh sempadan nafsu semakin rendah kedudukan taqwanya kerana sempadan nafsu telah menutupi penglihatan iman untuk melihat simpang taqwa dan membiarkan ilmu tergadai di 'kedai kejahilan' sekaligus menurunkan 'had kelajuan' amal soleh untuk ke simpang itu.

Sememangnya sukar untuk membawa diri ke simpang itu namun sedarilah bahawa kesusahan itu hanya sebentar iaitu tatkala nyawa dikandung badan, tapi apabila nyawa meninggalkan jasad segala kesusahan itu juga yang menjadi kebahagiaan yang abadi.
Jika kita takut atau terlalu memanjakan perasaan dan jiwa duniawi pada usia yang berbaki ini, cepatlah ingatkan semula atau muhasabah kembali bahawa tiada hidup kedua atau nyawa kedua setelah ia berakhir.

Awalnya mungkin terasa berat namun apabila ia dihidayahkan Allah s.w.t akan kemanisan iman, saat itu senyuman taqwa dan tawa iman akan terus menemani hari- harimu.

Sesungguhnya janji Allah s.w.t telah berfirman yang bermaksud ;
"Kalau kamu beroleh kebaikan (kemakmuran dan kemenangan, maka yang demikian) menyakitkan hati mereka dan jika kamu ditimpa bencana, mereka bergembira dengannya. Dan kalau kamu sabar dan bertakwa, (maka) tipu daya mereka tidak akan membahayakan kamu sedikitpun. Sesungguhnya Allah meliputi pengetahuanNya akan apa yang mereka lakukan. " (Surah ali-Imran ayat 120)

Allah pelindung,
Allah jua pemelihara,
Biar susah tidak terbendung,
kerana cinta-Nya ku gagahi jua.
Tuntutlah ilmu walau ke Negeri China,
Teruskan ia hingga ke hujung,
SIMPANG TAQWA simpang redha-Nya,
Iman, ilmu dan amal menjadi penghubung.

Ahad, Mac 04, 2012

Akidah terpesong jika percayakan al-Quran sekadar penghalau hantu



MASYARAKAT kini dimomokkan ayat al-Quran untuk ‘menghalau hantu’, sedangkan Islam mahu umatnya mengetahui keseluruhan al-Quran. Paling malang, 
anak kecil jadi takut ke bilik air selepas menonton cerita seram

HAMPIR setiap hari kita dihidangkan cerita seram sama ada drama di kaca televisyen, atau filem di layar perak hingga menjadi fenomena baru dalam industri filem tanah air. Penerbit berlumba-lumba menerbitkan drama dan filem seram kerana percaya bakal mendapat sambutan dan mempunyai khalayak yang sentiasa ternanti-nantikan cerita seumpamanya. Filem seram walaupun mendapat sambutan hebat, mewujudkan kebimbangan ia boleh memesongkan akidah kerana terlalu percaya bahawa kuasa ghaib ini boleh 'membantu' manusia mencapai hajat mereka

Sebahagian besar masyarakat kita juga seolah-olah ketagih untuk menonton filem seram kerana rasa takut menyeronokkan dan terhibur sekali gus melupakan seketika masalah dihadapi.

Menonton filem seram umpama makan cili api atau makan sambal belacan, walaupun pedas sehingga mengalir air mata, namun terus dijamah, kata pendakwah bebas, Datuk Zawawi Yusof.

Menurutnya, filem seram memberikan keuntungan besar kepada penerbit dan pada masa sama menjadi satu gejala kerana menimbulkan ketakutan melampau kepada orang ramai terutama kanak-kanak.
Beliau yang juga pakar motivasi, berkata kesan emosi kepada penonton begitu kuat seperti takut di tempat sunyi dan gelap, jika ada kedengaran bunyi atau berlaku sesuatu mereka terus beranggapan wujud makhluk halus.

“Jin atau hantu yang dipaparkan dalam filem dilihat mempunyai kuasa hebat sehingga boleh menguasai apa saja dan membuat anak takut pada kehidupan harian kerana percaya di sekeliling mereka ada kuasa jahat.

“Filem seram juga membuka ruang kepada golongan tertentu untuk mencari bomoh termasuk yang mengamalkan ilmu hitam kononnya dapat menghalang kuasa jahat lain juga di kalangan jin dan iblis, sepatutnya kita takut kepada kuasa Allah SWT,” katanya.

Lebih malang, masyarakat melihat ayat al-Quran hanya digunakan untuk menghalau hantu, sedangkan al-Quran diturunkan sebagai panduan hidup manusia sejagat.

Beliau berkata, disebabkan penggunaan ayat al-Quran dipaparkan sebegitu, sesetengah umat Islam hanya mempelajari ayat yang dapat menghalau hantu seperti ayat Kursi sehingga kurang minat mempelajari ayat suci lain.

Katanya, minda masyarakat kini dikongkong hasil menonton filem seram dan penerbit filem terus mengambil kesempatan menghasilkan filem seumpamanya. Beliau berharap penerbit filem juga menghasilkan filem yang membina pemikiran masyarakat terutama mengandungi unsur positif.

“Penerbit filem seram juga wajar mendapat pandangan mufti dan alim ulama bagi memastikan ia tidak bercanggah dengan akidah Islam dan dapat memberi pengajaran kepada penonton,” katanya.

Pengarah Institut Sosial Malaysia, Prof Madya Dr Mohd Fadzil Che Din, berkata filem seram menyebabkan ketakutan bebas atau open fear di kalangan masyarakat sehingga memberi kesan psikologi terutama kanak-kanak.

Beliau berkata, ketakutan bebas membantutkan sikap positif. Sebagai contoh jika kanak-kanak rajin seperti membantu keluarga ke kedai, tetapi kini mereka tidak mahu melakukannya kerana bimbang dalam perjalanan di tempat gelap diganggu hantu. Kesan menonton filem seram akan melekat dalam pemikiran mereka seperti wajah hodoh hantu dan ia tertanam dalam kotak rujukan dalaman seseorang.

Dr Mohd Fadzil berkata, ketika era 60-an, 70-an dan 80-an, kita dihidangkan dengan filem seram yang hanya menunjukkan gambar rupa hantu menakutkan dan dirasuk, tetapi era kini ia menjadi lebih sadis dan tragis dengan berlaku pembunuhan.

Malah, katanya, keadaan sama wujud dalam filem seram yang dihasilkan di negara jiran dan filem Barat dengan wujud elemen tahyul seperti pari-pari, bidadari, haiwan boleh bercakap yang jelas boleh menimbulkan kecelaruan dalam dunia nyata.

“Saya melihat dalam filem seram tempatan akan juga berlaku perkara yang sama kerana ia sudah pasti satu fenomena kurang baik kepada masyarakat dan jika orang ramai mempercayainya ia akan menjadi khurafat,” katanya.

Jika diamati ada benarnya pendapat dua pakar ini kerana apabila dirujuk kembali beberapa filem seram kebelakangan ini, sudah ada elemen yang mencurigakan dan boleh dipertikaikan, malah lebih teruk, mungkin juga boleh memesongkan akidah. Apa tidaknya, sering dipaparkan kemampuan hantu membunuh manusia.

Persoalannya, benarkah hantu boleh membunuh dan mengambil nyawa manusia? Bukankah hantu adalah syaitan dan berdasarkan kisah iblis, ia hanya berjanji untuk menyesatkan anak Adam, bukan membunuh anak Adam dan bukankah urusan membabitkan nyawa adalah milik Allah.

Itulah yang mungkin perlu diberi perhatian. Mereka yang gemar menonton filem seram mungkin kuat tertanam dalam minda mengenai kehebatan dan kekuatan kuasa. Benar, semua kesudahan filem seram menunjukkan kebaikan mengatasi kejahatan tetapi ceritanya pula menunjukkan sebaliknya apabila ramai nyawa terkorban kerana kehebatannya.

Senario ini perlu diberi perhatian. Mungkin benar, filem seram adalah fenomena dunia dan ia genre popular tetapi tidak salah jika penerbit dan pengarah filem menggarapnya sebaik mungkin supaya tidak tersasar daripada akidah sebenar.

Oleh Ridzuan Yop dan Azrul Affandi


Recent Posts